Kisah Usaha Ikan Salai di Lubuk Jantan Tanah Datar yang Justru Makin Berkembang di Tengah Pandemi Covid-19

Penulis: Redaksi

Usaha Masih Tradisional

Hingga saat ini, sebut Popi, usahanya masih bersifat tradisional. Dalam pengepakan atau kemasan masih menggunakan bungkus koran atau karton. Belum ada kemasan khusus yang bermerek.

Namun, permintaan demi permintaan untuk memenuhi pasar terus berdatangan kepada mereka dari para toke. Bahkan, mereka mengaku saat ini kesulitan untuk mendapatkan bahan baku ikan, terutama ikan lele.

Ikan salai lelel ini, lanjut dia, memang paling banyak diminati. Oleh sebab itu, dia pun terus menjaga kualitas produk ikan salainya.

“Yang paling bagus itu ikan lelenya kisaran sepuluh ekor satu kilogram. Namun, ada juga terkadang yang lima ekor satu kilo, kalau sudah agar besar begitu, kepala ikannya barus dibuang seluruhnya,” ujar Popi.

Proses pembakaran, kata dia, menggunakan kayu dari bahan tertentu seperti kayu kulit manis atau pohon rambutan. Namun, karena susah didapat alternatif lainnya terpaksa menggunakan kayu bakar dari pohon karet.

Popi sebetulnya juga ingin usahanya besar dan modern. Namun, untuk ke tahap itu, ia mengaku masih berusaha memenuhi persyaratan dalam pengurusan izin usahanya.

“Kami sudah urus untuk izin usaha termasuk untuk pengepakan, namun ada persyaratan yang harus kami penuhi dahulu, sekarang ini masih dalam prosesnya,” ujar Popi.

Ia yang sudah membentuk kelompok pengusaha ikan salai, pernah mendapatkan bantuan alat dari pemerintah daerah. Hanya saja, bantuan itu kurang bermanfaat karena alat yang diberikan sudah mereka miliki.

Baca juga: Masyarakat Sungai Tarab Tanah Datar Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19

“Awalnya kami minta agar bantuan itu berupa alat-alat yang bisa kami gunakan untuk perlengkapan. Namun, yang dikasih malah oven penyalai ikan. Kami tentu saja sudah memilikinya, dipakai sendiri tentu tidak bisa karena milik kelompok.” (agg/pkt)

Terpopuler