Melihat Masjid As Sa’adah Nagari Gurun, Dibangun 1910 Bersamaan dengan Pabrik Semen Padang

Penulis: Redaksi

Batusangkar, Padangkita.com – Sumatra Barat (Sumbar) punya banyak masjid bersejarah. Salah satunya adalah Masjid As Sa’adah yang berada di Nagari Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.

Dari bangunan luar saja, masjid ini sudah terlihat dibangun sejak lama. Ornamen masjid ini terdiri dari campuran budaya. Mulai dari ciri khas kolonial Belanda, China, Minang, dan tentu saja ada nuasa Islam.

Hingga kini, masjid ini masih berdiri megah dan dimanfaatkan untuk salat berjemaah lima waktu dan berbagai kegiatan keagamaan.

Salah seorang tokoh masyarakat Nagari Gurun, A. Jufri yang ditemui Padangkita.com, menyampaikan masjid tersebut mulai dibangun 1 Januari 1910 dan memakan waktu 7 tahun untuk menyelesaikannya.

A. Jufri di gerbang dengan latar Masjid As Sa’adah. [Foto; David/Padangkita]
“Menurut informasi dari orangtua saya dan pendahulu lainnya, masjid ini mulai dipergunakan untuk beribadah 1 Januari 1917, pas tujuh tahun setelah mulai dibangun, dan uniknya semen yang digunakan adalah Semen Padang yang  juga baru berdiri tahun 1910,” ungkap Jufri kepada Padangkita.com, selepas salat Ashar, Selasa (5/4/2022).

Jufri menambahkan, Masjid As Sa’adah dibangun atas sumbangan masyarakat setempat dan sumbangan Datuak Paduko Intan yang di masa itu merupakan salah satu orang kaya di kampung tersebut.

“Sekilas memang bangunan masjid yang telah berusia 112 tahun ini memiliki kemiripan arsitektur dengan masjid Raya Nagari Rao-Rao Kecamatan Sungai Tarab, karena memang tukang (bangunan) kedua masjid orang yang sama,” ujarnya.

Masjid yang telah dinyatakan sebagai cagar budaya ini berjarak sekitar 5 km dari Kota Batusangkar, Ibu Kota Tanah datar dengan akses jalan cukup lebar dan mudah dtemui karena berada di tengah permukiman warga.

Jufri juga memastikan, beberapa bagian masjid masih berupa bangunan asli semenjak awal dibangun dahulu, karena sudah termasuk salah satu cagar budaya di Tanah Datar.

“Beberapa kali ada masyarakat perantau ataupun masyarakat setempat yang berkeinginan masjid ini dipugar atau dibangun baru, namun urung. Walaupun begitu, masjid ini tetap menjadi kebanggaan kami masyarakat Gurun ini,” ujarnya.

Selain perlengkapan untuk salah dan ibadah lainnya, di masjid tersebut juga terdapat dua lemari kaca yang berisi kelengkapan untuk keperluan penyelenggaraan jenazah.

“Dalam lemari itu ada kapas, kain kafan sampai wangi-wangian yang bisa dipakai masyarakat,” kata Jufri.

Sudah Tercatat di BPCB Sumbar

Balai Pelestarian Cagar Budaya (Purbakala) atau BPCB Sumbar telah mencatat bangunan Masjid As Sa’adah sebagai cagar budaya dengan Nomor Inventaris 41/BCB-TB/A/12/2007 berdenah bujursangkar.

Dari bagian fisiknya, atap masjid berupa atap tumpang bersusun lima yang melambangkan lima suku, yakni suku Bendang, Koto Anti, Koto, Piliang, Patapa, dan Koto.

Pada bagian dalam masjid terdapat 4 tiang menggunakan bambu sebagai penyangga. Pintu masuk masjid sebanyak 2 buah dan jendela 6 buah.

Lantai dalam Masjid As Sa’adah masih berupa lantai semen biasa sedangkan lantai bagian luar/teras sudah diganti dengan lantai keramik berwarna putih. Pada bagian samping kiri masjid terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat mengambil air wudu.

Baca juga: Cerita Masjid Tua yang “Hilang” di Galogandang Tanah Datar, Diliputi Kisah Misteri Turun-temurun

Bagian menara masjid memakai gonjong yang berjumlah 4 buah. Lantainya terbuat dari tegel dengan motif flora khas kolonial Belanda. [djp/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist