Sensasi Menikmati Lanskap Kota Padang Sore dan Malam di Puncak Bukit Nobita

Padang, Padangkita.com – Salah satu objek wisata yang makin populer di kalangan anak muda Kota Padang adalah Bukit Nobita. Destinasi wisata di puncak bukit ini berada di Kelurahan Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

Selasa (28/10/2020) sore, bersama sejumlah teman, Padangkita.com berkunjung ke Bukit Nobita. Bukit ini sebetulnya telah booming sejak beberapa tahun lalu.

Baca Juga

Konon kabarnya nama Bukit Nobita awalnya dipopulerkan oleh seorang mahasiswa yang sering berkunjung ke sana. Waktu itu, belum banyak yang tahun puncak bukit itu. Alasan dia memberi nama Bukit Nobita, karena pemandangan Kota Padang dari atas bukit tersebut mirip pemandangan dari bukit di belakang sekolah Nobita pada film kartun Doraemon.

Nama asli bukit itu sendiri adalah Bukit Batu Jarang, dan ada juga yang menyebutnya dengan Bukit Tigo Tungku, Bukit Batu Kasek, atau Bukit Kampung Jua.

“Pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit itu mirip dengan pemandangan bukit belakang sekolah Nobita di film Doraemon, makanya dinamakan Bukit Nobita,” cerita seorang teman.

Jadi, pada sore itu, bersama sejumlah teman, Padangkita.com berangkat dengan sepeda motor dari pusat kota. Cuaca yang cerah berawan pada hari itu ikut mendukung perjalanan kami.

Kami langsung mengarah ke kawasan Lubuk Begalung. Seorang teman yang mengaku pernah ke sana, ditunjuk sebagai pemandu.

Dengan sepeda bermotor, lokasi wisata Bukit Nobita bisa dicapai dengan waktu tempuh sekitar dua puluh menit dari pusat Kota Padang. Jaraknya hanya sekitar 10 kilometer.

Bagi yang ingin berkunjung, tapi tidak tahu arah jalan, jangan khawatir. Lokasi wisata ini ada di “Google Map”. Tinggal searching! Tidak terlalu sulit mencarinya.

Bila telah sampai di depan gerbang masuk Bukit Nobita, pengunjung bisa memarkirkan kendaraannya di tempat yang telah disediakan masyarakat setempat. Letak tempat parkir itu persis di depan gerbang masuk.

Di sini, pengunjung tidak hanya bayar uang parkir kendaraan, Rp3.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil. Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun mendapatkan karcis sebagai bukti telah membayar uang parkir.

Jalur ke Puncak Bukit Cukup Ekstrem

Kami pun langsung bergerak menuju puncak Bukit Nobita dengan berjalan kaki. Akses jalannya cukup menantang, karena memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Medan jalannya yang terjal masih berupa tanah dan bebatuan. Kiri-kanan jalan juga masih semak.

Bagi yang tidak kuat atau tak biasa mendaki, napas akan ngos-ngosan. Sesekali, kami harus berhenti sejenak di tempat yang agak datar untuk mengatur napas dan bersenda gurau. Salah seorang teman yang menderita asam lambung bahkan sampai muntah karena tidak kuat dengan terjalnya medan.

Sepanjang perjalanan pendakian menuju puncak bukit, sebetulnya sudah bisa melihat pemandangan Kota Padang. Pengunjung juga bisa membeli makanan atau minuman dari pedagang yang berdagang di beberapa titik di lereng bukit itu.

Namun, lelah selama perjalanan akan terbayar lunas jika sudah sampai di puncak. Sekitar 15 menit berjalan kaki, kami akhirnya sampai di puncak bukit yang disebut ‘Bukit Nobita’.

Di puncak Bukit Nobita, kami bisa melihat lanskap Kota Padang dari arah 180 derajat. Dari sini, memandang perumahan penduduk, masjid, kantor pemerintahan, jalan, pepohonan, dan sebagainya seperti miniatur. Tak itu saja, Samudra yang luas juga Nampak indah dari sini.

Bukit Nobita Padang, Kota Padang, Wisata Padang
Peta lokasi Bukit Nobita Padang. [Foto: Ist]
Beruntung sekali, pada saat itu, di puncak Bukit Nobita, dari kejauhan, kami dapat melihat kereta api melaju. Asap keluar dari lokomotif, bunyi klakson khas kereta api itu terdengar sayup-sayup.

Di atas bumi Kota Padang, matahari sore bersinar, awan-awan bergelantungan. Pemandangan ini membuat takjub. Angin yang berhembus sepoi-sepoi juga membawa kesegaran tersendiri setelah lelah mendaki.

Di puncak Bukit Nobita, ada sebuah spot dari kayu yang dibuat mirip sekali dengan kapal. Karena letaknya yang berada di puncak bukit, entah mengapa itu mengingatkan dengan bahtera Nabi Nuh. Bukan hanya kapal, di kawasan itu juga terdapat tiga kolam renang dengan kedalaman berbeda sesuai peruntukan, anak-anak, remaja, dan dewasa. Bagi pengunjung yang ingin berswafoto di atas kapal dan berenang bisa membayar uang masuk Rp5.000.

Kami kemudian memutuskan untuk mencoba naik ke kapal kayu itu. Ada sekitar satu jam kami berswafoto sembari menikmati pemandangan Kota Padang yang indah.

Setelah puas, menjelang magrib, kami duduk di kafe yang berada di sisi lain dari kapal. Kami menyantap makanan dan minuman sambil menunggu matahari terbenam.

Informasinya, banyak pengunjung yang datang ke sini pada sore hari untuk melihat “sunset”. Seperti sore itu. Di arah barat, sang surya sedikit demi sedikit telah kembali ke peraduannya. Awan-awan senja yang semula berwarna kuning oleh sinar matahari berganti dengan merah saga. Langit yang berwarna biru pun perlahan berubah jadi gelap.

Azan Maghrib yang berkumandang sayup-sayup terdengar. Penduduk Kota Padang pun mulai menyalakan lampu di rumah-rumah mereka. Begitu juga dengan lampu-lampu jalan. Semua terlihat kelap-kelip laksana cahaya kunang-kunang di malam hari.

Bagi pengunjung yang ingin melaksanakan salat, pengelola telah menyediakan musala di kawasan itu. Di sana juga ada kamar mandi yang bisa digunakan sebagai tempat berwudu. Kami dan beberapa teman langsung menunaikan kewajiban salat Maghrib.

Sebenarnya, usai salat Maghrib, kami berencana untuk pulang. Namun, pemandangan Kota Padang pada malam hari dari atas kapal yang penuh cahaya kelap-kelip lampu sangat sayang untuk dilewatkan. Kami kembali berswafoto. Ada sekitar setengah jam menghabiskan waktu sambil bersenda gurau.

Sampai waktunya hari makin malam, dan kami harus pulang. Sedikit berbasa-basi dengan pengelola, kamu kemudian mulai menempuh medan turunan bukit.

Saat malam, jalanan yang menurun tajam ternyata tak ada penerangan. Kami harus ekstra hati-hati. Dibekali lampu ponsel, kami menapak turunan Bukit Nobita.

Kamaludin, salah seorang pengunjung mengatakan Bukit Nobita merupakan destinasi wisata yang bagus. Dia bersama teman-temannya datang dari Bukittinggi untuk menikmati pemandangan Kota Padang dari puncak Bukit Nobita. Menurutnya, yang “menjual” dari lokasi wisata ini yaitu kapal kayu dan kolam renang.

“Memang jarang sekali tempat wisata yang notabene di atas bukit itu ada kapal dan kolam renang,” ujarnya. Dia juga memuji keindahan Kota Padang dari atas bukit itu. Dia ingin datang kembali ke tempat wisata ini suatu hari nanti.

Hanya saja, Kamaludin berharap, akses jalan menuju puncak bukit diperbaiki agar mudah dilalui.

Akses Jalan Segera Diperbaiki

Gayung bersambut, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Arfian yang dihubungi terpisah, mengatakan destinasi wisata Bukit Nobita memang merupakan salah satu destinasi wisata yang sedang disiapkan oleh Pemerintah Kota Padang.

Dinas Pariwisata Kota Padang, kata dia, telah mengunjungi destinasi wisata tersebut untuk memantau dan melihat potensi yang bisa dikembangkan untuk menarik kunjungan wisatawan.

“Kami mengunjungi Bukit Nobita dan bertemu dengan masyarakat yang mengelolanya. Kemudian melihat potensi apa yang bagus untuk dikembangkan,” jelasnya.

Baca juga: Ini 7 Tips Liburan Murah ke Padang ala Pemula

Arfian menyebutkan, setelah memantau, pihaknya berencana akan melakukan perbaikan akses jalan agar bisa dilalui semua orang. Sekarang, rute lumayan sulit dan tidak semua orang bisa menempuhnya.

Menurut Arfian, Pemko Padang juga berencana akan memasang penerangan jalan menuju puncak Bukit Nobita. “Agar ketika pengunjung pulang pada malam hari, jalan tetap bisa nampak jelas,” kata Arfian. [pkt]

Terpopuler