Penangkapan 16 Tersangka Teroris, Duski Samad: Jangan Kaitkan dengan Masyarakat Sumbar Religius

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita – Cendekiawan muslim Prof Duski Samad mengingatkan semua kalangan untuk tidak mengaitkan penangkapan 16 tersangka teroris dengan masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) yang religius.

Apalagi, kata Duski, sampai pula ada yang menyimpulkan bahwa Sumbar sarang teroris atau banyak teroris.

“Bahwa Sumbar sarang teroris, banyak teroris, itu tidak tepat! Dari sudut mana saja tidak tepat. Kalau karena iklim keagamaan? Di Sumbar iklim keagamaan yang kondusif. Tidak ada aliran garis keras di Sumbar. Kalau pun ada terbatas sekali, yang dominan itu yang moderat,” ungkap Duski ketika berbincang dengan Padangkita.com, Selasa (29/3/2022).

Menurut guru besar Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN IB), penangkapan 16 teroris baru-baru ini di wilayah Sumbar, perlu dipelajari lebih dalam.

“Biarlah aparat yang mempelajari,” kata Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatra Barat (Sumbar) ini.

Lebih jauh mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang ini menegaskan, penangkapan teroris tersebut bisa terjadi di daerah mana saja. Sebab, seperti kondisi saat ini semuanya serba terbuka, tidak ada daerah yang bisa ditutup, termasuk Sumbar.

“Tidak ada daerah yang tertutup, ini daerah terbuka. Karena itu, bisa saja (yang ditangkap) bukan orang Sumbar. Ini daerah tidak dipagar sampai ke langit. Tidak ada pagar,” ujarnya.

Oleh sebab itu, tidak bisa dikaitkan penangkapan teroris dengan masyarakat Sumbar yang religius.

Bahkan, lanjut Duski, sejauh ini tidak pula bisa dipastikan bahwa yang ditangkap benar-benar teroris. Sebab, kata Duski, tidak ada yang melihat ada gerakan.

“Jujur saja, kita tidak melihat dan tidak mencium ada gerakan teroris,” ulasnya.

Ia berpendapat, kalau hanya sekadar pemikiran, itu adalah hak setiap orang.

“Tapi kalau gerakan, bagaimana pula bisa mengatakan orang itu teroris. Kalau hanya 16 orang apa yang mau dikuasai, jangankan Polres, Polsek saja tak akan bisa dikuasai oleh yang 16 orang itu,” ungkap Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumbar ini.

Menurut Duski, penangkapan 16 tersangka teroris tidak bisa dibaca secara linear terbuka saja. Semuanya, kata Duski, mesti dilihat dalam dimensi yang luas.

“Mungkin ada maksud lain dari pihak tertentu. Yang pasti kita di Sumbar jelas tidak setuju dengan teroris. Itu sudah pasti,” tegasnya.

“Kita memberikan apresiasi membuat masyarakat tetap tenang. Tapi kalau ketenangan ini diusik terus dalam hal yang tidak jelas itu, itu berbahaya. Itu yang harus diingatkan,” ungkap Duski.

Orang Sumbar, kata Duski, kalau memang sudah jelas tidak akan jadi masalah.

“Tapi kalau yang tidak jelas dibesar-besarkan, bisa menimbulkan masalah. Itu yang perlu diingatkan pada pihak-pihak yang belum pasti sudah menempatkan teroris dan dihubungkan pula dengan Sumbar,” ingatnya.

Duski menyarankan, agar semua pihak melakukan ‘tabayyun’. Sebab lanjut Duski, sejauh ini ia belum yakin ada teroris sebagai suatu gerakan.

“Tapi kalau ada pemikiran-pemikiran, itu hal-hal yang wajar saja di era demokrasi kini,” ujar Duski Samad.

Sekadar diketahui, Densus 88 Antiteror Mabes Polri baru saja menangkap 16 orang tersangka teroris di Sumbar.  Menurut Polisi, 16 tersangka teroris yang ditangkap di Sumbar terindikasi berkaitan dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Gatot Repli Handoko menyebutkan, 16 tersangka teroris itu memiliki peran, pertama, yaitu berkeinginan untuk mengubah ideologi negara.

“Yang kedua memiliki niat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah apabila NKRI mengalami chaos,” ujarnya.

Kemudian, 16 tersangka teroris ini juga rutin melakukan latihan ala militer. Mereka bahkan juga merencanakan persiapan logistik berupa persenjataan.

Baca juga: Polri: 16 Tersangka Teroris yang Ditangkap di Sumbar Terkait NII, Ingin Ubah Ideologi Negara

“Berikutnya, melakukan perekrutan anggota secara masif di wilayah Sumbar dengan melibatkan anak-anak di bawah umur. Kemudian terhubung dengan kelompok teror wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Bali,” ungkap Gatot. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist