Cerita Masjid Tua yang “Hilang” di Galogandang Tanah Datar, Diliputi Misteri

Penulis: Irfan Denas

Batusangkar, Padangkita.com – Masjid tertua di Minangkabau pernah berdiri di Jorong Galogandang, Nagari Tigo Koto, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat (Sumbar).

Bangunannya kini memang sudah “hilang”. Namun sisa-sisa bangunan berupa tapak masih dijaga oleh masyarakat. Bekas lokasi masjid itu dinamakan “Tampaik Masjid Tuo”.

Di atasnya, berdiri sebatang pohon jambu kaliang dan formasi beberapa bongkah batu yang tampak seperti jirat atau penanda makam.

Lokasinya di tengah areal persawahanan yang membentang luas ke arah utara perbatasan Jorong Galogandang. Tampaik Masjid Tuo dapat mudah terlihat karena tampak seperti munggu. Ada gerbang penanda masuk menuju lokasi.

Tampaik Masjid Tuo Galogandang.

Saat Padangkita.com berkunjung Kamis siang (31/3/2022), tujuh orang petani sedang menyabit padi mereka di sekitar tampaik. Beberapa yang lain duduk beristirahat.

Adrizal, salah seorang dari mereka menyebutkan, kisah masjid tua yang pernah berdiri di Galogandang sudah menjadi cerita turun-temurun.

“Ratusan tahun yang lalu, di sini berdiri sebuah masjid. Dulu masjid tertua di Minangkabau,” katanya.

Adrizal tidak bisa memperkirakan kapan masjid itu berdiri dan bagaimana ceritanya masjid bisa hilang. Orang-orang tua yang masih hidup yang pernah ia temui juga mendapati masjid sudah tidak ada.

“Pernah saya tanya ke orang tua yang usianya 100 tahun lebih. Dia mengenang ketika dia kecil, besar pohon yang tumbuh di lokasi bekas masjid sudah seperti ini,” ujar Adrizal menunjuk batang pohon jambu setinggi 10 meter.

Perkataan Adrizal dibenarkan rekannya yang lain yang merupakan warga Galogandang.

“Kakek saya juga sudah tidak melihat lagi bentuk masjid,” ujar Neliardi.

Bongkahan batu di Tampaik Masjid Tuo Galogandang. [Foto: Irfan Denas/Padangkita]
Menurut Neliardi, meskipun tidak ada lagi struktur bangunan yang mengindikasikan dulunya pernah ada sebuah masjid, warga Jorong Galogandang tetap merawat keberadaannya.

“Dulu jalan ke lokasi ini, hanya jalan setapak. Sekarang sudah dikeraskan dengan cor,” terangnya.

Terkait beberapa bongkah batu yang menyerupai jirat makam, Neliardi mengaku tidak tahu.

“Kalau ini makam, kami tidak tahu siapa yang dimakamkan di sini,” kata dia.

Meskipun demikian, imbuhnya, ada beberapa orang-orang yang rutin datang berkunjung ke situs tampaik. Mereka ada yang berdoa atau bernazar.

“Biasanya menjelang bulan Ramadan ini atau setelah Lebaran Idulfitri, mereka ruitn datang,” ungkap Neliardi.

Sehabis panen, lanjut dia, petani juga mengadakan syukuran di tampaik.

“Syukuran, bantai kambing. Jadi, yang punya lahan sawah berkumpul dan makan bersama,” terangnya

Sejarah keberadaan Masjid Tuo Galogandang tidak hanya diselimuti misteri, tetapi juga diliputi cerita-cerita yang tidak bisa dinalar akal.

Neliardi mengatakan, meski secara fisik bangunan masjid sudah tidak ada, tapi pada masa dahulu pernah ada seseorang yang mampu melihat masjid tersebut.

Orang tersebut, kata dia, melihat masjid saat sedang menunaikan ibadah haji di Makkah.

Adrizal, warga Galogandang. [Foto: Irfan Denas/Padangkita]
“Menurut cerita dari leluhur terdahulu, masjid ini terlihat dari Makkah, tergantung di awang-awang. Orang-orang dulu kan banyak keramat,” kisahnya.

Ia bersama warga Jorong Galogandang yang lain berharap agar pemerintah memberi perhatian terhadap keberadaan situs bersejarah ini.

“Perlu diadakan penelitian agar dapat diketahui sejarahnya,” tuturnya.

Galogandang termasuk salah satu tempat permukiman awal yang pernah disebut dalam Kaba Cintua Mato selain Pariangan. Pada masa dahulu, Galogandang adalah sentra kerajinan tembikar terkenal di Sumbar.

Baca juga: Cerita Masjid Jamik Usang Pasia, Warisan Ulama Harimau Nan Salapan Masa Perang Padri

Ada banyak akses masuk ke Galogandang, yakni melalui Nagari Simabur di sebelah utara, Nagari Rambatan di sebelah timur, dan Nagari Balimbing di sebelah selatan. [den/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist