Ia menyebut bahwa buku yang akan dibaca pelajar usia mulai 16 atau 17 tahun itu sebagai "media kotor". Menurutnya, buku itu bisa merusak mentalitas dan nilai-nilai keagamaan pemuda Myanmar.
Menanggapi respons negatif masyarakat dan kaum agamawan, pemerintah Myanmar berencana meninjau ulang kurikulum serta konten buku-buku pendidikan sex.
Diketahui sebelumnya, remaja di Myanmar baru bisa mendapat pendidikan sex pada 2016 saat pemerintahan baru Aaung San Suu Kyi berjanji untuk merombak kurikulum usang negara itu.
Baca juga: Viral Video Istri Gerebek Suaminya Selingkuh di kamar Hotel, Ternyata Oknum PNS
Saat itu, Suu Kyi menegaskan pentingnya pendidikan sex di Myanmar setelah mendapat data dari kelompok hak asasi perempuan (IPAS) bahwa angka aborsi di Myanmar sekitar 250.000 tiap tahunnya.
Namun, empat tahun pemerintahan Suu Kyi berjalan, penerapan pendidikan sex di sekolah belum berjalan efektif.
Sebab, sex dianggap tabu di negara yang mayoritas memeluk agama Budha dan menjadikan biksu sebagai sumber bimbingan moral tersebut. [*/Jly]











