Sinergi Penanganan Pandemi Sumbar-Riau

Pandemi Covid-19 belum berlalu. Di seluruh dunia trennya bahkan cenderung meningkat sejak beberapa bulan terakhir. Banyak pengamat kesehatan dan pakar epidemiologi mengasumsikan fenomena ini sebagai gelombang kedua dari pandemi.

Hingga naskah ini ditulis (7/11 malam), tercatat sudah 433.836 orang yang terpapar (bertambah 4.262) di negara kita, urutan ke-21 sedunia. Mengerikan, jumlah ini di Asia adalah nomor empat terbanyak, setelah India (8.464.032). Iran (673.250) dan Irak (496.019). Ini sekaligus merupakan rekor jumlah tertinggi untuk wilayah Asia Timur dan Tenggara.

Baca Juga

Sementara angka kasus aktif yang sedang menjalani isolasi baik mandiri maupun di institusi kesehatan (rumah sakit, klinik, dan lain sebagainya), berjumlah di kisaran 54.879 jiwa , atau sekitar 12,6% dari total kasus (worldometers.info). Yang menggembirakan, tingkat kesembuhan di negara kita masih tinggi, tercatat sudah  364.417  yang sembuh. Itu berarti persentasenya mencapai 84%, cukup jauh di atas rata-rata dunia yang mencapai 71%. Di sisi lain, telah ada sebanyak 14.540 jiwa yang berpulang menemui sang maha pencipta diakibatkan pandemi mengerikan ini.

Melalui worldometer.com kita dapat pula menelisik data terkini jumlah total dari berbagai aspek sekaitan pandemi Covid-19. Dari segi total kasus, pertanggal 7 November ada sebanyak 49.803.207 orang yang terpapar, dengan jumlah terbanyak masih ditempati oleh Amerika Serikat, sebanyak 10.064.684 orang. Sementara negara lain yang mengikuti di belakangnya adalah India (8.464.032), Brazil (5.632.505), Rusia (1.753.836), dan Prancis (1.661.853).

Yang menarik, tingkat persentase keterpaparan persejuta penduduk ternyata ditempati oleh Andorra (66.422), diikuti Bahrain (48. 224), Qatar (47.729), dan  Aruba (42.815). Adapun alasan negara-negara tersebut menduduki posisi 5 besar kemungkinan besar disebabkan jumlah penduduk yang sangat kecil, namun jumlah kasus lumayan besar. Sementara Indonesia menduduki urutan  35 besar di dunia dalam hal ini, yaitu 1.580 orang persejuta penduduk, jauh di bawah rata-rata dunia yang 6.389 orang persejuta penduduk.

Tren Sumbar

Sumbar sebenarnya di awal bergejolaknya pandemi Covid-19 sempat mendapat pujian, karena di samping jumlah kasus yang rendah, persentase kesembuhan termasuk tertinggi sementara persentase dan jumlah yang meninggal pun termasuk terendah. Tidak itu saja, berbagai pihak, baik pengamat kesehatan, maupun pemerintah pusat pun pernah memuji penanganan kasus di provinsi ini sebagai yang terbaik. Terbukti dari pengendalian tren terpapar yang cenderung tidak melonjak, masifikasi tes swab yang termasuk paling besar di Sumatra, tracing (pelacakan) di setiap klaster bagi jaringan suspek kasus yang gencar.

Di samping itu, (kala itu) provinsi kita termasuk yang paling pro-aktif di awal pandemi dalam hal meminta disposisi untuk status PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), terbukti, pada 22 April 2020 mulai diberlakukan PSBB di Sumbar, waktu itu hanya ada dua provinsi yang disahkan pemberlakuan PSBB, yaitu Sumbar dan DKI, ditambah 16 kota/kabupaten di berbagai daerah di Indonesia. Di bulan Mei, menyusul pula kota Padang menerapkan PSSB, sehingga siapa pun yang keluar dan masuk Padang di waktu itu selalu di-screening secara ketat. Alhasil, di sepanjang April hingga Juli, kasus Covid-19 di Sumbar tidak begitu besar, dan peringkatnya paling tinggi hanya di kisaran 16-20 senasional.

Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, sejak sekitar pertengahan Agustus (dua minggu setelah Idul Adha yang bertepatan pada 31 Juli 2020) terjadi peningkatan luar biasa dalam hal jumlah kasus terpapar. Harian Kompas pun, sempat menurunkan laporan khususnya mengenai fenomena ini pada 3 September 2020, bertajuk ‘Waspada Lonjakan Sumbar’. Kota Padang, yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan predikat Merah, akhirnya mendapatkan predikat itu juga pada Agustus minggu ketiga.

Tidak itu saja, rekor jumlah terpapar Covid-19 semakin hari semakin berturut-turut terpecahkan, mulai dari 23 Agustus, kemudian 6 September. Puncaknya, pada 12 Oktober 2020 sebanyak 341 kasus ditemukan di Sumbar (saat itu nomor dua senasional setelah DKI Jakarta) di mana 229 di antaranya ditemukan di Padang, dan 28 kasus lainnya di Kabupaten Agam. Tak pelak, kedua daerah mendapat status merah dalam beberapa minggu. Lebih dari itu, sejumlah kepala/pejabat daerah pun diberitakan terkontaminasi virus, walaupun nyaris seluruhnya berhasil sembuh.

Kini, meskipun secara umum jumlah kasus perhari di provinsi ini terbilang menurun dari minggu dan bulan sebelumnya, tetap penting menyimak tren negatif di sepanjang September-Oktober lalu yang kini masih berjejak disebabkan secara nasional Sumbar kini  itu membuat Sumbar kini menjadi penyumbang jumlah terbanyak kasus Covid-19 di Sumatra, setelah sebelumnya di bawah Sumatra Utara dan Sumatra Selatan.

Tidak itu saja, menaiknya tren negatif di provinsi kita di September dan Oktober ‘disaingi’ pula oleh provinsi tetangga, Riau, yang sejak awal September selalu ganti-berganti menduduki posisi terbanyak di luar Jawa dalam hal jumlah kasus harian Covid-19. Jika bukan Sumbar yang urutan keempat (setelah DKI, Jatim, Jateng dan atau Jabar), maka sudah pasti Riau membuntuti di belakangnya, atau sebaliknya, Riau di atas Sumbar, dan Sumbar menempel di belakang.

Sebagai sampel, pada 4 November, Riau dan Sumbar menduduki posisi 5 dan 6 secara nasional dalam hal penambahan kasus baru Covid-19, dengan beda hanya 2 angka, yaitu 172 dan 170 kasus. Sementara pada 7 November 2020, Sumbar 167 kasus (urutan ke-6), Riau 165 kasus (urutan ke-7). Sementara itu, jika dilihat perkembangan kasus kumulatif sejak awal pandemi hingga saat ini, Sumatera Barat menunjukkan tren penurunan persentase kasus meninggal (juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam siaran pers Jumat , 6/11).

Sinergi dan Koordinasi Sumbar-Riau

Berdasarkan data terkini mengenai daftar peringkat jumlah positif Covid-19 senasional, maka Sumbar kini menduduki urutan keenam se-Indonesia, di bawah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan. Sementara urutan ketujuh adalah  Riau. Perlu dicatat, rentang jarak jumlah antara Sumbar dan Riau kini hanya dalam dua digit, dalam artian puluhan (60-70 orang).

Data ini tentu sangat penting untuk diperhatikan dan jangan dijadikan data sambil lalu saja. Ingat, Riau dan Sumbar secara geografis merupakan provinsi saling berbatasan, bertetangga, batasnya benar-benar bersebelahan, menempel di tengah Sumatra. Secara kultural, kekerabatan dan kedekatan budaya menyebabkan mobilitas manusia antar kedua provinsi sangat tinggi. Perilaku sosial pun mirip. Tidak bisa dibantah, orang asal Sumbar banyak bermukim di Riau, demikian pula sebaliknya. Secara ekonomi, kedua provinsi pun saling tergantung. Riau menyuplai komoditi pangan dan pertanian dari Sumbar. Sumbar selalu butuh komoditi elektronik serta perangkat keras lainnya dari Riau.

Sudah cukup jelas, seluruh faktor tersebut pasti ada pengaruh dan dampaknya terhadap sama meningginya jumlah positif Corona di kedua provinsi. Dituntut peran yang lebih proaktif dan kolaboratif antar kedua pemimpin eksekutif Riau dan Sumbar. Jika kita mau belajar dari bagaimana koordinasi antar Gubernur DKI Jakarta dan Jawa Barat terjalin saat pandemi bermula di kedua provinsi, maka sudah sepatutnya pula hal yang sama diimplementasikan di Sumbar dan Riau.

Tidak ada jalan lain yang lebih efektif selain perlunya duduk bersama antara Gubernur kedua provinsi dalam mencari strategi mangkus meredam lonjakan positif Corona di kedua provinsi.  Kebijakan ini mendesak dilakukan, karena diyakini jika pun masing-masing provinsi berusaha keras melalui berbagai cara berusaha menekan tren negatif Covid-19, namun jika mobilitas manusia antar kedua provinsi masih tinggi, maka usaha apa pun kuat dugaan akan sia-sia.

Zona merah di kedua provinsi berisiko membuat warganya berpindah sementara ke provinsi tetangga, demikian pula sebaliknya, sehingga virus itu bagai lingkaran setan, berputar di kedua wilayah dan sangat berpotensi menyebar virus ke klaster-klaster baru. Salah satu kebijakan yang perlu dipikirkan untuk dilaksanakan adalah screening ketat di perbatasan dengan melibatkan stake-holder terkait, selain tentu saja kerja sama lebih nyata dalam hal tracing klaster dan masifikasi tes swab secara sinergis. [*]


Mohammad Isa Gautama
Pengajar Sosiologi Komunikasi dan Sosiologi Media di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Terpopuler