Cerita Soal Lilik, Jilbabnya Kaum Perempuan di Ranah Minang

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Jilbab bukan hanya sehelai kain. Walaupun fungsinya sebagai penutup kepala, tetapi ia memiliki aspek yang sering jadi perdebatan, salah satunya soal apakah jilbab merupakan budaya ataukah substansi ajaran agama?

Terlepas dari hal tersebut, istilah jilbab di Indonesia baru populer pada pengujung Orde Baru. Dalam buku “Revolusi Jilbab” karangan Alwi Al Atas dan Fifrida Desliyanti, istilah yang sebelumnya digunakan untuk pakaian penutup kepala bagi perempuan Muslim ini adalah kerudung atau selendang.

Di Sumatra Barat (Sumbar) sendiri, jilbab oleh sebagian masyarakat dikenal dengan istilah “lilik”, yang menjadi pelengkap berbuasana dalam keseharian perempuan, terutama saat beraktivitas di luar rumah.

Pendiri Pesantren Diniyah Puteri Padang Panjang, Rahmah El-Yunusiah ikut berperan dalam memopulerkan lilik. Di seluruh kegiatan yang ia ikuti, lilik selalu melekat, bahkan telah menjadi ciri khas penampilannya.

Cara berbusana Rahmah El-Yunusiah dengan liliknya hingga kini masih dipertahankan oleh santri Diniyah Puteri Padang Panjang. Lilik sudah melekat sebagai seragam Diniyah Putri dan menjelma menjadi identitas para santri.
Kata lilik diambil dari bahasa Minang, yang padanan katanya dalam bahasa Indonesia adalah lilit. Dalam kamus, lilit artinya kebatan yang membelit-belit. Ini sesuai dengan cara memasang lilik, yang teknik pemakaiannya memang dililitkan ke kepala.

Lilik aslinya hanya kain panjang. Ukurannya lebih besar dari jilbab. Jika jilbab memiliki ukuran 60 × 60 cm, lilik memiliki ukuran minimal 150 cm x 60 cm. Ukuran ini tentu disesuaikan dengan pemakainya, yang jelas ukuran panjang lilik minimal dua kali ukuran lebarnya.

Lilik tidak sama dengan jilbab yang sudah diolah untuk memudahkan pemakaian. Cara menggunakan lilik lebih rumit daripada jilbab.

Peniti yang disiapkan untuk memasang lilik harus lebih banyak. Hal itu agar lilik terlihat rapi dan tidak berantakan.

Butuh waktu lama bagi para remaja putri mempelajari menggunakan lilik untuk pertama kali. Namun, kerumitan pemakaiannya bertolak belakang dengan kemudahannya ketika dibuka, seperti ketika hendak berwudu.

Perempuan berlilik bisa berwudu tanpa harus merusak bentuk liliknya. Hanya sedikit membuka peniti saja, celah untuk menyapu rambut dapat terbuka sehingga mereka bisa berwudu tanpa harus buka pasang lilik.

Baca Juga: KB-PII Bedah Novel Biografi Pendiri Diniyah Putri Rahmah Elyunusiah

Lilik lazim dipakai oleh perempuan Minangkabau pada zaman dahulu. Namun, kepopuleran jilbab perlahan-lahan menyamarkan eksistensi lilik. Lilik barangkali ditinggalkan karena dianggap menyusahkan.

Beruntung, santri Diniyah Putri masih mempertahankan pemakaian lilik di tengah beragam mode jilbab yang berkembang. [den]


Baca berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist