Boy Candra: Pakai Karya Saya, Semua Syuting Film Harus di Padang

Wawancara Boy Candra tentang Film, Karya, Perjuangan, dan Mimpi

Penulis: Rio Irawan

“Jika pakai karya saya, (semua) syuting harus di Padang,” kata Boy Candra menjawab pertanyaan tentang kenapa film “Malik dan Elsa” menjadi salah satu film layar lebar yang 100 persen pengambilan gambarnya dilakukan di Kota Padang.

Film ini diangkat dari novel karya Boy Candra, penulis muda asal Padang yang tengah populer. Karya-karyanya banyak yang best seller dan dicetak berulang-ulang. Dunia tulis-menulis, juga telah membawanya berkeliling dari kota ke kota di Indonesia menjadi pembicara.

Untuk sampai di tahap ini, banyak suka duka yang dilalui Boy Candra. Senin (2/3/2020) siang, alumni Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) ini berkunjung ke kantor redaksi Padangkita.com, di Jalan Alai Timur II No 7, Kota Padang.

Sekitar dua jam lebih, Boy yang ditemani manajernya, Yahya, berbincang dan berdiskusi dengan awak redaksi yang dikomandoi Pemred Padangkita.com, Ramono Aryo Abilowo. Ia bercerita banyak tentang film, karya-karyanya, perjuangannya, hingga mimpinya ke depan.

Berikut petikan wawancara Boy Candra dengan wartawan Padangkita.com, Hijrah Adi Sukrial yang dilakukan usai diskusi.

Bagaimana ceritanya novel Anda bisa diangkat ke layar lebar dan bisa seratus persen syuting di Padang?

Ada tawaran dari rumah produksi. Lalu, ketika itu saya negosiasi dengan mereka. Saya sampaikan saya ada syarat. Jika ingin pakai karya saya, syutingnya harus di Padang. Jika tidak, saya tidak bersedia.

Kenapa harus syuting semua adegan di Padang?

Karena saya cinta dengan Padang. Saya lihat, film lain bisa syuting full di Bali, di Bandung, dan kota-kota lainnya. Kenapa Padang tidak bisa?

Di sisi lain, kalau syuting di Padang, akan banyak memakai pemain dan kru lokal. Proses syuting di Padang memakan waktu 16 hari, dengan total kru dari Jakarta sebanyak 60 orang. Coba bayangkan, berapa uang yang berputar di Padang untuk penginapan, katering, transportasi dan lainnya.

Jika ini sukses, ini bisa jadi momentum agar ke depan FTV (film televisi) bisa syuting di Padang. Menurut saya ini sangat mungkin, karena biaya ke Bali dan biaya ke Padang saya pikir sama saja (kalau dari Jakarta).

Saya juga ingin bantu promosi pariwisata Kota Padang. Dengan sering jadi latar film, maka orang akan penasaran dan berkunjung.

Ada dua. Satu lagi berjudul “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi”. Sebenarnya ini awalnya juga akan syuting di Padang, bahkan beberapa kota di Sumbar. Namun ada kendala, hingga akhirnya lokasi syuting dialihkan ke Jawa.

Makanya ketika “Malik & Elsa”, benar-benar saya kawal, mulai dari pengurusan izin hingga proses syuting.

Bagaimana perasaan Anda setelah selesai syuting?

Yang jelas lega. Keinginan untuk bisa shooting Film “Malik & Elsa” di Padang sudah tercapai. Tentu saja saya mengucapkan terimakasih atas dukungan Pemko Padang, terutama Wali Kota Padang Pak Mahyeldi atas dukungannya.

Banyak perbedaan di film dengan novel?

Yang jelas bahasa yang dipakai Bahasa Indonesia. Kita sengaja mengurangi aksen Minang agar bisa diterima di pasaran.

Pasti akan ada yang tidak sesuai dengan novel seutuhnya. Kuasanya beda. Kalau buku kuasa penuh ada di penulis. Kalau di film ada kompromi.

Saya juga sudah siap dengan komplain, misal kenapa film berlatar Minangkabau tapi kisahnya percintaan.

Boy Candra
Boy Candra. [Foto: Instagram]

Kapan film yang diangkat dari novel ini akan tayang di bioskop?

“Malik & Elsa” akan tayang 2 April 2020. “Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi” akan tayang pertengahan tahun.

Bagaimana ceritanya hingga memutuskan jadi penulis?

