Mengenang 3 Batalyon Legendaris di Payakumbuh, Bukittinggi, dan Padang Panjang

Padang, Padangkita.com – Awal kemerdekaan Republik Indonesia, Tentera Keamanan Rakyat (TKR)/Tentera Republik Indonesia (TRI) yang menjadi cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), punya 14 Batalyon di Ranah Minang. Khusus pada HUT ke-75 TNI yang jatuh pada Senin (5/10/2020) ini, Padangkita.com menurunkan sejarah tiga Batalyon legendaris di Padang Panjang, Bukittingi, dan Payakumbuh.

Aneh, suatu negara zonder (tanpa) tentera. Itu kata Jenderal TNI (Anumerta) Oerip Soemohardjo saat bertemu dengan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 22 Agustus 1945, sebagaimana ditulis Profesor H Oesman Raliby dalam “Buku Sejarah Hari Pahlawan Nasional”.

Baca Juga

Dalam pertemuan itu, Urip Sumoharjo yang bekas Mayor KNIL (Tentara Hindia Belanda), diangkat Wapres Mohammad Hatta menjadi Kepala Staf Umum dengan tugas khusus membentuk tentera (tentara). Seiring dengan pengangkatan itu, Presiden Soekarno pada 5 Oktober 1945 juga menerbitkan Dekrit Presiden yang menginstruksikan pembentukan Tentera Keamanan Rakyat (TKR), untuk memperkuat keamanan umum.

Pada 1 Januari 1946, berdasarkan Penetapan Pemerintah No.2/S.D.1946, istilah Tentera Keamanan Rakyat (TKR) ini, sempat diganti menjadi Tentera Keselamatan Rakyat, tetapi singkatannya tetap TKR. Namun, 24 hari kemudian, tepatnya 25 Januari 1946, Presiden Soekarno kembali menerbitkan Dekrit. Dalam Dekrit ini, istilah Tentera Keselamatan Rakyat diganti lagi menjadi Tentera Republik Indonesia (TRI).

Untuk membentuk TRI ini, pemerintahan Soekarno-Hatta mengangkat satu panitia yang beranggotakan ahli-ahli militer dan ahli-ahli lain yang dianggap perlu. Mereka saat itu adalah Letjen Raden Urip Sumoharjo, Jenderal Mayor Suryadarma, Jenderal Mayor Didi Kartasasmita, Jenderal Mayor Mustopo, Kolonel Sutirto, Kolonel Sunjoyo, Kolonel Holan Iskandar, Mayor Simatupang, Profesor Dr Supomo, dan Profesor Ir Rooseno.

Setahun setelah dibentuk, nama TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Badan Penulisan Buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950 Jilid I” mencatat, perubahan nama TRI menjadi TNI ini berlangsung pada 5 Mei 1947. Namun, wikipedia mencatat, perubahan TRI menjadi TNI itu resminya dilakukan pemerintah pada 3 Juni 1947.

Lima belas tahun kemudian, tepatnya pada 1962, TNI dan Polri digabungkan menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Kemudian, pada 1 April 1999, Polri dan TNI resmi berpisah. ABRI pun, kembali menjadi TNI.

Sejarah Lahirnya Tentara di Ranah Minang

Kembali kepada Dekrit Presiden 5 Oktober 1945 tentang pembentukan TKR, ternyata titah dari Presiden ini disambut hangat oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia di Minangkabau. Bahkan, pada bulan Oktober itu juga, TKR dapat dibentuk di Minangkabau yang saat itu meliputi wilayah Provinsi Sumatra Barat, Provinsi Riau, dan sebagian Provinsi Jambi.

Dalam buku “Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950 Jilid I” yang ditulis Mr Sutan Mohammad Rasjid dkk, diketahui, pembentukan TKR di Sumbar dan Riau  dapat dilaksanakan dengan cepat di dalam bulan Oktober 1945 atau tiga hari sebelum tentara Sekutu mendarat di Kota Padang. Awal dibentuk ini, kekuatan TKR atau TNI di Sumbar dan Riau, baru terdiri dari sepuluh kesatuan.

