Tiga Fakta Gua Lida Ajer yang Pernah Dihuni Manusia Modern Tertua di Asean

|
Editor: Rina Akmal

Berita Limapuluh Kota hari ini dan berita Sumbar hari ini:  Gua Lida Ajer di lereng Sidayu, Limapuluh Kota pernah dihuni manusia modern tertua di Asean

Sarilamak, Padangkita.com– Gua Lida Ajer di lereng Sidayu, dalam kawasan perbukitan Kojai, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat (Sumbar), pernah dihuni manusia modern tertua di Asia Tenggara (Asean).

Hal itu terungkap setelah tim ilmuwan dari Australia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Belanda, dan Indonesia, mempublikasikan hasil penelitian mereka di Nature: Jurnal Ilmiah Minggguan Internasional pada Agustus 2017 silam.

Berikut fakta tentang Gua Lida Ajer yang lebih dikenal masyarakat lokal sebagai Ngalau Lidah Aia.

1. Pernah Diteliti Eugene Dubois

Gua Lida Ajer pernah diteliti oleh Eugene Dubois, ahli paleoantropologi terkemuka dunia. Dubois diperkirakan meneliti Gua Lida Ajer selama enam bulan, antara tahun 1887 hingga 1885. Atau jauh sebelum Dubois menemukan Pithecanthropus erectus (kera-manusia yang berdiri tegak) di Pulau Jawa, yang kini berganti nama menjadi Homo erectus (manusia yang berdiri tegak).

Saat meneliti Gua Lida Ajer, Eugene Dubois juga merangkap sebagai perwira kesehatan tentara Belanda yang bekerja di Rumah Sakit Payakumbuh. Disenggang waktu sebagai perwira kesehatan itulah, Dubois mendatangi gua-gua yang ada, termasuk Gua Lida Ajer, untuk meneliti dan mencari fosil-fosil purba.

Cerita Eugene Dubois pernah meneliti Gua Lida Ajer, dibenarkan Profesor Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Republik Indonesia dan Profesor Herwandi dari Universitas Andalas (Unand) Padang. Serta mantan Kepala Balai Penelitian Nilai Budaya Sumatra Barat Nurmatias dan sejarawan dari Unand Padang Wannofri Samri, dalam salah satu surat kabar terbitan Sumbar.

Selama meneliti di Gua Lida Ajer, Eugene Dubois sempat frustasi karena hanya menemukan fosil-fosil dan tidak mendapati kerangka utuh manusia modern yang dicarinya. Dubois baru bergairah setelah Insinyur Belanda di Pulau Jawa, menemukan kerangka manusia yang kemudian dikenal dunia sebagai Pithecanthropus erectus atau Homo erectus.

Meski tidak menemukan kerangka utuh manusia modern di Gua Lida Ajer, tapi Eugene Dubois tetap membawa fosil-fosil yang ditemukannya di Gua Lida Ajer ke Pulau Jawa, untuk kemudian disimpan di Belanda. Setelah Dubois wafat pada 1948, seorang pealontog Belanda bernama Dirk Albert Hooijer meneliti kembali fosil-fosil temuan Dubois di Sumatera, terutama fosil berbentuk gigi.

Hooijer yang lahir di Medan, 30 Mei 1919, dan wafat di Bogor, 26 Nofember 1993, mengidentifikasi fosil gigi yang ditemukan Dubois di Goa Lida Ajer, mirip dengan gigi manusia modern. Tapi, Hooijer tidak berani memastikan. Sejak itu, banyak dugaan muncul.

Puncaknya, pada Agustus 2017, tim ilmuwan dari Australia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Belanda, dan Indonesia yang dipimpin KE Westaway atau Kira Westaway dari Macquarie University, Sydney, Australia, memastikan, fosil gigi yang ditemukan Dubois di Goa Lida Ajer, memang fosil gigi manusia modern atau Homo Sapiens. Tim yang dalam penelitiannya mengandalkan teknologi, meyakini gigi tersebut berusia antara 63 ribu hingga 73 ribu tahun lalu.

Arkeolog dari BPCB Sumbar bersama mahasiswa arkeologi Universitas Jambi melakukan obersvasi di Gua Lida Ajer

2. Fosil di Lida Ajer Tertua di Asean

Sampai tahun 2021, hasil penelitian KE Westaway dkk yang dipublikasikan di Jurnal Natute, tentang fosil gigi di Gua Lida Ajer sebagai fosil gigi manusia modern tertua di Asia Tenggara, belum terbantahkan atau belum mengalami klaim keberatan dari ahli-ahli dunia.

Menurut Profesor Truman Simanjuntak dalam salah satu media cetak terbitan Sumbar, hasil penelitian di Goa Lida Ajer yang dipaparkan Westaway dkk, memperlihatkan pentingnya Pulau Sumatera dalam penelitian terkait manusia modern. Apalagi selama ini, jagat ilmu pengetahuan, seolah skeptis terhadap penyebaran manusia modern di Sumatera.

Walau Puslit Arkenas pernah pernah menemukan fosil homo sapiens berusia 45 ribu tahun di Goa Harimau, Batu Raja, Sumatra Selatan. Namun, Pulau Sumatra dianggap tidak penting-penting amat dalam penyebaran manusia modern, karena Dubois pernah frustasi di Sumatra.

“Tapi kini, Sumatra yang malu-malu itu, telah mengeluarkan datanya. Hasil penelitian KE Westaway dkk di Gua Lida Ajer adalah penemuan besar. Sebab, sebelum penelitian ini, fosil homo sapiens tertua di ASEAN diyakini bukan di Indonesia, tapi pada salah satu gua di Filipina,” kata Profesor Truman Simanjuntak.

