Ketika Masker Tak Lagi Diminati Warga Saat Wabah Semakin Merambah

Penulis: Ahmad Romi
|
Editor: Zulfikar

Simpang Empat, Padangkita.com – Kata Virus Corona atau Covid-19 tentunya tidak asing lagi di telinga kita saat ini, karena memang hampir seluruh penjuru dunia virus itu mewabah dan nyata keberadaannya.

Begitu juga di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar), Provinsi Sumatra Barat (Sumbar). Jumlah pasien positif Covid-19 hingga saat ini, Kamis (26/11/2020) sudah mencapai 301 orang, dengan angka kesembuhan sebanyak 193 orang dan meninggal dunia sebanyak 15 orang.

Dengan demikian, tentunya Protokol Kesehatan (Prokes) sebagai langkah pencegahan harus benar-benar diterapkan, salah satunya mengunakan masker sebagai alat pelindung diri.

Namun, saat ini hal itu sangat jarang dijumpai di tengah masyarakat Pasbar, memakai masker sudah tidak lagi menjadi barang wajib yang digunakan ketika keluar rumah.

Pergi ke pasar tidak menggunakan masker, pergi pesta masker tak dibawa. Nampaknya, masker sudah mulai di tinggalkan di tengah Pandemi Covid-19 dengan angka kasus postif yang terus meningkat.

Meskipun Pemprov Sumbar sudah menerbitkan dan memberlakukan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 tahun 2020 dan peraturan Bupati Pasbar Nomor 32 tahun 2020, yang barang pasti didalamnya sudah ada sanksi pidana, sanksi sosial dan sanksi kurungan namun tidak menjadi perhatian bagi masyarakat.

Hal itu diakui oleh Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat sendiri, di mana penerapan protokol kesehatan Covid-19 sudah mulai lemah.

Semua itu terkuak saat Pemerintah Daerah menggelar rapat evaluasi penanganan Covid-19, di mana disana disampaikan bahwa alibi masyarakat saat ini adalah Covid-19 itu tidak nyata ada, mereka hanya mengangap itu hoaks.

Sebagai salah satu contoh misalnya, para pedagang di pasar. Kita melihat banyak yang tidak memakai masker, begitu juga dengan para pembeli yang dengan santainya datang dari rumah tanpa mengenakan masker.

Termasuk para penjual yang dengan santainya bersorak-sorak kepada pembeli agar membeli dagangan. Karena, bagi mereka memenuhi kebutuhan ekonomi lebih penting daripada menghindari Covid-19. Akan tetapi, mereka juga takut jika nantinya mereka dinyatakan terpapar Covid-19.

Seperti halnya yang diutarakan Yanti, salah seorang pedagang barang harian di Pasar Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang. “Untuk saat sekarang ini saya lebih takut jika saya tidak bisa memberikan makan anak-anak saya di rumah daripada takut terhadap corona,” ujarnya saat ditemui Padangkita.com.

Namun ia menampik untuk mengatakan bahwa corona itu tidak ada. “Saya yakin bahwa virus corona seperti yang saya dengar dari orang-orang dan saya lihat di televisi itu ada. Namun kalau dengan suasana pasar yang seperti ini harus pakai masker, rasanya sesak napas ini karena mulut dan hidung harus tertutup,” lanjutnya.

Apalagi menurutnya, semenjak adanya Covid-19 ini penjualan lesu, pembeli tidak lagi ramai seperti sebelum Covid-19, malah pernah ia tidak jual beli dalam satu hari.

Sementara itu, penanggung jawab pasien positif Covid-19 di Pasbar, dr.Dian mengaku jika masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan Covid-19.

“Mereka datang ke rumah sakit ketika sudah parah dan menunjukkan tanda-tanda bahaya. Padahal Covid-19 itu nyata adanya dan mengancam nyawa. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, maka Pasbar sebagai angka tertinggi kematian akibat Covid-19 terus dipegang,” ungkapnya.

Padahal menurutnya, bukan angka kematian itu yang menjadi acuan, tetapi pengawasan, tracking, testing harus menjadi tugas utama tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19.

