Pengibaran Merah Putih Pertama di Payakumbuh dan Limapuluh Kota Ternyata Bukan 17 Agustus 1945

Penulis: Redaksi

Payakumbuh, Padangkita.com – Pengibaran Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, bukan pada17 Agustus 1945 atau saat Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Sang saka Merah Putih di kedua daerah serumpun budaya ini, baru dapat dikibarkan pejuang bersama rakyat pada September 1945.

Fakta sejarah ini diungkapkan HC Israr, Ketua DPRD Gotong Royong Limapuluh Kota 1967-1970, sekaligus salah satu pendiri Kotamadya Payakumbuh, dalam sejumlah tulisannya. Tulisan-tulisan HC Israr ini sebagian besar juga telah dibukukan oleh putranya Letkol CAJ Hikmat Israr, yang kini bertugas di Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat.

Menurut HC Israr dan Hikmat Israr dalam buku “Nan Taserak, Seputar Tambo dan Perjuangan Rakyat Limapuluh Kota”, Merah Putih baru dikibarkan di Payakumbuh dan Limapuluh Kota pada September 1945 karena faktor informasi. Rupanya, pejuang di Payakumbuh dan Limapuluh Kota baru mengetahui Indonesia Merdeka pada 29 Agustus 1945, melalui siaran radio yang disampaikan M Syafei, Ketua Sumatra Tyuo Sang In (lembaga setingkat DPRD).

Begitu mendapat informasi dari M Syafei, para pejuang di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, langsung membentuk panitia pengibaran bendera Merah Putih pertama di kedua daerah tersebut. Sebab dulunya, Payakumbuh dan Limapuluh Kota memang satu administrasi pemerintahan. Baru pada 1970, Payakumbuh resmi “berpisah” dari Limapuluh Kota. Itu pun, juga tak lepas dari andil tokoh-tokoh Limapuluh Kota.

Para pejuang atau tokoh-tokoh yang terlibat sebagai panitia pengibaran bendera Merah Putih pertama di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, umumnya tergabung dalam Komite Nasional Indonesia (KNI) Kabupaten Limapuluh Kota. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah H Fachruddin HS Dt Majo Indo dari Situjuah, Limapuluh Kota, dan H Zainuddin Hamidy dari Koto Nan Ompek, Payakumbuh.

Baca juga: Jangan Lupa, Hari Ini Tepat Pukul 10.17 WIB Ambil Sikap Sempurna dan Beri Hormat pada Merah Putih

Kedua tokoh ini juga tercatat sebagai ulama pertama di Indonesia yang menulis tafsir terjemahan Al-Quran dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Bahkan, Fachruddin HS Dt Majo Indo yang merupakan ayah kandung Hakim Agung Republik Indonesia, Irfan Fachruddin, bersama H Zainuddin Hamidi, yang merupakan pendiri Mahad Islami Payakumbuh. Bersama beberapa ulama lain, mereka juga tercatat sebagai kelompok pertama di tanah air yang menulis terjemahan hadis-hadis sahih Bukhari dan Muslim ke dalam bahasa Indonesia.

Selain Fachruddin HS Dt Majo Indo dan Buya Zainuddin Hamidi, tokoh atau pejuang lain yang terlibat sebagai panitia pengibaran bendera Merah Putih pertama di Payakumbuh dan Limapuluh Kota adalah H Darwis Dt Tumangguang atau Darwis Taram yang merupakan ayah dari mantan Bupati Limapuluh Kota, Amri Darwis. Bersama Darwis Taram, juga tergabung dalam kepanitiaan ini, Arisun St Alamsyah (mantan Bupati Militer Limapuluh Kota), H Rusli A Wahid, Amiruddin KR, Anwar ZA, Dr Adnaan WD, dan beberapa nama lain.

