Saya Jalan-Jalan Karena…

Pengantar

“Jalan-jalan” Ini akan jadi kolom tetap di Padangkita.com. Hadir sekali sepekan. Pertimbangannya sederhana, jalan-jalan atau berwisata – sering juga disebut traveling – bukan lagi sekadar hobi.

Jalan-jalan, kini sudah menjadi lifestyle (gaya hidup), bahkan bagi generasi milenial, jalan-jalan adalah kebutuhan. Itu sebabnya, segala hal yang menyangkut jalan-jalan atau travel, menjadi penting.

Di kolom ini, sang penulis, Hariatni Novitasari, berupaya tak menggurui. Ia hanya akan berbagi pengalaman dengan pembaca tentang jalan-jalan yang dia perani sendiri.

Siapa Novi – Hariatni Novitasari? Berlatar belakang sebagai peneliti, Novi, sebenarnya adalah pecinta makanan yang suka berjalan kaki yang jauh. Kebiasaannya ketika sedang traveling, mengunjungi tempat yang tidak terlalu touristy dan sebanyak mungkin menikmati dan melakukan apa yang orang lokal (kota yang dikunjungi) lakukan.

Dia lebih sering berada di café-café yang di gang sempit daripada di pusat perbelanjaan.

Novi pernah tinggal di Saint Louis, Missouri, AS selama dua tahun. Berbekal pengalaman dua tahun ini, Novi setidaknya sudah mengunjungi separuh negara bagian, atau 25 negara bagian AS.

Selain AS, negara dan kota yang pernah dia kunjungi antara lain, Belanda, Jerman, Chekoslovakia, Italia, Swiss, Perancis, Korea Selatan, Jepang, dan tentu saja negara-negara di Asia Tenggara.

Mimpi yang akan diwujudkan Novi adalah berjalan 1,000 Km di Camino de Santiago dalam waktu beberapa tahun ke depan. Termasuk menyusuri jalan-jalan di kota-kota negara benua Afrika. (*)


Jalan-jalan Padangkita.com: Hariatni Novitasari

Hariatni Novitasari
Penulis


Ada berbagai macam alasan mengapa orang traveling. Ada yang karena pekerjaan. Ada yang karena ingin menjelajah dunia. Ada yang karena ingin berlibur. Ada yang karena ingin exist dan tidak mau kalah dari temannya. Dan masih banyak alasan lainnya.

Kalau saya, alasannya sederhana, karena ada tiket promo atau mengunjungi teman. Jadi, tujuan traveling ditentukan oleh tiket promo yang tersedia, atau tempat teman saya tinggal. Bagi saya, jika kita sudah memiliki tiket, 50 persen rencana perjalanan kita sudah selesai.

Lalu, setelah ada tiket, apa saja yang harus kita persiapkan sebagai independent traveler? 

Waktu Perjalanan

Jika kita ingin bepergian ke negara empat musim, menentukan waktu perjalanan sangatlah penting. Bagi penduduk negara tropis seperti Indonesia, biasanya paling suka pergi waktu musim dingin. Biar bisa melihat salju. Tetapi, saya tetap memilih musim panas (summer) atau awal musim gugur, dan kurang suka musim dingin.

Alasannya sederhana: saya tidak suka dingin. Musim dingin juga membuat siang menjadi pendek dan barang bawaan kita menjadi berat karena harus membawa coat. Ohya, sekedar informasi, udara di Eropa sangatlah enak jika musim panas. 

Tujuan Detail Perjalanan

Karena saya biasanya membeli tiket pesawat yang dari dan balik ke Indonesia, saya belum memikirkan nanti akan kemana saja di negara tujuan. Misalnya saja, untuk perjalanan ke Eropa di 2016 dan 2019, saya hanya membeli tiket pergi pulang (PP) dari Kuala Lumpur – Schiphol atau Jakarta – Zurich. Sedang di Eropa, saya belum tahu ingin kemana saja.

Tujuan bagi saya tidak masalah, yang penting efisien. Untuk menentukan kota mana saja yang disinggahi di benua itu, biasanya saya akan buka peta Eropa, dan dicari kota-kota yang terkoneksi. Artinya, gampang didatangi dari satu tempat ke tempat lainnya.

Untuk ini, biasanya ada beberapa alternatif loop tujuan yang dipertimbangkan berdasarkan kemudahan transportasi dan biaya akomodasi yang masuk akal. Yang paling masuk akal dari segi waktu dan biaya akan dijadikan tujuan.

Seperti pengalaman ke Eropa 2019. Awalnya berencana ke: Swiss – Jerman – Austria – Liechtenstein. Ternyata, apa-apa serba mahal disini. Akhirnya loop diubah, Swiss – Jerman – Italia. Meskipun memutar agak jauh, dari segi biaya masih masuk akal, terutama di Italia.

Transportasi

Amsterdam Centraal. (Foto: Hariatni Novitasari)

Seperti yang sudah disinggung di atas, transportasi adalah faktor yang harus kita pikirkan. Seperti kita akan berkeliling dengan menggunakan moda transportasi apa ke kota-kota di negara tujuan.

Apakah akan naik bis, kereta, ataukah pesawat. Kalau di Eropa, meskipun benua cukup luas, tapi transportasi gampang. Sudah hampir seluruh negara terkoneksi dengan jaringan kereta api.

Tidak ketinggalan bis. Jika dibandingkan dengan kereta api, harga tiket bis biasanya lebih murah. Salah satu bis yang biasa saya gunakan ketika di Eropa adalah FlixBus.

Bis yang bermarkas di Berlin ini sudah banyak menyediakan rute untuk kota-kota di hampir di seluruh Eropa, termasuk ke negara bekas pecahan Yugoslavia seperti Slovenia.

Hanya saja, ketika memutuskan naik bis, ada beberapa resiko. Misalnya, terminal bis terletak di luar pusat kota. Di Berlin misalnya, terminal ada di ZOB. Dari pusat pusat kota ke ZOB, kita butuh naik kereta hampir satu jam. Atau, tidak di semua negara memiliki terminal permanen seperti layaknya di Indonesia.

Jadi, siap-siap tersiksa jika kita harus menunggu bis pada waktu musim dingin. Kereta sebenarnya lebih enak karena stasiun ada di pusat kota. Tetapi, harga tiketnya jauh lebih mahal. Untuk membandingkan transportasi, salah satu website yang bisa di-check adalah www.omio.com. 

Teman Jalan

Fall Augsbrug Germany. (Foto: Hariatni Novitasari)

Nah, ini penting sekali. Jika Anda memutuskan tidak traveling sendirian, memilih teman jalan yang “tepat” sangatlah penting. Tidak semua teman atau orang yang kita kenal bisa menjadi travel mate yang menyenangkan. Karena, tiap orang beda-beda interest dan ketersediaan duitnya.

Ada yang suka belanja. Ada yang suka ke museum. Ada yang suka jajan. Ada yang suka belanja. Dan banyak perbedaan lainnya. Pastikan masalah ini dikomunikasikan di awal dan dicoba cari solusinya.

Akomodasi

Airbnb Prague. (Foto: Hariatni Novitasari)

Saat ini sangatlah mudah untuk memesan akomodasi sendiri secara online. Kita bisa melakukan pemesanan secara online baik melalui booking.com ataupun Airbnb.com, tinggal tergantung preferensi kita saja. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat suka menggunakan Airbnb.

Hanya saja, karena ada beberapa kelemahan, saya kembali memilih menggunakan hotel atau guest house. Kelemahan Airbnb diantaranya adalah kita harus membayar cash ketika memesan akomodasi, tidak semua tempat bisa nitip bagasi, tidak ada resepsionis stand by, dan terkadang lokasi agak di daerah pinggiran.

Saya dulu lebih memilih Airbnb karena butuh tempat dengan mesin cuci, dapur, dan sebagainya, yang fasilitas ini tidak disediakan oleh hotel.

Sebenarnya solusinya sekarang bisa memilih guest house atau aparthotel jika traveling dengan banyak teman. Selain menyediakan fasilitas-fasilitas seperti yang di Airbnb, mereka juga tersedia resepsionis meskipun tidak di lokasi yang sama.

Asuransi Perjalanan

Jika kita traveling ke beberapa negara, seperti negara-negara Schengen, memiliki asuransi perjalanan adalah satu persyaratan di dalam visa. Untuk di negara seperti Jerman, asuransi perjalanan apa yang bisa digunakan sudah mereka tentukan.

Meskipun saya tidak traveling ke negara yang mewajibkannya, saya terbiasa membelinya. Bukan kita berharap yang jelek, tetapi buat jaga-jaga semisal kita ada kehilangan, delay pesawat atau kereta, sakit di negara tujuan, dan sebagainya. Saya belum pernah melakukan klaim untuk asuransi perjalanan ini, tetapi beberapa teman sudah pernah memanfaatkannya.

Visa

Nah, ini dia urusan dokumen yang kadang membutuhkan waktu untuk mempersiapkan syarat-syaratnya yang terkadang menyebalkan, baik kita sebagai independent traveler atau dengan menggunakan tur.

Di banyak negara, syarat-syarat hampir sama, seperti rekening koran tabungan di bank selama 3 bulan, surat keterangan kerja bagi yang karyawan, dan sebagainya.

Tetapi, ada hal-hal khusus yang berbeda tiap negara. Misalnya Korea Selatan. Negara ini mewajibkan kita untuk melampirkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak.

Pengurusan visa ini juga bisa gampang-gampang susah. Kadang kita dapatnya dengan mudah dan di-granted multiple entry untuk beberapa tahun.

Kadang, ditolak dengan alasan tidak jelas meskipun syarat kita sudah lengkap. Jadi, kalau sudah urusan visa, berdoa saja yang banyak. 

Uang Saku

Menikmati kuliner di Paris. (Foto: Dokumentasi Hariatni Novitasari)

Last but not least, uang saku tentunya. Tiap orang bisa berbeda-beda jumlahnya. Jika suka jajan seperti saya, uang saku pasti saya habiskan untuk ngopi dan beli jajan.

Di Eropa misalnya, untuk per hari jatah rata-rata buat makan, jajan, ngopi, sight-seeing, dan transport lokal berkisar antara EUR 50 – 100. Untuk oleh-oleh? Lupakan, karena saya tidak pernah beli oleh-oleh.

Nah, inilah hal-hal yang biasanya saya persiapkan sebagai independent traveler. Ada hal yang masih terlewat? Silahkan Anda tambahkan! (*)


Baca catatan perjalanan Hariatni Novitasari hanya di Jalan-jalan Padangkita.com.