Mite Kudeta, Pentas Prahara Pagaruyung

Penampilan Ranah Performing Arts Company (Foto;Ist)

Padangkita.com – Desas-desus pembunuhan Bundo Kanduang, Dang Tuanku, Puti Bungsu oleh Cindua Mato, membuat ia menghilang dari Kerajaan Pagaruyung. Dalam pelariannya, Cindua Mato bertemu dengan Anggun Nan Tongga, Raja Pesisir sekaligus kakak Puti Bungsu. Kepadanya, Cindua Mato mengakui bahwa ia telah membunuh ketiga orang itu.

Pengakuan itu membuat Anggun Nan Tongga sempat naik pitam dan berfikir untuk membunuh Cindua Mato. Namun niat itu ia urungkan, karena khawatir tindakannya membuat Kerajaan Pagaruyung dalam bahaya. Akhirnya Cindua Mato disuruh kembali ke Pagaruyuang.

Di Pagaruyuang, Basa Ampek Balai yang mewakili kaum adat meminta pertolongan Belanda untuk menghancurkan kerajaan. Cindua Mato pun meminta bantuan pada Tuanku Imam Bonjol, yang berjanji akan menolong.

Itulah sinopsis dari  pertunjukan berjudul Mite Kudeta yang disutradarai S. Metron Masdison. Pertunjukan itu akan ditampilkannya bersama Ranah Performing Arts Company di Kaba Festival 4, pada 2 Agustus 2017 di Taman Budaya Sumatera Barat. Di Kaba Festival 3, Ranah Performing Arts Company menampilkan Sandiwara Pekaba dan Cati.

Menurut S. Metron, seperti Sandiwara Pekaba, pertunjukan Mite Kudeta tidak memakai bahasa verbal, tetapi memaksimalkan bahasa gerak dan bunyi untuk menyampaikan sebuah informasi.

“Gerak dan bunyi yang dipakai pun diserap dari kesenian-kesenian tradisi Minangkabau, seperti Tari Piriang, Ulu Ambek, Dendang, Gandang Tambua, Kaba, dan lainnya,” ujar Metron, dalam rilis yang diterima Padangkita.com, Minggu (23/7).

Menurut S.Metron, eksplorasi, transformasi, dan penyesuaian dilantangkanya selaku sutradara Mite Kudeta. Ia menyebut, dalam pentas itu tradisi tidak dilihat sebagai artefak, tetapi sebuah kebudayaan yang terus berjalan dan menyesuaikan diri dengan jamannya, atau layaknya alam takambang jadi guru.

Ia menambahkan, alam dimaknai sebagai entitas yang terus berubah dan berkembang, begitu juga dengan kesenian tradisi. S. Metron menyebut  hal itu sebagai postradisi.

“Kata ‘pos’ yang bukan berarti ‘melampaui’ atau ‘berada disamping’, tetapi mendefenisikan ulang Minangkabau serta tradisinya sebagai sesuatu yang terus menghadapi dunia hari ini dengan proses penyesuaian,” ujarnya.

Bagaimana bentuk postradisi dalam pertunjukan seni yang digagas oleh S Metron Masdison ini, dapat disaksikan pada Kaba Festival 4, pada hari pertama, Rabu, 02 Agustus 2017, pukul 20.00 WIB, di Taman Budaya Sumatera Barat.  (*)

Baca juga:
Seni, Penyegar Kehidupan Sosial dan Politik Bangsa