Cara Makanan Mempengaruhi Pemanasan Global

Kebakaran Hutan. (Foto: Greenpeace.org)

Padangkita.com – Manusia membutuhkan makanan agar tetap hidup dan sanggup menjalani aktivitas. Artinya, jika dalam satu hari manusia tidak makan, mereka tidak dapat bekerja dengan nyaman dan bahkan bisa berujung pada kematian apabila tidak menerima asuapan makanan selama beberapa hari.

Memperhatikan masalah pemanasan global mungkin sama pentingnya dengan memikirkan makanan apa yang akan kita makan hari ini. Apabila suhu udara lebih panas dari biasanya, kenyamanan dalam beraktivitas dapat terganggu. Jika pemanasan ini dibiarkan terus berlanjut, dampak yang berujung pada kematian pun bisa terjadi.

Emil Salim dalam bukunya yang berjudul “Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi”, mengatakan bahwa pada konferensi yang diadakan di Compenhagen, Denmark pada 2009, parapemimpin dunia sepakat, suhu bumi tidak boleh melewati 2 derajat celsius di atas suhu masa praindustri. Untuk mencapai sasaran ini, konsentrasi kepadatan gas rumah kaca (Karbon dioksida, metana, nitro oksida, dan gas sejenis lainnya) tidak boleh melampaui 450 ppm.

Pengaruh yang dapat dialami oleh Indonesia apabila suhu udara melewati batas tersebut, seperti naiknya permukaan air laut yang dapat menenggelamkan ratusan pulau, banjir, angin taufan, musim kemarau panjang, evaporasi air tawar di permukaan, erosi keanekaragaman hayati, meluasnya kebakaran hutan dan tanah gambut, meledaknya penyakit baru pada hewan dan manusia, serta malapetaka lainnya.

Jumlah emisi gas rumah kaca dapat dikurangi dengan terlebih dahulu mengetahui sumber emisi tersebut. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu sektor yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global ini. Kapan pun penyebab pemanasan global didiskusikan, bahan bakar fosil selalu mengisi daftar paling atas penyumbang emisi gas rumah kaca. Namun, tahukah Anda bahwa penelitian juga menemukan bahwa proses produksi makanan juga berdampak besar terhadap pemanasan global?

Berdasarkan penelitian yang dimuat di jurnal Annual Review (2012), sistem makanan berkontribusi sebesar 19-29 persen atau seperempat emisi gas rumah kaca antropogenik global pada 2008. Jumlah ini lebih tinggi dari jejak karbon yang dihasilkan sektor transportasi dan industri berdasarkan data emisi gas rumah kaca tahun 2010 yang dipublikasikan oleh epa.gov.

Setiap makanan yang tersaji di piring berasal dari rantai produksi yang mengeluarkan emisi karbon. Rantai jejak karbon makanan berasal dari proses  penanaman, pemanenan, pemrosesan, pengemasan, pengangkutan, pemasaran, konsumsi, dan pembuangan makanan serta barang-barang yang berhubungan dengan makanan.

Satu rantai, seperti peternakan untuk daging sapi dan domba, sumber emisi utama adalah metan yang berkontribusi sangat tinggi dalam emisi gas rumah kaca. Gas ini berasal dari fermentasi bakteria yang mengubah makanan menjadi energi dalam perut hewan tersebut. Setelah masuk masa konsumsi, hewan-hewan tersebut disembelih dan proses pemotongan juga menghasilkan emisi karbon dari konsumsi energi yang digunakan. Jejak karbon berlanjut hingga proses pengolahan daging, pengemasan, pendinginan, dan seterusnya hingga sampai ke piring makanan.

Setiap produk makanan memiliki tingkat karbon yang berbeda. Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2015 menyusun peringkat makanan berdasarkan tingkat kontribusi gas rumah kaca yang dihasilkan. Padi-padian (sereal) berada di tingkat pertama dengan menghasilkan 33 persen dari jejak karbon total, sayuran 22 persen, daging 21 persen, susu dan telur 8 persen, buah 6 persen, umbi-umbian 5 persen, serta ikan dan makanan laut 5 persen.

Direktur Institut Lingkungan John Muir di Universitas California (UC), Davis, Houlton, dilansir dari vox.com, Senin (16/4/2018), mengingatkan bahwa kita harus memikirkan tentang metana yang dikeluarkan dari hewan dan sawah serta area di mana kita menanam tanaman. Kita juga harus mempertimbangkan gas nitrogen oksida yang dihasilkan dari pupuk yang  diberikan kepada mikroba yang hidup di tanah. “Dan jika Anda menambahkan semua emisi itu bersama-sama, Anda akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang dampak iklim global dari sistem pangan kita (Diterjemahkan dari bahasa Inggris),” ujarnya.

Hal selanjutnya yang harus dipertimbangkan adalah limbah makanan. Sisa makanan yang pada akhirnya berakhir di tempat sampah akan melepaskan gas metana. Jumlah emisi gas rumah kaca akan semakin besar jika diakumulasikan sisa makanan dari seluruh sistem makanan semenjak awal produksi. Data dari FAO menunjukkan bahwa sepertiga makanan yang diproduksi manusia terbuang sia-sia, yaitu senilai 940 miliar dolar AS. Salah satu target Sustainable Development Goals adalah mereduksi sisa makanan.

Oleh karenanya, kebiasaan menyisakan makanan harus dihentikan. Harga yang dibayarkan untuk membeli sepiring makanan ternyata tidak sebanding dengan biaya tersembunyi yang harus dibayar oleh lingkungan.

Selanjutnya, memilih dengan bijak makanan yang kita konsumsi adalah salah satu pilihannya. Memilih makanan dari produk lokal yang tumbuh dengan sedikit pupuk kimia dan pestisida dapat menurunkan kebutuhan energi dan emisi dari transportasi serta meminimalisir pencemaran yang ditimbulkan.

Selain itu, memilih menu makanan juga dapat berpengaruh terhadap produksi karbon. “Makanan berbeda memiliki jejak karbon yang sangat berbeda. Menukar menu steak dengan ikan, misalnya, dapat mengurangi emisi hingga delapan kali lipat. Dan jika Anda mengubah menu menjadi kacang, emisi Anda akan turun mendekati nol. Ini benar-benar menarik ketika banyak dari kita mulai membuat perubahan serupa,” imbuh Maya Almaraz, peneliti postdoctoral yang bekerja dengan Houlton di UC Davis, dikutip dari vox.com.

Makanan adalah kebutuhan dasar dan hak dasar manusia. Sistem pangan harus memenuhi kebutuhan tersebut secara adil, tanpa memperburuk dampak perubahan iklim.