600 KM Hanya Tiga Jam

Ketika memilih tidak jadi naik ICE – kereta cepat Jerman – dari Hannover ke Berlin 2016 lalu, saya sangat menyesal. Tiket sudah di tangan. Namun saya malas buat pindah kereta dari IC Belanda ke ICE. Pada 2019, saya tebus kekecewaan itu dengan beberapa kali naik kereta cepat italo ketika traveling di Italia.

Terbius oleh film Before Sunrise tentang romantisnya naik kereta api, jika traveling ke suatu negara saya lebih memilih untuk naik kereta api dibandingkan bus apabila harganya terjangkau dan waktunya efisien.

Meskipun naik bus di luar negeri lebih nyaman dibandingkan dengan di Indonesia, naik kereta api lebih banyak keuntungan. Misalnya, stasiun letaknya di tengah kota. Kereta juga relatif lebih cepat karena mereka juga tidak harus lewat jalan raya atau jalan tol yang sering kali macet. Di banyak negara juga sudah memiliki kereta cepat.

Kelemahan naik kereta adalah, terkadang tiketnya mahal. Dan, tidak semua tempat bisa terjangkau oleh kereta api. Kalaupun iya, kita harus berganti beberapa kali. Seperti misalnya, ketika kami akan pergi ke Munchen dari Freiburg.

Jika kami naik kereta api, kami harus transfer kendaraan sebanyak empat kali. Jika naik bus, kami hanya butuh duduk empat jam, dan tidak perlu ganti-ganti, dan sampai di Munchen. Dan ternyata, ongkosnya juga lebih murah. Hanya EUR15.

Dari yang saya alami di Jerman, memang tiket bus harganya sering kali lebih murah. Saya pernah mendapatkan tiket Megabus – budget bus di Amerika Serikat –  dari Boston ke Washington DC seharga USD2 pada saat tahun Baru untuk perjalanan 9 jam. Sayangnya, bus di luar negeri tidak semuanya punya pemberhentian atau terminal.

Flix Bus di Terminal ZOB, Berlin
Flix Bus di Terminal ZOB, Berlin. [Foto: Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Untuk berhenti, mereka biasanya memiliki pit-stop yang kadang dekat dengan stasiun pusat. Namun, ada juga yang lokasinya di daerah pinggiran yang jauh dari mana-mana. Di Kota Saint Louis Amerika Serikat misalnya, Megabus memiliki pit stop dekat dengan Union Station.

Di titik poin ini, bus dengan warna biru ini hanya menaikkan dan menurunkan penumpang dengan rute perjalanan Kansas City – Chicago (PP). Karena tidak punya terminal ini, bisa dibayangkan jika menunggu bus pada saat musim dingin. Brrrrr…. Bisa beku dan beser. Ini pernah saya alami ketika menunggu Flixbus untuk perjalanan dari Zurich ke Freiburg.

Italo yang Tercepat

Di dalam italo, kereta cepat Italia
Di dalam italo, kereta cepat Italia. [Foto: Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Dari pengalaman saya naik kereta api dalam banyak traveling, yang tercepat adalah perjalanan dari Milan ke Roma (dan sebaliknya) dengan naik italo. Dengan kereta cepat milik perusahaan Italia ini, jarak Milan ke Roma yang 600 KM bisa ditempuh hanya dengan waktu 3 jam lebih sedikit.

Untuk harga, memang tergolong mahal. Jika kita naik di jam sibuk – biasanya sore hari – harganya bisa EUR70. Tetapi, jika kita naik di jam-jam yang tidak sibuk, harganya bisa berkisar EUR40-an. Karena rute Milan – Roma ini merupakan rute panjang dan ramai, sudah sewajarnya harga mahal.

Namun, tidak selamanya kereta cepat mahal. Saya pernah mendapatkan tiket EUR13 dengan italo dari Verona ke Milan untuk perjalanan juga satu jam lebih sedikit. Akan tetapi, dari beberapa pengalaman naik kereta api di Italia, kadang kala orang ngawur dengan duduk di sembarang tempat meskipun tiket sudah diberi nomor kursi (assigned seats).