Saya belajar menulis sejak tahun 2011. Ketika tahun-tahun akhir kuliah. Di mata saya, jadi penulis adalah profesi yang merdeka. Saya bisa kerjakan apa yang saya pikirkan dan inginkan. Pernah saya bekerja di perusahaan, tapi hanya bertahan tiga hari. Hari keempat saya resign, karena merasa tidak merdeka, saya melakukan sesuatu yang tidak saya suka.

Dari mana Anda belajar?

Sebelumnya saya sudah suka baca juga. Saya belajar otodidak dari buku dan internet.

Kapan pertama kali buku Anda diterbitkan?

Tahun 2012 terbitkan buku indie, judulnya “Catatan Mahasiswa Galau”. Buku itu saya cetak sendiri dan dijual sendiri. Memang ketika itu belum dicetak komersil. Namun buku itu meyakinkan saya bahwa saya adalah seorang penulis. Seorang penulis itu harus punya buku.

Tahun 2013, baru terbit buku pertama saya yang dicetak secara komersil. Judulnya “Origami Hati”.

Bagaimana pengalaman pertama dapat royalti?

Namanya saja buku pertama, dan dibuat oleh orang yang belum punya nama. Nilainya tidak terlalu besar. Saya hanya diberi uang muka, royaltinya baru cair tujuh bulan kemudian. Namun cukup untuk meyakinkan saya bahwa ada harapan terjun ke dunia penulisan ini dan penulis itu ternyata bisa menghasilkan uang. Setidaknya buku pertama itu adalah senjata saya meyakinkan orang tua bahwa saya bisa dapat uang dari menulis.

Karya-karya Anda bergenre pop. Kenapa Anda memilih genre tersebut?

Karya pop adalah karya yang paling mudah dicerna orang. Saya mengejar generasi baru. Di karya pop itu saya juga bisa menyelipkan tentang nilai-nilai tentang Sumatra Barat. Di karya itu saya juga bisa meluapkan kemarahan saya tentang kondisi bangsa, saya juga bisa cerita tentang politik dan korupsi. Bedanya, semuanya dikemas dalam roman percintaan.

Buku mana yang paling berkesan?

Buku “Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang”.

Buku itu buku pertama saya yang best seller. Seminggu sudah cetak ulang. Buku itu menurut saya adalah buku pertama di generasi ini yang isinya curhat-curhatan. Untuk menulisnya saya riset selama dua tahun. Dan saya menyadari remaja Indonesia suka bacaan pendek.

Saat ini karya Anda sudah difilmkan. Anda juga diundang ke mana-mana jadi pembicara. Apakah Anda membayangkan akan terkenal seperti sekarang ini?

Ya. Saya sudah membayangkannya. Namun saya tidak akan membayangkan prosesnya secepat ini.

Saya hanya ingin mematok diri jadi penulis khusus segmen remaja. Bisa cerpen, puisi, novel, artikel. Tidak harus mematok jadi novelis, cerpenis atau penyair.

Bagaimana Anda menjalani proses menjadi penulis dan apa yang Anda lakukan ketika sedang buntu ide?

Yang jelas saya mewajibkan diri saya harus menulis setiap hari. Kadang saya menulis dua jam, kadang saya menulis seharian. Yang pasti, setiap hari harus menulis.

Dulu, ketika masih bujangan, saya bisa menulis sepanjang hari. Sekarang, tidak bisa lagi, karena harus membagi waktu dengan keluarga dan sekarang sudah sering pula diundang jadi narasumber.

Ketika buntu ide, saya jalan kaki. Menurut saya, jalan kaki membuat kita lebih peka, membuat kita lebih berpikir. Pernah jam 11 malam saya jalan dari Air Tawar ke Ulakkarang. Setelah itu, biasanya saya akan segar dan ide akan muncul.

Anda pernah merasakan kegagalan?

Pasti. Saya pernah gagal jadi pemain band, saya pernah gagal jadi komika. Saya juga pernah susah. Selama kuliah saya tidak memiliki kendaraan. Sehingga royalti buku kedua saya itu saya belikan ke motor. Karya saya juga pernah ditolak penerbit.

Apa mimpi Anda ke depan?

Kalau tahun ini target saya bisa cetak lima buku. Saat ini sudah selesai dua buku. Untuk jangka panjang, saya punya mimpi bisa punya karya hingga 100 buku. Saya juga bercita-cita punya buku yang alih bahasa. [*]

Terpopuler

Add New Playlist