Kesepuluh kesatuan awal TKR atau TNI di Sumbar dan Riau itu terdapat pada 10 daerah yang kini tersebar pada tiga provinsi (Sumbar, Riau, dan Jambi). Meliputi, Padang, Sungai Penuh, Painan, Pariaman,  Padang Panjang, Solok, Batusangkar, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Pekanbaru.

Kesatuan TKR Padang awalnya dipimpin oleh Jazid  Abidin, kemudian diserahkan kepada Ahmad Husein. Sedangkan, Kesatuan Sungai Penuh dipimpin A Thalib, Kesatuan Painan dipimpin Alwi St Maradjo, Kesatuan Pariaman dipimpin Mahjoedin Tonek, dan Kesatuan  Padang Panjang dipimpin Anas Karim.

Sementara, Kesatuan TKR Solok dipimpin Sjarief Oesman dan Kesatuan Batusangkar dipimpin Dahlan Ibrahim. Sedangkan, Kesatuan Bukittinggi awalnya dipimpin Dahlan Djambek, kemudian diserahkan kepada A Halim. Adapun Kesatuan Payakumbuh dipimpin Makinuddin HS dan Kesatuan Pekan Baru dipimpin Hasan Basri.

Setelah 10 kesatuan terbentuk, keberadaan TKR yang menjadi cikal-bakal TRI dan TNI, makin melejit di Sumbar dan Riau. Ini menyusul lahirnya Batalyon riel di Padang Panjang, Payakumbuh, Bukittinggi dan tempat-tempat lain. Sehingga, dalam waktu yang tidak lama, TKR di Sumbar dan Riau, berkembang menjadi empat Resimen yang membawahi 14 Batalyon.

Resimen I di bawah komando Letnan Kolonel Sjarif Oesman, berkedudukan di Bukittinggi, terdiri dari empat Batalyon. Yaitu Batalyon 1 di Padang Panjang dipimpin oleh Mayor Anas Karim, Batalyon II di Bukittinggi dipimpin oleh Mayor Abdul Halim, Batalyon III di Payakumbuh dipimpin oleh Mayor Makinuddin HS, dan Batalyon IV Pasaman dipimpin oleh Kapten Djohan Ezeddyn.

Resimen II di bawah komando Letnan Kolonel Dahlan Ibrahim, berkedudukan di Sawahlunto, terdiri dari tiga Batalyon. Yaitu, Batalyon 1 di Batusangkar dipimpin oleh Mayor Syofyan Ibrahim, Batalyon II di Singkarak dipimpin oleh Mayor Mansur, dan Batalyon II di Sungaipenuh (Kerinci) dipimpin oleh Mayor A Thalib.

Resimen III berkedudukan di Lubuak Alung Pariaman, di bawah komando Letnan Kolonel Ismail Lengah, terdiri dari tiga Batalyon. Yakni, Batalyon I di Padang dipimpin Mayor Ahmad Husein, Batalyon II di Pariaman dipimpin Mayor Mahyuddin Tonek, dan Batalyon III di Painan dibawah pimpinan Mayor Alwi St Maradjo.

Resimen IV di Pekanbaru di bawah pimpinan Letnan Kolonel Hasan Basri terdiri dari lima Batalyon. Yakni, Batalyon I di Pekan Baru di bawah pimpinan Mayor D.I Penjaitan, Batalyon II di Bengkalis di bawah pimpinan Mayor Arifin Ahmad, Batalyon II di Rengat di bawah pimpinan Mayor Joesoef Noer, Batalyon IV di luar Kota Pekanbaru di bawah pimpinan Mayor Oesman Pohan, dan Batalyon Artilerie di Pekanbaru di bawah pimpinan Mayor Rasjid.

Batalyon Legendaris Ranah Minang

Dari 14 Batalyon yang didirikan pada awal pendirian TKR/TRI di Ranah Minang, ada tiga Batalyon yang legendaris. Yakni, Batalyon 1 Padang Panjang, Batalyon II Bukittinggi, dan Batalyon III Payakumbuh.

