Seandainya ada Jembatan Selat Sunda, Macet Panjang Mudik di Pelabuhan Merak dapat Dihindarkan?  

Penulis: Isran Bastian

Jakarta, Padangkita.com – Penumpukan kendaraan yang memicu kemacetan panjang terjadi di Pelabuhan Merak pada mudik Lebaran Idul Fitri 1443H/2022 ini. Hal ini dikarenakan jutaan kendaran yang dipakai pemudik menuju Pulau Sumatra hanya mengandalkan pelabuhan tersebut.

Meskipun pemerintah menambah kapasitas dermaga dengan menjadikan Pelabuhan Ciwandan milik Pelindo Banten difungsikan untuk pemudik, macet masih saja terjadi. Lalu untuk jangka panjang bagaimana solusinya?

Andai saja pulau Jawa dan Sumatra dihubungkan dengan jembatan, tentunya kemacetan atau penumpukan kendaraan dapat sedikit dihindari, hanya saja rencana pemerintah membangun Jembatan Selat Sunda (JSS), masih sebatas wacana dalam belasan tahun belakangan.

Dirangkum Padangkita.com, rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda sudah mengemuka sejak tahun 2013. Saat itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, butuh waktu lama untuk merampungkan JSS, pasalnya jembatan tersebut bukan hanya sekedar jembatan penyeberangan biasa.

Dia memprakirakan, butuh waktu sekitar 10 tahun untuk merampungkan semua Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS).  KSISS yang diperkirakan akan menelan dana hingga Rp200 triliun. Saat itu ditargetkan akan rampung pada 2025.

“Ini yang dibagun bukan jembatan penyeberangan, bukan  jembatan yang ada di Thamren, studynya aja setahun,” ujarnya di Kementerian Perekonomian, Jakarta, Selasa (23/7/2013) silam.

Lebih lanjut ia mengatakan, karena bukan hanya sekedar jembatan  penyebrangan biasa maka dari itu pemerintah mencari pola terbaik yang tidak akan  membebani ekonomi Indonesia.

“Kalau dana APBN digunakan Rp200 triliun untuk bagun  JSS, orang Kalimantan, Papua, Aceh akan  marah. Karena mereka mau bangun jembatan, bagun waduk di daerah mereka saja masih antre,” tuturnya.

Dalam proses pembagunannya, dia meminta agar proses pengerjaannya direalisasikan secara transparan dan pengelolaan governancenya juga harus baik. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir terjadinya praktek tidak sehat dalam  proyek  ini.

Namun sayang, sampai saat ini  pemerintah belum memutuskan akan menggunakan opsi mana untuk pembangunan KSISS ini. Apakah  menggunakan dana APBN atau  menggunakan pemrakarsa dan BUMN.

Diketahui, sebelumnya pemerintah telah memprediksi Pelabuhan Merak di Banten dan Pelabuhan Bakauheni di Lampung bakal menjadi titik terpadat pada mudik 2022.

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi memprakirakan jalan dari Bekasi menuju Semarang dan penyeberangan Merak-Bakauheni menjadi dua titik utama di Indonesia, yang perlu diantisipasi secara khusus. Di dua titik ini diprediksi akan terjadi kepadatan.

Menhub mengatakan, sektor darat menjadi titik krusial dari penanganan kelancaran arus mudik dan balik lebaran, karena berdasarkan survey yang dilakukan Balitbanghub sekitar 47 persen dari 85,5 juta orang yang diprediksi akan melakukan mudik akan menggunakan jalur darat, baik kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) maupun angkutan darat (bus, angkutan penyeberangan, dan lain-lain).

Baca Juga: Tinjau Macet Pelabuhan Merak, Menko PMK Pastikan Semua Pemudik Terangkut

Baca Juga: Pesta Pantai Sikabau Makan Korban, Sekeluarga Meninggal Dunia

Data sementara yang dihimpun Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menunjukkan, secara total, jumlah penumpang kumulatif di semua moda angkutan Senin (25/4/2022) atau H-7 hingga Minggu (1/5/2022) atau H-1 kemarin, sudah mencapai 5.188.779 penumpang. Jumlah ini masih lebih kecil dengan perbandingan 7 %, jika dibandingkan dengan pergerakan penumpang kumulatif pada periode yang sama di tahun 2019 sebesar 5.576.540 penumpang. [*/isr]

Terpopuler

Add New Playlist