Dan, orang Italia kadang kala sangat keras kepala dan tidak mau pindah ke seat jatah dia. Namun, dari seluruh pengalaman naik kereta cepat, yang paling enak adalah naik KTX dari Busan ke Seoul. Selain perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, tempat duduk sangat besar dengan leg room yang super luas. Bisa dipahami, orang Korea banyak yang tinggi-tinggi.

Pemandangan Sungai Nakdong dari kereta api Daegu ke Busan
Pemandangan Sungai Nakdong dari kereta api Daegu ke Busan. [Foto: Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Tidak selamanya perjalanan dengan kereta api itu selalu cepat. Kadang kala, naik kereta api bisa menjadi perjalanan yang sangat panjang dan membutuhkan kesabaran ekstra. Selain kereta lambat dari Munchen ke Verona, perjalanan terpanjang dengan kereta api pernah saya alami dari Chicago ke New York City di Amerika Serikat.

Kereta api Amtrak berangkat dari Kota Angin pukul 9 malam, dan sampai di Big Apple pukul 9 malam di hari berikutnya. Dalam perjalanan ini, kereta api beberapa kali berhenti dalam waktu yang lama karena ada pemeriksaan oleh Imigrasi, karena wilayahnya berbatasan dengan Kanada.

Dan, tidak sedikit orang yang di dalam kereta harus main kucing-kucingan dengan petugas karena mereka tidak memiliki dokumen resmi untuk berada di Amerika Serikat. Benar-benar sebuah pengalaman yang sangat dramatik kala itu. Mirip dalam film-film Hollywood.

Perjalanan saya belum “seberapa” panjang dibandingkan dengan penumpang-penumpang lainnya. Dalam perjalanan arah sebaliknya, saya pernah bertanya kepada penumpang yang ingin pergi ke LA dari New York City. Dia menjawab, “Dua hari….” It’s just wow!

Dalam perjalanan dua hari ini, penumpang ini akan beberapa kali mengalami perpindahan zona waktu. Dan, seenak-enaknya naik kereta api, pasti akan mati gaya, apalagi jika melakukan perjalanan sendirian.

Sebenarnya, naik bus tidak selamanya buruk – selain perjalanan yang terkadang macet. Kalau lama tidaknya, sebenarnya tergantung dengan tujuan kita. Pengalaman naik bus yang benar-benar membuat saya kebat-kebit adalah dari Berlin ke Dresden. Saya lebih memutuskan naik bus karena mendapatkan tiket Flixbus seharga EUR4, dan karena di Dresden hanya “singgah” untuk beberapa jam, saya tidak mau naik yang mahal-mahal.

Sore harinya saya memiliki tiket kereta api untuk pergi ke Praha. Sayangnya, karena macet di jalan tol, bus yang seharusnya sampai pukul 11.30, harus sampai di Dresden pukul 13.00. Untung masih terkejar untuk naik kereta api ke Praha sore harinya.

Namun, selain pengalaman ini, pengalaman naik juga juga tidaklah dramatik. Banyak yang menyenangkan. Salah satunya di Korea Selatan. Bus antar kota di Negeri Ginseng ini memiliki leg room yang luas dan tempat duduk yang besar – seperti halnya di kereta apinya.

Tapi, jika dibandingkan di negara lainnya, tiketnya memang lebih mahal. Untuk perjalanan dari Incheon ke Gangneung di Gangwondo tiketnya seharga KRW34,000. Beneran, lebih nyaman dibandingkan di tempat lainnya.

Bagi saya, naik moda kendaraan apa saja tidak akan menjadi masalah ketika traveling. Naik bus enak. Naik kereta apalagi. Syaratnya hanya satu, kita tidak sedang terburu-buru. [*]


Hariatni Novitasari
Penulis

Terpopuler