Roti, Roti Terus, Nasinya Mana?

K

alau traveling di negara bule, roti adalah makanan yang sering kita temui dalam tiga kali makan. Makan roti di tiap jam makan adalah masalah yang sering kita temui jika orang Asia traveling di negara bule. Tidak orang Indonesia saja yang menganggap nasi adalah hal yang kultural, tetapi juga orang Thailand, Korea, dan negara Asia lainnya.

Yah, nasi memang tendangannya beda dengan roti. Meskipun rotinya juga sudah diisi macam-macam. Jika makan nasi, perut kita bisa menjadi lebih tenang. Bagi kita, roti adalah camilan.

Bagi orang yang sudah benar-benar tergantung dengan nasi, banyak yang mbelani membawa rice cooker dan beras ketika traveling. Tujuannya jelas, agar mereka bisa memasak nasi di negara tujuan.

Atau sekarang kita sudah sering lihat, orang-orang yang membawa nasi instan seperti buatan CJ Foods, Korea. Tinggal masukkan di microwave, nasi hangat sudah di depan kita dan siap santap dalam hitungan menit.

Jika di gerai-gerai makan cepat saji yang di Indonesia menjual nasi dan ayam, tidak demikian di negara bule. Belum tentu mereka menjual nasi.

Mereka biasanya akan menjual potongan ayam, burger, atau menu lokal lainnya. Sekali saya pernah ketemu KFC yang menjual ayam disertai dengan nasi di daerah Marienplatz di Munchen.

Sebagai pencinta roti, saya tidak masalah makan roti untuk sehari-hari ketika traveling. Bahkan, ketika akan pergi ke negara bule, cita-cita saya satu: makan roti-roti dan dessert enak sepuasnya.

Saya juga tidak keberatan untuk makan masakan lokal yang ada. Seperti pasta, pizza, steak, atau hutspot di Belanda.

Makan menu lokal di Paris, Prancis.
Makan menu lokal di Paris, Prancis. [Foto: Dokumentasi Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Jika sedang jalan-jalan, saya lebih memilih makan menu lokal dibandingkan menu Asia lainnya. Karena, menu lokal di negara bule tidak mungkin kita jumpai di Indonesia. Dan, rasanya lebih enak di negara asalnya. Belum lagi, masakan Asia di negara bule kadang tidak seenak di negara aslinya karena rasa mengikuti selera lokal. Seperti misalnya, lebih manis dan tidak pedas.

Kalau sedang di Paris, tentu saja saya lebih memilih beef bourguignon dibandingkan nasi goreng seafood di rumah makan China.

Sesuka-sukanya saya dengan roti, biasanya, setelah hari ketujuh, saya pasti melipir cari nasi entah di warung Thailand atau Timur Tengah. Yang penting ketemu buliran padi itu bisa menghilangkan pusing di kepala. Meskipun hanya makan sekali itu. Ini terjadi ketika saya ke Eropa pada 2016 ketika sampai di Paris. Mood saya sudah naik turun tidak karuan karena kurang tendangan dari nasi.

Sebelum sampai di Paris, sebelumnya saya sudah muter di Amsterdam, Berlin, dan Praha, dan tidak ketemu nasi sebulir pun.

Di Paris, beruntung saya menginap di daerah dekat Stasiun Gare du Nord (Paris North) yang banyak imigran Timur Tengah atau Afrika Utara di daerah ini. Melipir saya ketemu restoran Timur Tengah, makan nasi biryani dan ayam tandoori. Seketika, pusing saya hilang. Paling tidak setelah makan nasi ini, saya sudah bisa makan masakan Prancis yang terkenal enak itu.

Tujuh Euro Demi Nasi

Menu nasi di restoran Thailand di Augsburg, Jerman.
Menu nasi di restoran Thailand di Augsburg, Jerman. [Foto: Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Di cerita yang lain lagi. Ketika saya terbangun suatu pagi di Munchen, saya bilang ke teman seperjalanan, “Kita harus makan nasi pagi ini.” Dia setuju saja. Karena musim dingin, rasa lebih cepat lapar lebih sering menghantui dibandingkan waktu musim panas.

Karena kami menginap di daerah pinggiran – Trudering, tidak mungkin bisa menemukan restoran Asia, apalagi sepagi itu. Kami teringat jika di dekat stasiun Trudering ada rumah makan Turki. Rumah makan Turki akan menjual kebab, doner, durum, dan sebagainya. Mereka pasti punya nasi, karena butuh untuk isian menu wrap.

Kami melipir ke situ. Untung sudah buka. Hanya saja, ketika pagi, daging masih belum siap, masih dipanggang. Menunya sangat terbatas. Entah apa saja, si Mas yang di belakang meja tidak bilang. Kami juga tidak paham menu di restoran kebab jika pagi hari. Tapi yang jelas, kami tidak bisa makan daging pagi itu.

We just need rice…” Kita bilang ke dia intinya.

Dia mengangguk, “And vegetables?”

Yes, please….” Akhirnya si Mas sibuk menaruh nasi segunung dan sayuran yang tidak kalah banyaknya juga. Satu piring besar sudah penuh dengan nasi dan sayuran yang sudah mau runtuh saja.

Seven Euro, please…..” Kita bayar saja. Tapi ngehek dan ngakak dalam hati, nasi sama sayur Rp100 ribu. Tidak apa-apa. Yang penting kami dapat nasi. Sebenarnya, kalau kita pesan seperti nemu yang mereka tawarkan malah tidak semahal itu. Paling berkisaran EUR5 – EUR6 saja. Itu pun kita sudah dapat daging. Bisa milih apakah mau daging sapi, ayam, ataupun kambing.

Mungkin, karena kita tidak memilih makanan berdasarkan menu, Mas-nya juga bingung memberikan harga berapa kepada makanan yang kita pesan. Nasi dan sayuran senilai Rp. 100 ribu itu akhirnya kami makan dengan lahap, tanpa tersisa. Mahal soalnya.

Pada 2010 ketika saya mulai tinggal di Amerika Serikat, mulailah sakau nasi setelah beberapa hari tiba di Negeri Paman Sam itu. Ketika pergi ke supermarket, menjumpai beras dengan merek “Uncle Ben.” Saya bahagia luar biasa ketika melihat beras. Tidak pernah sebahagia itu rasanya. Akhirnya, saya beli satu. Berasnya model bulir besar, panjang-panjang, dan sudah dimasak setengah matang.

Arancini.
Arancini. [Foto: Hariatni Novitasari untuk Padangkita.com]
Tidak seperti beras di Indonesia yang pulen itu. Saya coba masak di rice cooker. Tidak ada rasanya. Teksturnya juga kasar. Kalau orang Jawa akan bilang, nasi pero. Mungkin saya tidak tahu cara memasaknya.

Setelahnya, saya kapok lagi membeli, memasak, dan memakannya. Saya baru memasak dan memakan nasi lagi ketika saya mendapati beras Thailand yang saya temui di toko Asia. Setelah itu saya baru merasa kalau Amerika Serikat sudah menjadi seperti rumah. Setelah beneran ketemu nasi. [*]


Hariatni Novitasari
Penulis

Terpopuler

Add New Playlist