“Malah ada Tenaga Kesehatan yang tidak percaya dengan Covid-19. Paradigma yang seperti ini perlu kita rubah, kita satu suara tentang Covid-19. Kita harus melawan, dengan cara perketat protokol kesehatan, wajib menggunakan masker, tracking, dan testing. Jangan ada lagi jenazah Covid-19 yang dimakamkan oleh masyarakat tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) di Pasbar ini. Memang kita tidak lagi PSBB, tetapi kita jangan lengah, karena lengah dekat dengan takabur. Hati-hati kita ditunjukkan dengan wajib pakai masker kemanapun kita pergi,” paparnya.

Ia menambahkan, bahwa sebagai penanggung jawab pasien positif Covid-19 di Pasbar, dr.Dian harus tegas dalam bertindak. Protokol kesehatan harus diterapkan ketika di rumah sakit. Karena, tenaga kesehatan berkorban siang malam melayani pasien agar bisa sembuh. Menurutnya, tenaga kesehatan bukan tidak ikhlas, tetapi mencoba untuk kuat ditengah masyarakat yang tidak percaya dengan penyakit yang ada.

“Tolong kami, tenaga kesehatan ini pihak yang paling beresiko. Tetap gunakan masker ketika keluar rumah, jaga jarak, hindari kerumunan. Jika terpaksa juga mengadakan pesta pernikahan, patuhi protokol kesehatan Covid-19, jika belajar-mengajar harus tatap muka juga, patuhi aturan,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Kasat Pol PP dan Damkar) Kabupaten Pasaman Barat, Abdi Surya yang merupakan leading sektor dalam penegakan Perda AKB sudah menertibkan lebih dari 200 pelanggar protokol kesehatan Covid-19 di Pasbar.

Dimana dalam bulan November ini, penertiban yang sudah berjalan di titik-titik keramaian seperti Pasar Simpang Empat, pasar Ujung Gading, Rumah makan dan Cafe serta di Bundaran Simpang Empat.

Ia mangakui, bahwa pihaknya bersama dengan tim gugus tugas Covid-19 yang terdiri dari personil TNI, Polri, Satpol-PP dan Damkar, Dishub, Kejaksaan terus gencar melakukan razia masker di titik-titik keramaian.

“Banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker ketika keluar rumah. Beragam alasan diutarakan, ada yang terburu-buru, ada yang tidak memiliki masker. Apapun alasan pelanggar kita tidak terima dan akan kita tindak sesuai aturan yang ada,” tegasnya.

Kemudian, berdasarkan data dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 di Kabupaten Pasaman Barat jumlah pasien positif Covid-19 kian hari terus bertambah.

“Terhitung 24 November 2020 kemarin, sudah ada sebanyak 280 kasus. Pasien sembuh sudah 187 orang, menjalani isolasi sebanyak 78 orang dan meninggal dunia 15 orang,” kata Gina Alecia selaku Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Pasbar di Simpang Empat, Rabu (25/11/2020).

Ditambahkan, situasi ini sudah menjadi tugas kita bersama untuk mematuhi protokol kesehatan, bukan hanya tugas gugus tugas Covid-19 saja. Apalagi kita sudah dipertegas dengan Perda AKB yang didalamnya jelas untuk memakai masker itu wajib jika keluar rumah.

“Mari kita saling bekerjasama dalam menghambat laju penularan Covid-19 ini dengan selalu bersikap kooperatif serta selalu bersikap tenang dan mohon dukungan seluruh masyarakat untuk selalu bahu-membahu membasmi penyebaran Covid-19 di Bumi Mekar Tuah Basamo” imbau Gina Alecia.

Baca juga: Positif Corona di Pasaman Barat Bertambah 9 Orang, Semuanya dari Sungai Beremas

Tentu kerjasama itu salah satunya adalah dengan selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19 seperti rajin mencuci tangan dengan air mengalir, selalu memakai masker, menjaga jarak serta menjauhi kerumunan. [zfk]


Baca feature Pasaman Barat terbaru, feature Sumbar terbaru dan feature Virus Corona (Covid-19) terbaru hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist