Pandemi Covid-19, Daya Tahan Tubuh serta Kebutuhan Berjemur

Penulis: Redaksi

Jangan pertanyakan lagi manfaat berjemur, karena beberapa penderita Covid-19 sudah membagi pengalamannya, dan itu cukup menjadi pegangan kita dengan bersikukuh memanfaatkan sumber daya alam yang tak habis-habisnya ini

Sudah lebih dari dua minggu kita mengikuti anjuran pemerintah agar stay at home, berdiam diri di rumah, sambil berharap kesehatan kita akan lebih baik. Anjuran dokter, walau di rumah ada baiknya selingi dengan berjemur (sun bathing), memanfaatkan sinar matahari yang akan meningkatkan daya tahan tubuh. Bila daya tahan tubuh optimal maka virus apa pun itu akan mampu dilawan serta dilumpuhkan. Biasanya demikianlah pemahaman orang awam.

Pertanyaannya adalah jam berapa sesungguhnya paling baik berjemur? Beberapa penjelasan para dokter belum ada kesepakatan. Ada yang menyebutkan  pada pagi hari tanpa menyebut pukul berapa. Ada yang menyebutkan antara pukul 10.00– 12.00, ada pula yang menyebutkan sepanjang sinar matahari ada.

Satu informasi yang diperoleh adalah jenis sinar ultraviolet yang dibutuhkan sebaiknya  UV-B, sedangkan UV-A disebut kurang baik, karena dapat mengakibatkan kulit keriput. Sedangkan UV-C disebut banyak diaplikasikan di instalasi air isi ulang, karena jenis UV yang satu ini disebut bisa membunuh bakteri. Jadi, intinya sebisanya kulit kita tak terlalu lama kena sinar UV-A apalagi UV-C. Kesimpulannya: yang paling baik adalah UV-B dan itu pun berjemur untuk berapa lama mesti sesuai anjuran dokter.

Sampai di sini menjadi lebih tampak perlunya pengetahuan kita lebih lanjut tentang sinar ultraviolet ini. Sinar matahari tentu memancarkan beberapa panjang gelombang. Khusus UV ini, yang kita terima adalah total sinar UV. Namun kulit kita sebaiknya bisa memilah-milahnya. Caranya bagaimana?

Tak ada cara, selain kita memahami pukul berapa sebaiknya kita berjemur di mana UV-B lebih dominan agar kita bisa memanennya. Kalau intensitas UV-B rendah sebaiknya janganlah diteruskan berjemur.

Pertanyaan yang perlu mendapat kejelasan, apakah sinar UV-B dapat membunuh virus Covid-19? Jawabnya tidak secara langsung, tetapi daya tahan tubuh yang meningkatlah yang menyebabkan tubuh dapat melawan setiap pathogen yang masuk ke dalam tubuh kita.

Ada beberapa testimoni dari beberapa orang yang terbebas dari Covid-19, yang tadinya sudah positif. Mereka  melakukan isolasi mandiri, dan tak alpa setiap pagi berjemur, akhirnya berujung baik, menjadi negatif Covid-19

Pakar Biokimia UNIMED Prof Albinus Silalahi menyebutkan virus Corona ini bukanlah makhluk hidup melainkan hanya biomolekul, di mana bioaktivitasnya bisa hilang tergantung dengan lingkungannya. Apakah dekonformasi virus ini terjadi apabila suhu lingkungan tinggi atau bila rajin berjemur, sesungguhnya belum ada penelitian. Namun adalah tindakan bijak bila testimoni sukses dari beberapa penderita Covid-19 untuk sementara ini perlu diperhatikan.

Memanen Sinar UV-B

Budi Satria, Kepala Stasiun Klimatologi Lampung menyebutkan, tubuh kita hanya membutuhkan UV-B untuk kesehatan. Namun UV-B nilainya hanya 5% dari total UV, selebihnya adalah UV-A. Dari data hasil pengukuran yang dilakukan Stasiun Klimatologi Lampung, terlihat UV-B pada nilai maksimum adalah antara pukul 09.00–12.00. Di atas itu UV-A terlalu dominan dan intensitasnya sudah semakin kuat. Supaya tubuh kita tidak terkena UV-A maksimum, maka kita dianjurkan berjemur pukul 09.00–12.00, karena pada selang waktu inilah yang terbaik untuk penyerapan UV-B.

Disebutkan lebih lanjut, pengamatan di Stasiun Klimatologi Lampung seperti dijelaskan dalam gambar, total UV mulai maksimum  di atas 20 W/m2 pada pukul 09.00 -14.00.

Sementara UV-B yang hendak kita sesuaikan, mirip dengan pola dimaksud, tetapi bagaimanapun sebaiknya kita mulai memilih antara pukul 09.00–12.00, saat kurva UV-B yang sudah mulai menaik secara  tegas.