Adapun lokasi pengibaran Bendera Merah Putih pertama di Payakumbuh adalah di kantor Komite Nasional Indonesia Kabupaten Limapuluh Kota yang sebelumnya merupakan Kantor Ho Ko Kai (Badan Kebaktian Rakyat) bentukan penjajah Jepang. Sekarang, tempat tersebut sudah menjadi bangunan perguruan Taman Siswa (Tamsis). Letaknya di Jalan Soedirman arah ke Simpang Benteng atau pas di depan Plaza Payakumbuh sekarang.

Tempat itu sendiri, menurut HC Israr, dulunya adalah sebuah gedung beratap seng, berlantai papan dan berdinding papan. Dari tempat sangat sederhana itulah, dulunya Merah Putih pertama kali dikibarkan di Kota Payakumbuh. Adapun pasukan yang ikut dalam pengibaran bendera itu, dianytaranya adalah Hamid Ibrahim, aktivis perjuangan asal Rao-Rao, Kabupaten Tanah Datar.

Merah Putih Dikibarkan di Suliki

Sementara di Kabupaten Limapuluh Kota, lokasi pengibaran bendera Merah-Putih pertama, ternyata tidak di kantor atau gedung pemerintahan. Melainkan pada sebuah rumah penduduk di Suliki. Kebetulan, semasa itu letaknya bersebelahan dengan kantor pemerintahan Jepang.

Sekarang, rumah penduduk tersebut sudah rubuh. Begitu pula dengan bangunan kantor pemerintahan Jepang. Sehingga amat sulit bagi para penikmat sejarah, untuk melihat bukti-bukti peninggalannya. Apalagi di sana tidak ada pengumuman ataupun plang nama yang bisa dijadikan petunjuk.

Untung saja, saat seorang wartawan dari Payakumbuh melakukan investigasi ke Suliki beberapa tahun lalu, para pemuka masyarakat setempat, di antaranya bernama A Dt Rajo Di Bodi, Marlis, dan H Wardi Geneng, bermurah hati memberi petunjuk.

Menurut mereka, lokasi pengibaran bendera Merah Putih pertama di Suliki itu adalah sebidang lahan yang sempat disulap menjadi gedung UPT/Cabdin Dinas Pendidikan Suliki. Letak lahan tersebut berada persis di antara Kantor Camat Suliki dan SDN 01 Suliki.

Lantas, mengapa pengibaran bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Kabupaten Limapuluh Kota tersebut dilakukan di rumah penduduk sipil? Atau bukan di kantor Jepang dan gedung pemerintahan lain yang ada pada saat itu?

Menurut HC Israr dalam bukunya, hal ini terjadi karena Azinar, Angku Demang Suliki yang berkuasa saat itu mengeluarkan larangan. Sehingga para pejuang dan warga yang berjumlah sekitar 1.500 orang sepakat mengibarkan bendera Merah Putih di rumah yang bersebelahan dengan kantor Jepang.

Sebelum mengibarkan bendera Merah Putih, tulis Hikmat Israr, para pejuang bersama warga terlebih dahulu berkumpul di lapangan sepakbola Koto Kaciak, Kecamatan Guguak. Mereka dikumpulkan oleh seorang pejuang bernama Mawardi HN yang merupakan jebolan Gyu Gun Sasaki Butai Padang.

Sayang seribu kali sayang, kumpulan sejarah yang teramat panjang itu, kini mulai terlupakan. Para pejabat, termasuk juga para politisi di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, tidak banyak berkarakter seperti para politisi dari generasi “the founding fathers” di masa lalu yang memiliki apresiasi sejarah amat baik. Sehingga tak heran, bila sejarah kerap kehilangan elan vitalnya.

Harapan pun kini terselip kepada guru-guru di sekolah. Kaum ‘Oemar Bakrie’ ini diharapkan bisa menukilkan kisah-kisah sejarah lokal yang sarat keteladanan kepada murid-muridnya, untuk memperkaya wawasan kebangsaan dan mempertebal rasa cinta Tanah Air. Sehingga, generasi penerus kita, tidak sekadar keranjingan gim online atau tidak terjebak dalam euforia kelompok yang merasa paling benar di atas bumi. [gse/pkt]


Baca berita Payakumbuh terbaru hanya di Padangkita.com