Survei Kualitas Siaran Televisi, KPI: Kualitas Infotainment Paling Rendah

|
Editor: Rina Akmal

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Infotainment program televisi dengan indeks kualitas paling rendah dibandingkan program lainnya

Padang, Padangkita.com– Berdasarkan hasil riset Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kualitas konten siaran infotainment di lembaga-lembaga penyiaran televisi di Indonesia masih rendah.

“Infotainment ini menarik. Karena termasuk entertain, maka kondisi peraturan yang dipakai adalah kategori entertain. Kenapa? Karena dia memberikan informasi, tetapi kadang-kadang gibah, ngomongin orang, bahkan memfitnah,” ujar Komisinoner KPI, Yuliandre Darwis saat menjadi narasumber acara diseminasi riset indeks kualitas program siaran TV yang digelar KPI bekerja sama dengan Universitas Andalas di Kota Padang, Minggu (18/4/2021).

Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil riset yang dilakukan KPI, indeks program infotainment pada Januari-Mei 2017 yaitu 2,36. Sedangkan indeks program infotainment pada Juni-Agustus 2020 adalah 2,86.

Infotainment juga menjadi program televisi dengan indeks kualitas paling rendah dibandingkan dengan program televisi lainnya pada 2020 tahap I yaitu 2,68. Hal tersebut masih berada di bawah indeks standar KPI yaitu 3.

“Kenapa infotainment? Infotainment ini memberikan sudut pandang yang berbeda dengan news. Dia ingin memberitakan, tapi memberitakan aib. Kalau bahasa milenialnya sekarang itu lambe turah,” jelasnya.

Oleh karena itu, KPI pun berusaha untuk mengubah itu. Tradisi itu yang seolah-olah menghakimi orang.

“Kalau bisa cek infotainment, pada 2017 dulu, eksploitasi kekayaannya luar biasa, saya beli merek ini dan itu. Sekarang mana boleh menurut peraturan KPI. Ini fakta ya,” ungkap Yuliandre.

Menurutnya, infotainment seperti saat sekarang ini membawa dampak negatif kepada masyarakat. Sebab, segala informasi kehidupan artis bisa mempengaruhi psikologi dan nilai moral yang berlaku di masyarakat.

Program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi harusnya tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan atau disajikan dalam seluruh mata acara, kecuali demi kepentingan publik.

Muatan privasi itu seperti konflik rumah tangga, perceraian, hak asuh anak, konflik keluarga sehingga bisa mencemarkan nama baik para pihak yang terlibat.

Termasuk konflik pribadi, perselingkuhan, hubungan asmara, keyakinan beragama, dan rahasia pribadi.

Menurutnya, lembaga penyiaran harus bisa memberitakan sisi lain kehidupan para artis yang bisa memberikan dampak positif.

Seperti dengan memberitakan prestasi atau perjuangannya dalam meraih impian. Setiap artis pasti memiliki sisi positif yang bisa diekspos.

“Misalnya, dulu infotainment sering memberitakan perceraian para artis. Seolah bercerai itu adalah indah. Tidak ada mudaratnya. Tentu ini menjadi pertanggungjawaban kami di akhirat. Makanya infotainment harus berubah,” terangnya.

Koordinator Bidang Riset KPI Pusat, Andi Andrianto mengatakan hasil riset KPI tentang indeks penyiaran televisi tersebut bisa menjadi bahan evaluasi bagi lembaga penyiaran televisi di Indonesia.

Tujuannya agar konten televisi di Indonesia bisa lebih baik lagi. Tapi sebetulnya media hari ini harapannya tidak berpijak kepada rating yang selama ini dirujuk.

“Ada referensi lain yang bisa digunakan yaitu indeks kualitas program televisi, dan ini merupakan aspirasi dari masyarakat. Khusus infotainment dalam lima tahun terakhir masih belum memenuhi kualitas standar KPI,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Pemimpin Redaksi Padangkita.com, Montosori yang menjadi narasumber pada acara ini mengatakan hasil riset KPI harus bisa menjadi rekomendasi bagi televisi untuk melakukan evaluasi.

Dalam menyediakan konten, televisi tidak hanya melihat dari disukai atau tidak oleh masyarakat. Televisi juga harus bisa membuat konten yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Selain itu, edukasi terhadap masyarakat juga perlu dilakukan. Kesadaran akan kebutuhan konten televisi berkualitas perlu ditumbuhkan.

Tujuannya agar masyarakat tahu mana konten televisi yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan.

Dia menerangkan, di era digital seperti sekarang ini, jika media televisi tidak berbenah, maka yang terjadi masyarakat bisa saja mencari informasi lewat media sosial yang belum jelas kebenarannya.

Baca juga: Update Corona Sumbar 17 April: Kasus Positif Semakin Melonjak, Pasien Sembuh Bertambah 140 Orang

“Masyarakat perlu diedukasi. Edukasi tidak harus menggelar acara seremoni yang memakan anggaran, tapi bisa juga lewat literasi,” sampainya. [rna]

Baca berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler