Berwisata dengan Cuaca

Sudah saatnya kita yang memiliki wisata alam yang berlimpah ini memakai aspek cuaca dan iklim sebagai faktor penting dalam memajukan pariwisata. Dengan demikian cuaca dan iklim adalah sumber daya yang dieksploitasi oleh pariwisata dan sumber daya yang dapat diukur.

Pernahkah Anda punya pengalaman salah kostum ketika berwisata? Misalkan memakai baju warna hitam saat menikmati wisata pantai di tengah hari yang teri. Karena Anda tidak mengetahui sifat fisis benda yang berwarna hitam dan informasi cuaca, maka kegiatan yang semestinya membuat anda puas mungkin akan berakhir dengan kekecewaan.

Benda hitam cenderung menyerap radiasi dari matahari. Sensasi yang akan Anda rasakan adalah merasa lebih panas dibandingkan orang yang memakai baju warna putih.

Pernahkah Anda punya pengalaman salah waktu ketika berwisata? Misalkan Anda hendak menikmati indahnya terumbu karang di Propinsi Bangka Belitung. Sesampai ditempat yang dituju, pihak pengelola wisata berkata, “Maaf Pak kapal kami tidak bisa melaut karena sekarang musim barat!”

Bisa Anda bayangkan betapa kecewanya dengan penyataan tersebut. Anda sudah jauh-jauh berwisata selain menghabiskan uang banyak, juga membuang waktu dengan percuma.

Kegiatan wisata yang semula dimaksudkan untuk menghilangkan stres oleh rutinitas sehari-hari, malah bisa berakhir bertambah stres.

Dua contoh kasus di atas adalah bentuk kegiatan wisata yang minim informasi terutama informasi cuaca.

Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau lebih dikaruniai alam yang indah dan menawan. Memiliki banyak wisata alam seperti pantai, laut, danau, sungai, gunung, kebun raya dan lain sebagainya. Barangkali sedikit belahan dunia lain yang bisa menandingi keindahan alamnya. Bahkan ada yang menyebut negara kita dengan sebutan surga yang terjatuh ke Bumi.

Indonesia yang terletak di khatulistiwa mempunyai iklim tropis. Sepanjang tahun matahari bersinar lebih kurang 12 jam. Curah hujan yang tinggi menyebabkan pola iklimnya adalah hutan hujan tropis.

Hutan hujan tropis memiliki flora dan fauna paling variatif. Inilah karunia Tuhan pada negara kita yang bisa mendatangkan devisa, namun jika tidak dikelola dengan baik maka kita tergolong orang yang merugi.

Pengelolaan pariwisata di Indonesia sudah tergolong bagus, terbukti dengan peringkat sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa negara terus meningkat.

Data yang dikeluarkan oleh Kemenpar (2018), devisa dari sektor pariwisata tahun 2011 dan 2012 menempati urutan kelima setelah migas, batu bara, minyak kelapa sawit dan karet olahan.

Devisa tahun 2011 sebesar US$ 8,554 miliar dan tahun 2012 sebesar US$ 9,12 miliar (meningkat 6,6%).

Tahun 2013-2015 sektor pariwisata menempati urutan keempat dengan masing-masing nilai devisa US$ 10,054 miliar (2013), US$ 11,166 miliar (2014) dan US$ 12,225 miliar (2015), dimana terjadi peningkatan devisa sebesar 11,1% dan 9,5%.

Perolehan devisa negara dari sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan minyak kelapa sawit.

Devisa pada tahun 2016 sebesar US$ 13,568 miliar (meningkat 11%) berada di posisi kedua setelah minyak kelapa sawit US$ 15,965 miliar.

Bukan tidak mungkin tahun 2020 pariwisata bisa menduduki peringkat pertama.

Menurut Nyaupane & Chhetri (2009), industri pariwisata sangat sensitif terhadap cuaca dan iklim dikarenakan hal ini berkaitan dengan keputusan kemana wisatawan akan memilih tujuan wisatanya. Jika kita ingin jujur, apakah dalam memutuskan kemana kita akan berwisata sudah memasukkan faktor cuaca dan iklim? Barangkali jawaban yang paling banyak adalah kita memutuskan berwisata disaat libur sekolah atau akhir pekan.

Kita mungkin belum menganggap penting faktor cuaca dalam memutuskan destinasi wisata. Namun jika terjadi dua contoh kasus di atas baru kita sadar bahwa cuaca dan iklim punya peran penting.

Pentingnya informasi cuaca akan sangat membantu kita dalam mengambil keputusan.

Prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam memutuskan kemana akan berwisata. Begitu juga dengan pengelola kawasan wisata, informasi cuaca juga bisa membantu untuk meningkatkan pemasukan finansial dan mutu layanan wisata.

Sebagai contoh adalah wisata burung migrasi. Pada musim tertentu ada sekawanan burung yang berasal dari kawasan sub-tropis bermigrasi ke wilayah Indonesia (tropis). Jika pengelola wisata bisa memanfaatkan momen ini, bukan tidak mungkin ini akan menjadi sumber pundi-pundinya.

Burung-burung ini bermigrasi bukan hanya menghindari suhu dingin semata, tetapi juga mencari makan untuk melangsungkan hidupnya. Suhu dingin mengakibatkan cadangan makanan mereka berkurang.

Sudah saatnya kita yang memiliki wisata alam yang berlimpah ini memakai aspek cuaca dan iklim sebagai faktor penting dalam memajukan pariwisata. Dengan demikian cuaca dan iklim adalah sumber daya yang dieksploitasi oleh pariwisata dan sumber daya yang dapat diukur.

Dengan cara ini cuaca dan iklim dapat diperlakukan sebagai aset ekonomi untuk pariwisata. Aset ini dapat diukur dan merupakan sumber daya yang mampu  dinilai.

Tapi ada banyak masalah, salah satunya adalah pemilihan kriteria meteorologi atau klimatologi. Misalnya, apa sebenarnya kriteria untuk kondisi ideal, cocok, diterima, atau tidak dapat diterima?

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi tempat wisata atau rekreasi? Jenis pakaian apa yang harus digunakan untuk mengunjungi tempat wisata?

Bahaya apa yang diakibatkan untuk dunia wisatra jika terjadi cuaca atau iklim ekstrem?

Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Hanya setelah kriteria cuaca dan  iklim yang sesuai diidentifikasi dengan jelas dapat menjawab semua pertanyaan tersebut.

Sudah siapkah kita berwisata dengan cuaca?


Nofi Yendri Sudiar
Doktor pada prodi Klimatologi Terapan IPB dan dosen Fisika Universitas Negeri Padang