Profesor jebolah Istitut de Paleontologie Humaine, Paris, Perancis itu menyebut, hasil penelitian KE Westaway dkk tentang Gua Lida Ajer, perlu ditindaklanjuti dengan penelitian susulan. Apalagi, penelit dari Puslit Arkenas, yakni almarhum Rokus Due Ewe yang ikut meneliti bersama KE Westaway, pernah mengaku kepada Profesor Truman Simanjuntak, jika dia juga menemukan artefak di Goa Lida Ajer.

“Penelitian ulang ataupun penelitian susulan itu tidak mesti dilakukan peneliti asing. “Bangsa ini juga mampu. Kita punya banyak ahli. Seharusnya, temuan di Gua Lida Ajer ini memotivasi pemerintah kita, baik pusat atau daerah, untuk melakukan penelitian susulan. Berapalah, biayanya. Tidak mahal-mahal amat. Dan bangsa kita sebenarnya mampu untuk itu,” kata Truman Simanjuntak.

Hal ini juga ditegaskan Profesor Herwandi dari Unand Padang. Dikutip dari salah satu koran lokal, Profesor Herwandi menyebut, hasil penelitian di Gua Lida Ajer yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature, menunjukkan bahwa manusia modern anatomi atau dikenal sebagai homo sapiens, telah menghuni Indonesia sekitar 73 ribu tahun lalu atau jauh lebih awal dari penghitungan semula sekitar 45 ribu tahun lalu.

“Penelitian ini telah membuka berbagai perspektif baru. Memang menarik jika dilakukan penelitian susulan atau penelitian ulang,” ujar Profesor Herwandi yang tercatat sebagai satu-satunya profeseor arkeologi di Unand.

3. Gua Lida Ajer Dihiasi Lukisan Purba.

Gua Lida Ajer tidak hanya diyakini pernah dihuni oleh manusia modern tertua di ASEAN. Namun, gua yang berada di bekas areal pabrik marmer ini, ternyata juga dihiasi dengan lukisan-lukisan purba.

Hal ini terungkap, setelah peneliti dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat, bersama mahasiswa dari Universitas Jambi, mendatangi Gua Lida Ajer. Tim peneliti yang dipimpin Dodi Chandra itu, mendatangi Gua Lida Ajer, akhir Desember 2017 atau setelah jagat arkeologi dihebohkan dengan hasil penelitian KE Westaway dkk.

Menurut Dodi Chandra, Gua Lida Ajer pada Desember 2017, memiliki lebar 3,8 meter dan tinggi 2,5 meter dari permukaan tanah. Di dalam gua, terdapat dua ruangan utama. Ruangan pertama, memiliki panjang 7,7 meter dan lebar 9 m dengan ketinggian kurang lebih 8 meter. Sedangkan ruangan kedua, lebih luas dari ruangan pertama. Tapi jalan masuknya sudah dipasang pintu teralis besi yang cukup kecil. Di dalam ruangan kedua ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit, serta banyak kelelawar.

Dodi Chandra menyebut, saat ia bersama enam mahasiswa dari Jambi mulai melakukan observasi di mulut Gua Lida Ajer, di dinding utara gua ini terlihat luka gua atau gambar cadas, berwarna putih, berbentuk manusia dengan gaya kangkang. Lukisan yang terlihat di dinding utara tersebut, secara tidak langsung mengisyaratkan adanya lukisan lainnya di bagian ruangan gua.

“Setelah dilakukan pengecekkan terhadap seluruh bagian dalam gua ternyata benar adanya. Lukisan berwarna putih tersebut ternyata tersebar di semua dinding gua, baik dinding utara, dinding selatan dan dinding barat,” beber Dodi Chandra.

Di bagian sebelah utara dinding Gua Lida Ajer, Dodi bersama timnya menemukan lebih kurang lebih 53 buah lukisan yang berwarna putih dan berbentuk manusia kangkang. “Ada yang berbentuk sedang berlari, bentuk mengangkang dengan tangan ke bawah, dan ada juga yang berbentuk mengangkang dengan posisi tangan sejajar dengan bahu,” ungkap Dodi.

Sedangkan dinding sebelah utara Gua Lidah Ajer, Dodi juga mendapati ada pertemuan antara stalaktit dan stalakmit yang menyatu dan membentuk seperti sebuah pilar. Sedangkan, di dinding sebelah selatan, Dodi menemukan kurang lebih 14 buah lukisan yang berwarna putih dan berbentuk manusia kangkang (manusia prasejarah).

“Selain itu, ditemukan pula lukisan gua yang berwarna hitam. Secara kronologi warna hitam memiliki umur yang lebih tua bila dibandingkan dengan warna putih. Lukisan yang berwarna hitam yang masih terlihat berjumlah 5 buah, yang salah satu bentuk yang cukup unik berbentuk manusia yang sedang menunggangi hewan,” kata Dodi dalam salah satu siaran pers BPCB Sumbar pada tahun 2017 silam.

Baca juga: BKSDA Pasang Perangkap untuk Binatang Buas yang Memangsa Kambing Warga Limapuluh Kota

Dodi menyebut, keberadaan lukisan gua di Gua Lidah Ajer yang jumlah sementaranya mencapai 72 lukisan cukup menarik. Karena ada hal yang baru yang ditemukan. Yaitu lukisan berwarna hitam yang selama ini belum pernah ditemukan di gua-gua yang ada di Sumatra Barat. “Penemuan ini sangat menarik dan langka,” kata Dodi Chandra. (*/rna)


Baca berita Limapuluh Kota hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist