Menyulap Sampah Jadi Uang dengan Budidaya Black Soldier Fly

Penulis: Rina Akmal

Berita Limapuluh Kota hari ini dan berita Sumbar hari ini: Indolarva merupakan salah satu kelompok budidaya larva lalat Black Soldier Fly 

Sarilamak, Padangkita.com– Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, mungkin istilah ini tepat disematkan pada Pengelola Indolarva Frima Santhos.

Indolarva merupakan salah satu kelompok budidaya larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot di di Nagari Sungai Antuan, Kecamatan Mungka, Limapuluh Kota, Sumbar.

Diketahui, Larva dan dewasa tidak dianggap sebagai hama maupun vektor. Sebaliknya, larva lalat memainkan peran sebagai pengurai penting dalam menghancurkan substrat organik dan mengembalikan nutrisi ke tanah.

Larva memiliki nafsu makan yang rakus dan dapat digunakan untuk membuat kompos sisa makanan rumah tangga dan produk limbah pertanian.

Selain itu, larva lalat BSFL merupakan sumber protein alternatif untuk budidaya pakan ternak.

Selain membantu mengurangi volume sampah, Indolarva juga menghasilkan sumber daya berharga lain yang disebut frass. Frass larva lalat adalah residu butiran dan tidak berbau yang dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Selain itu, olahan sampah organik yang dikumpulkan dan difermentasi juga dijadikan untuk makanan BSF.

Pengelola Indolarva Frima Santhos menjelaskan, siklus hidup BSF secara total hanya sekitar 45 hari, mulai dari telur sampai ke lalat dewasa. Metamorfosa maggot bsf ini yaitu dari telur, larva, prepupa, pupa dan bsf.

Seekor lalat betina biasanya menghasilkan 500-900 butir telur. Sedangkan untuk mendapatkan 1 gram telur, membutuhkan setidaknya 14-30 BSF. Untuk 1 gram telur, akan mampu menghasilkan 3-4 kg maggot atau larva.

Friman juga merinci siklus pembentukan maggot mulai dari telur, ditetaskan di bak penetasan selama satu Minggu. Lalu Minggu kedua masuk ke bak pembesaran, dua Minggu di bak pembesaran. Minggu ke-tiga menjadi Pupa.

“Jadi disini kami memilah ada calon indukan dan calon produksi. Calon indukan ada wadah tersendiri dan untuk produksi dalam wadah khusus pula,” kata Rabu (21/4/2021).

Dia mengatakan, setiap harinya maggot diberi makan dari sampah organik yang sudah digiling dan difermentasi.

Sampah tersebut dikumpulkan dari sisa pembuangan di pasar Mungka dan sekitarnya.  1 gram maggot butuh 9 kilogram sampah organik hingga panen.

“Maggot produksi untuk pakan ikan dan ayam. Saat ini belum kami jual, namun kami sudah coba untuk hasil produksi maggot kering,” terangnya.

Sementara itu, owner Indolarva Hirmon menjelaskan, budidaya maggot BSF ini dilakoni oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) RAHMAT sejak Maret 2020.

Dari 14 anggota kelompok perikanan ini, 4 orang telah mulai budidaya. Mereka telah menetapkan budidaya maggot sebagai unit usaha baru dari Pokdakan dan memberi nama Indolarva.

“Maggot ini makan sampah sayuran, buah-buahan di pasar. Pokoknya yang bersifat organik dimakannya,” terangnya.

Kata Hirmon, setiap hari maggot membutuhkan sekitar 10 ton sampah yang dikumpulkan dari pasar Mungka dan pasar lain yang dekat dari lokasi budidaya.

Saat ini hasil budidaya belum mereka jual, hanya untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan dan ayam.

“Selain bisa mengurai sampah sampai ke Tempat Penampungan Akhir (TPA), persoalan pakan yang selama ini kami rasakan terjawab,” tuturnya.

Menurutnya, pakan dari maggot untuk ikan dan ayam lebih bagus dibanding pakan pabrik. Ikan dan ayam cepat besar menjadi salah satu keuntungan pakan alternatif dari maggot.

“Kemudian sisa makan maggot bisa untuk pupuk organik, karena menghasilkan pupuk padat dan cair,” ungkapnya.

Kendala saat ini mereka masih harus mengumpulkan sampah dan dibawa ke tempat pengolahan. Sebab alat penggiling mereka tidak bisa dibawa ke tempat sampah.

“Kalau bisa ada alat penggilingan yang langsung dibawa ke pasar, sehingga proses penggilingan bisa dilakukan ditempat dan hasil penggilingan dibawa ke penangkaran,” katanya.

Menurut Kepala Dinas DLH Sumbar Siti Asiyah, target pengurangan sampah 70 persen akan tercapai jika daerah mampu menciptakan budidaya baru di kabupaten dan kota masing-masing.

Apalagi budidaya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi pengelolanya.

“Kami ingin menumbuhkan semangat kawan-kawan di daerah untuk menyelesaikan persoalan sampah. Salah satunya dengan budaya maggot ini, kawan-kawan di daerah bisa melakukan pembinaan kepada kelompok perikanan,” ujarnya.

Baca juga: Seorang Bocah SD di Limapuluh Kota Hilang Misterius, Berbagai Spekulasi Muncul di Tengah Masyarakat

Untuk itu Dinas Lingkungan Hidup Sumbar mendorong kelompok masyarakat untuk budidaya maggot. [rna]

Baca berita Limapuluh Kota hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler