Saatnya Islamic Life Style

Penulis: Duski Samad

Majalah Tempo melansir ringkasan pidato Presiden Jokowi 15 Mei 2020 tentang normal baru. Normal baru berkaitan proses membuka jalan ekonomi seperti sediakala dan meminta masyarakat menerapkan kehidupan sosial dengan normal baru. Keterlibatan masyarakat untuk menetapkan gaya hidup baru dalam relasi sosial dan interaksi antar-manusia adalah kunci suksesnya pencegahan dan pengurangan risiko terpapar Covid-19 pasca-berakhirnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Ada 6 (enam) perilaku baru yang dipromosikan sebagai normal baru bagi pencegahan terpapar Covid-19. Menjaga jarak (physical distancing), sering mencuci tangan, etika batuk dan bersin, memakai masker di tempat umum, dan menjauhi kerumunan, serta tidak bersalaman.

Keenam gaya hidup itu di minta untuk dijadikan perilaku normal yang hendaknya dilakukan secara disiplin dan membudaya dalam kehidupan di ruang dan kesempatan apa saja. Lima normal baru di atas, sudah diajarkan Islam dan bahagian etika Islam yang sudah sejak 14 abad lalu di normalkan oleh Nabi dan umat Islam.

Salam dan Bersalam

Yang mengganggu dari normal baru paling berat itu adalah yang keenam tentang hindari bersalaman. Bersalaman dengan berjabat tangan bagi umat Islam itu sudah mendarah daging, walau secara normatif ada perbedaan bahwa salam tidak mesti berjabat tangan. Namun ada hadis bahwa bersalaman akrab itu adalah dengan muanaqah (bertemu bahu) bersentuhan pipi.

Menghindari sikap ketidaknyamanan ini, menghadapi penularan Covid-19 maka perlu wawasan baru. Yang pasti diperintahkan Allah adalah saling memberi salam penghormatan bila bertemu, tanpa ditegaskan untuk berjabat tangan juga, nash Al-Qur’an.

وَاِ ذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَ حْسَنَ مِنْهَاۤ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ

“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan). “(QS. An-Nisa’ 4: 86).

Ayat lain yang sering dijadikan dasar bersalaman-salaman, merujuk kata fa’fu wasfahu,

ۚ فَا عْفُوْا وَا صْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ

“Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya.

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 109).

Pesannya jiwa dan syiar Islam saling memberi salam wajib di tegakkan, berjabat tangan jika itu memang ada illat (alasan) yang berpotensi menimbulkan waswas dua belah pihak ya tinggalkan. Lakukan yang diyakini, tinggalkan yang diragukan, begitu hadis.

Jaga Jarak

Jaga jarak minimal satu meter dengan lawan bicara boleh saja, hanya ada suasana batin yang rasa tidak menyambung. Saling memahami antara lawan bicara bahwa berjarak ini hanya soal situasi saja, jiwa tetap dekat.

Memahami jaga jarak, patut juga dipertimbangkan artikel yang dimuat Zonautara ini:

Jarak ternyata memiliki makna penting dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bila salah mengatur jarak akan juga salah dipahami oleh lawan bicara. Bila anda seorang karyawan dan sedang bicara dengan atasan dengan jarak sejengkal, anda bisa dianggap sedang menerobos hingga ke batas wilayah tubuh (body territory).

Di kalangan akademisi, dikenal istilah proksemik (kedekatan). Istilah tersebut dikenal sebagai cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi. Proksemik (proxemics) pertama kali dikemukakan oleh seorang antropolog, Edward T. Hall, pada tahun 1963.

Edward mendefinisikan proksemik sebagai “the interrelated observations and theories of humans use of space as a specialized elaboration of culture”. Edward mengemukakan ada empat zona spasial dalam interaksi sosial di Amerika Serikat, yaitu zona intim, zona pribadi, zona sosial, dan zona publik.

Zona intim merupakan jarak dengan orang yang paling dekat dengan kita, yang kurang-lebih 0 sampai 45 centimeter (cm). Jarak ini biasanya hanya untuk hubungan seperti orang tua dengan anak atau suami-istri.

Zona pribadi merupakan jarak untuk kawan-kawan akrab, yang berjarak 45 cm sampai  1 meter. Terkadang orang yang tidak akrab diizinkan memasuki zona pribadi, misalnya waktu sedang berkenalan.

Kajian akademik memberikan panduan bahwa jaga jarak dalam sosial dan publik lebih dari satu meter adalah wajar dan tidak akan menimbulkan salah pengertian. Kesulitannya adalah mengubah kebiasaan yang tidak disiplin antara zona pribadi, sosial dan publik.

Mencuci Tangan

Cuci tangan adalah habit, kebiasaan umat Islam yang teguh mengamalkan ajaran bersuci dari najis dan hadas. Dalam surat al-Maidah/5:6 eksplisit dan terurai bahwa bila orang akan melaksanakan salat, sedang ia dalam bernajis dan berhadas maka wajib membasuh muka, tangan, kaki, menyapu kepala dan menyuci segala najis dan hadas dengan air, jika air tidak ada boleh diganti dengan tanah bertayamum.

Kaifiat, dan aturan bersuci dari najis dan hadas diurai panjang lebar dalam fiqih ibadah, jenis air, tara caranya dan macam-macam keadaan yang membatalkan suci dan wuduk. Dalam hadis dianjurkan untuk tetap dalam keadaan suci, wuduk yang tiada putusnya. Najis wajib segera disucikan.

Pada titik ini normal baru dengan sering kali mencuci tangan itu adalah mengamalkan pola hidup bersih sesuai syariat, Islamic life style yang mestinya umat Islam senang dan disiplin melakukannya. Islam suci, Allah mencintai kesucian, Kebersihan adalah bagian dari iman. Pesan hadis ini justru wajib kuadrat untuk diamalkan.

Etika Bersin dan Batuk

Bersin dan batuk dua yang berbeda. Bersin bisa ada pada orang yang sehat dan justru itu saluran pembuang penyakit. Batuk itu penyakit, tingkatnya berbeda. Virus Corona membuat batuk dan bersin seperti keduanya mencemaskan orang di sekitarnya. Batuk dan bersin menjadi media penyampai droplet yang membawa virus dan dapat melekat di benda apa saja, selanjutnya menular.

Normal baru disiplin dalam etika bersin dan batuk adalah sesuai bimbingan Rasul.

Dalam Islam, bersin dipandang sebagai nikmat Allah SWT kepada manusia agar terhindar dari dampak bibit penyakit. Maka itu, Rasulullah SAW banyak memberikan tuntunan dan adab ketika bersin.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, disebutkan saat hendak bersin, Nabi SAW menutup mulutnya dengan tangan atau baju beliau. Tujuannya agar suara bersinnya tidak terlampau keras. Satu hadis lain mengingatkan bersin yang keterlaluan sesungguhnya termasuk perbuatan setan.

“Allah SWT membenci perilaku mengencangkan suara bersin dan menguap.’’ (HR Abu Hurairah ra).

Sebaliknya, dianjurkan setelah bersin untuk mengucapkan hamdalah. Ada dua keutamaan. Dijelaskan Shaleh Ahmad asy-Syaami dalam /Berakhlak dan Beradab Mulia/, pertama, ini menunjukkan rasa syukur atas karunia Allah. Dan kedua, jika senantiasa mengingat Allah, tentu Allah pun akan menjaga kondisi tubuh hambanya.

Mereka yang berada di sekitar orang yang bersin, tidak terlepas dari tuntunan serupa. Rasulullah SAW menggarisbawahi bahwa apabila ada  seseorang mengucapkan Alhamdulillah ketika sedang bersin, maka wajib hukumnya bagi umat Muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan doa untuknya dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah selalu merahmatimu).

Selanjutnya, bila saudara atau temannya itu ada yang mendoakan saat dia bersin, hendaknya ia membalas dengan ucapan doa yahdiikumullah wa yushlihu baalakum (semoga Allah selalu memberi petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu).

Hebat akhlak Islam dan dapat dikatakan sebagai melampaui zaman ajaran Islam yang sudah menjadi budaya hidup umat Islam sejak awal Islam. Umat di era Pandemi Covid-19 ayo disiplin dalam bersin dan batuk. Islamic life style, menetap kan gaya hidup Islam.

Pakai Masker

Pakai masker menjadi gaya hidup sehari-hari itu jelas perlu pembiasaan. Untuk kesehatan pakai masker di ruang umum jelas besar manfaatnya, tetapi ada relasi yang terganggu, dan sulit mengenalkan orang langsung. Masker juga rasa ada sesuatu yang menghambat dalam bicara dan bernafas.

Bagi kaum perempuan muslim memakai masker, otomatis langsung sudah mengamalkan perintah Allah swt.

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَا جِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَا بِيْبِهِنَّ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰۤى اَنْ يُّعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59).

Jauhi Kerumunan

Menjauhi kerumunan sulitnya saat ada distribusi hak atau urusan publik. Lemahnya disiplin, ruang terbatas, pengaturan tidak tepat, pada layanan publik, seperti antre, kebiasaan menerobos, memotong hak orang lain, dan sejenisnya adalah penyebab paling mudah adanya kerumunan.

Kerumunan atau orang dengan jumlah banyak ada di pasar, fasilitas umum dan juga di rumah ibadah. Kesadaran kolektif publik dan kesediaan menghargai orang lain perlu diperkuat di tempat keramaian. Keteladanan pejabat negara, pemimpin informal dan orang yang sudah berpendidikan adalah media untuk tumbuhnya kebiasaan dan tradisi antri, santun dan berjarak dalam relasi sosial.

Penutup

Islamic life style – yang lainnya menyebutnya normal baru–adalah budaya dan gaya hidup yang membutuhkan kesadaran kolektif. Mengucapkan salam, tanpa bersalaman itu tetap baik dan tidak perlu dimasalahkan. Menjaga jarak 1 meter dalam urusan sosial dan publik, itu wajar saja untuk kebaikan semua.

Sering mencuci tangan, akan lebih sempurna di amalkan sunah tetap selalu dalam keadaan berwudu. Etika menutup bersin dan batuk ditambah dengan saling mendoakan adalah sunah. Memakai masker di ruang publik untuk maslahat bersama. Menjauhi kerumunan adalah sikap baik untuk waspada.

Semoga Islamic life style, gaya hidup Islam dapat menjadi kebiasaan hidup. Amalkan sunah dan sehat bersama Islam. Normal baru, hanya bagi yang mengabaikan Islam. [*]


Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Terpopuler

Add New Playlist