Cegah Penyebaran Covid-19, Singapura Sebar Token Pelacak ke Seluruh Warganya

Penulis: Mentari Tryana

Singapura, Padangkita.com – Singapura mulai mendistribusikan token pelacakan kontak Bluetooth kepada lima juta penduduknya. Langkah itu untuk membantu menahan penyebaran Virus Corona Covid-19.

Token, yang dapat dikenakan di lanyard atau dibawa, adalah versi perangkat keras dari aplikasi pelacakan kontak yang sudah ada yang diluncurkan pada bulan Maret. Demikian seperti dikutip dari laman BBC, Selasa (15/9/2020).

Seperti aplikasi, mereka menggunakan Bluetooth untuk mencari perangkat pengguna lain dan kemudian mencatat setiap kontak dengan perangkat tersebut.

Pemerintah Singapura juga berharap token akan membantu membuka kembali kegiatan ekonomi lebih lanjut, dengan memungkinkan konferensi untuk dimulai kembali dan memberikan penelusuran yang lebih baik dalam pengaturan risiko yang lebih tinggi, seperti hotel, bioskop, dan pusat kebugaran yang sibuk.

Peluncuran awal terjadi di daerah-daerah dengan konsentrasi lansia yang lebih besar, yang memiliki risiko kesehatan lebih besar dari COVID-19 dan cenderung tidak memiliki prtangkat ponsel canggih.

Tetapi token tersebut akan tersedia untuk semua warga negara, termasuk warga asing.

Penduduk Singapura saat ini diwajibkan untuk melakukan check-in sebelum memasuki toko dan gedung perkantoran menggunakan sistem SafeEntry terpisah, yang menggunakan kode QR untuk mencatat kehadiran pengguna.

Baca juga: Arab Saudi Longgarkan Pembatasan: Sejumlah Warga Bisa Keluar-Masuk, Umrah akan Dimulai Secara Bertahap

Untuk beberapa aktivitas berisiko tinggi, SafeEntry sekarang juga akan membutuhkan aplikasi atau token untuk check in.

Singapura adalah negara pertama yang memperkenalkan aplikasi pelacakan kontak secara nasional pada bulan Maret.

Sejak itu, sekitar 2,4 juta orang telah mengunduh aplikasi tersebut, dengan sekitar 1,4 juta menggunakannya pada bulan Agustus.

Tokoh pemerintah Singapura telah lama mengakui bahwa angka-angka itu perlu ditingkatkan untuk membuat aplikasi dan token menjadi efektif.

Tetapi Kementerian Kesehatan mengatakan program tersebut telah membantu mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengkarantina kontak dekat kasus COVID-19 dari empat hari menjadi dua hari.

Singapura pun menjadi lebih antusias tentang aplikasi pelacakan kontak daripada banyak negara lain, yang lebih lambat dalam memperkenalkan aplikasi atau kesulitan memanfaatkannya.

Inggris dan Wales, misalnya, tidak akan memperkenalkan aplikasinya hingga akhir bulan ini, sementara Australia telah berjuang untuk mendapatkan informasi apa pun dari aplikasi yang tidak didapatnya melalui pelacakan kontak biasa. [*/try]


Berita ini sebelumnya dimuat Liputan6.com jaringan Padangkita.com dengan judul: Singapura Distribusikan Token Pelacak COVID-19 Guna Cegah Penyebaran Virus