Ketiga Batalyon ini berada di bawah komando Resimen I Divisi III TRI. Resimen I Divisi III TRI ini, awalnya dipimpin Letnan Kolonel Sjarif Oesman. Namun, dia kemudian digantikan oleh Letnan Kolonel Abdul Halim.

Ketiga Batalyon ini, punya julukan yang unik. Batalyon 1 Padang Panjang, misalnya, dikenal juga sebagai “Batalyon Merapi”. Semula, “Batalyon Merapi” ini dipimpin  oleh Mayor Anas Karim, kemudian ditimbangterimakan kepada Kapten Kamaruddin yang sebelumnya menjabat Komandan Kompi II Batalyon II Bukittinggi.

Sedangkan Batalyon II Bukittinggi, dikenal juga sebagai “Batalyon Berangin”. Komandan “Batalyon Berangin” ini awalnya adalah Mayor Abdul Halim. Namun, tak lama menjabat, atau setelah sukses menjalankan operasi penumpasan PKI di Baso dan Lubuk Basung, Mayor Abdul Halim naik pangkat menjadi Letkol dan mendapat amanah sebagai Komandan Divisi III TRI.

Setelah ditinggalkan Mayor Abdul Halim, jabatan Komandan Batalyon II Bukittingi atau Batalyon Berangin, diemban Mayor Abu Nawas. Sang Mayor sebelumnya juga pernah bertugas sebagai Kepala Polisi Kota Bukittinggi menggantikan Djojodirdjo.

Pasukan-Pasukan dari Batalyon II Bukittinggi atau Batalyon Berangin ini merupakan pasukan pertama dari daerah pedalaman Sumatra Barat yang dipindahkan ke front Padang Timur dan Utara dalam menghadapi tentara Sekutu dan Belanda. Di Batalyon II ini, terdapat nama-nama kompi yang terkenal di medan perang, yakni Kompi Berayun, Kompi Baron, Kompi Badai, dan Kompi Bakipeh. Selain itu, juga ada Kompi Istimewa yang berkedudukan di Lubuak Basung dipimpin Letnan II Mahyuddin.

Sementara itu, Batalyon III Payakumbuh, dikenal juga dengan sebutan Batalyon Singa Harau. Batalyon Singa Harau di Payakumbuh ini, semula dipimpin Mayor Makinuddin HS. Kemudian, Mayor Makinudin digantikan oleh Kapten Kamaruddin. Setelah itu, Kapten Kamaruddin digantikan Kapten Mustaf Kemal. Dan terakhir, jabatan Komandan Batalyon II Payakumbuh atau Batalyon Singa Harau, dipimpin Kapten Zainuddin “Tembak”, ayah mendiang Mayjend Ismed Yuzairi, mantan Pangdam I Bukit Barisan.

Kini, dalam usia TNI yang sudah 75 tahun, dari tiga Batalyon legendaris ini, tinggal satu Batayon yang masih ada di Payakumbuh. Yakni, Batalyon 131/Braja Sakti di Tiaka. Namun, dalam sejarah yang tertera kini, embrio Batalyon I31/Braja Sakti bukan berasal dari Batalyon Singa Harau, melainkan dari pasukan Mayor Noermatias yang menentang pasukan PRRI di Kota Pariaman, kemudian sebagai penghargaan Mayor Noermatias ditunjuk untuk membentuk Batalyon Infanteri A yang kemudian menjadi Batalyon 131/Braja Sakti Payakumbuh.

Baca juga: 75 Tahun TNI, Inilah Sejarah Pembentukan TNI di Sumbar dan Riau

Sedangkan di Padang Panjang, kini walau tak ada lagi Batalyon Merapi, namun di Kota Serambi Mekkah tersebut, terdapat Sekolah Calon Tamtama (Secata) B Padang Panjang yang terkenal itu. Sedangkan di Bukittinggi, walau sudah tidak ada lagi Batalyon Berangin yang tangguh itu, namun di Kota Wisata tersebut, kini terdapat Markas Kodim 0304/Agam dan Rumah Sakit TNI AD TK IV Bukittinggi. (pkt)

Terpopuler