Giat Penulisan Naskah Drama Lesu, Taman Budaya Adakan Lomba

Penulis: Sonia

Padang, Padangkita.com – Melihat masa lalu, seni pertunjukkan teater pernah memiliki masa kejayaan di Sumatra Barat.  Sejumlah nama seperti BHR Tanjung, Wisran hadi, A Alin De, Hardian Radjab dan hampir seluruh sutradara yang ada zaman 70-80-an menulis naskah drama untuk pertunjukannya sendiri.

Namun saat ini penulisan naskah drama kurang diminati dibandingkan dengan penulisan karya sastra lainnta. Hal ini tidak hanya persoalan Sumatera Barat saja, tapi juga di Indonesia. Kurangnya produksi naskah drama disebabkan karena setiap naskah drama secara tidak langsung ada beban pertunjukan.

“Karakter naskah drama yang unik, diniatkan untuk pementasan, menjadi ‘penghalang’ tak tampak. Akibatnya, tidak seperti puisi atau cerpen, yang hanya diniatkan untuk dibaca, bisa diproduksi lebih banyak,” kata Rizal Tanjung, Sutradara Old Track Theatre.

Lengangnya penulisan naskah drama juga disebabkan oleh kecendrungan sutradara menggunakan naskah yang sudah pernah dipentaskan.

“Sutradara sekarang kebanyakan hanya mau mengambil naskah yang sudah terbit atau sudah pernah dipentaskan. Tradisi penulisan perlahan redup dengan kepergian para penulis itu. Akibatnya, naskah drama, dalam konteks karya sastra, tidak lagi merepresentasikan kekinian,” ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Padangkita.com.

Masalah lain yang sangat beririsan yaitu berkurangnya grup teater yang muncul masa kini. Satu-persatu, komunitas berguguran. Mereka tidak tahan dengan pancaroba kesenian, tambah penulis naskah drama ini.

Untuk mengisi kekosongan penulis itu, Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat mengadakan Lomba Penulisan Drama. Lomba ini akan dibuka hingga tanggal 18 September 2020.

“Tak banyak penulis yang berminat untuk menekuni bidang ini. Iven lomba Naskah drama adalah bentuk apresiasi dan menciptakan ruang bagi para penulis naskah drama di Sumatra Barat, yang tak lagi lahir setelah kepergian Alm Wisran Hadi. Kalaupun ada satu dua penulis yang mencoba menekuni bidang ini, belum ada yang menyamai almarhum,” ujar Syuhendri, Ketua Pelaksana.

Sementara itu, Edi Suisno, salah seorang juri bernaggapan, tradisi teater, selalu dibaca (hanya) sebagai tradisi berakting dan menyutradarai. Padahal dalam kancah kreatifnya tradisi menulis lakon menjadi kreativitas yang justru menjadi penanda penting ‘peristiwa teater’.

Arifin C Noer, Wisran Hadi, Nano Riantiarno, tak pelak adalah sutradara-sutradara besar, tapi jiwanya, gagasannya, estetikanya, sebenarnya menjadi memorabilia dan tetap abadi sepanjang zaman justru karena lakon-lakon yang ditulisnya.

“Jadi, menulis lakon adalah mengabadikan peristiwa, mengabadikan interes manusia, merekam percakapan hati dan pikiran. Bukan hanya untuk melanjutkan kerja teater tetapi juga melanjutkan dialog yang tak kenal putus diantara kita tentang segala kegelisahan, cinta, obsesi kecamuk, dan harapan,” jelasnya. [*/son]


Baca berita Sumatra Barat terbaru hanya di Padangkita.com.