Durasi (lama) berjemur perlu diketahui juga. Beberapa penjelasan para ahli mengatakan cukup 30 menit berjemur, kalau kelamaan maka dikhawatirkan kulit akan melepuh; terkadang sering kita saksikan orang  memakai cream khusus buat memproteksi agar tidak melepuh.

Infografis sinar matahari dan ultraviolet berikut ini mungkin bisa dijadikan sebagai pedoman yang cukup lengkap dalam memilih berapa lama kita sebaiknya berjemur.

Disebutkan, untuk setiap orang tidak dianjurkan melakukannya dalam durasi yang sama, karena tergantung dengan warna kulit pula.

Orang yang berkulit putih kaukasia cukuplah berjemur selama kira-kira 5 menit, bergeser ke kuning langsat 10 menit, sawo muda 15 menit, sawo tua 20 menit, cokelat 30 menit, hingga orang yang berkulit hitam yang tahan lama 60 menit atau satu jam boleh.

Intensitas sinar UV-B pada umumnya sudah masuk kategori sedang ketika menjelang pukul 09.00 dan mencapai puncaknya pada pukul 12.00. Setelahnya akan kembali semakin melemah. Jadi benarlah pendapat para pakar yang dirujuk sebelumnya itu. Menurut penulis untuk orang Indonesia, yang pada umumnya memiliki warna kulit antara kuning langsat hingga sawo tua/matang, disarankan berjemur antara 10 hingga 20 menit dengan memilih waktu antara pukul 09.00 hingga 12.00  biar optimal manfaatnya. Bila masih beranjak di sekitar pukul 09.00 boleh lebih lama, tetapi ketika memasuki jelang pukul 12.00, berjemurnya sebaiknya cukup dipersingkat saja.

Informasi kondisi sinar UV dari bulan ke bulan tentu saja berubah karena posisi matahari dengan bumi yang senantiasa berubah. Kita berada di lintang dan bujur berapa ke depan ini menantang untuk mendapatkan informasi yang presisi, agar setiap orang merencanakan kapan mereka sebaiknya berjemur dan untuk berapa lama.

Indonesia yang berada di ekuator memang boleh dikatakan hampir sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari. Namun kita sependapat,  perbedaan dari bulan ke bulan tentu ada dan apabila disandingkan dengan potensi tutupan awan maka informasi ini diharapkan semakin berguna. Misal, untuk kebutuhan para wisatawan yang merencanakan kegiatan berjemurnya disesuaikan dengan waktu kunjungannya  yang memang terbatas.

Stasiun Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang yang ada di Sumatra Barat fokus dalam pengamatan atmosfer, mulai membuat satu produk informasi sinar ultraviolet dengan tampilan videografis.

Memang, informasi UV ini masih dalam tahap uji coba dan sementara ini masih disebarkan di grup-grup WhatsApp internal dan belum merambah hingga publik atau stakeholder yang fokus dalam bidang pariwisata, misalnya.

Kepala Stasiun Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang, Wandayantolis mengakui informasi ini memang belum diberikan secara langsung kepada publik. Alasannya, agar sebelum menjadi konsumsi masyarakat, biarlah dulu beberapa saat berlangsung melalui proses sosialisasi, semisal dijadikan materi pembelajaran pada Sekolah Lapang Iklim yang setiap tahun diselenggarakan oleh BMKG, agar pemahaman publik akan perlunya informasi ini semakin tinggi.

Jadi Pedoman

Pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk berusaha keras sanggup menghadapinya dengan cara membangun antibodi yang kuat. Memang tak ada penelitian menyebutkan berjemur dapat langsung membunuh virus, tetapi  dengan berjemur sudah lama kita ketahui akan meningkatkan kesehatan, sehingga jika ada intervensi virus jenis apa pun, kita tetap kuat/survive.

Informasi ini cukup menjadi pedoman tentang kapan mau berjemur di sela-sela stay at home, dan berapa lama sebaiknya berjemur, dapat disesuaikan saja dengan kondisi setiap individu.

Sedangkan informasi sinar UV yang sesuai dengan berbagai bidang kehidupan masyarakat, terus dikembangkan oleh BMKG dan seterusnya kelak akan digunakan masyarakat dalam mendukung aktivitasnya.

Jangan pertanyakan lagi manfaat berjemur, karena beberapa penderita Covid-19 sudah membagi pengalamannya, dan itu cukup menjadi pegangan kita dengan bersikukuh memanfaatkan sumber daya alam yang tak habis-habisnya ini.

Semua berharap pandemi ini segera berakhir. Namun kecenderungan untuk itu belum tampak, sehingga upaya kita bagaimana pun mesti maksimal, termasuk dengan berjemur ini. Apakah berjemur akan menyebabkan dekonformasi struktur virus Corona, masih perlu diteliti lebih lanjut. [*]


Wandayantolis, Manat Panggabean, dan Dodi Saputra
Ketiga penulis bekerja pada Stasiun GAW Bukit Kototabang, Sumatra Barat