Kunci Sukses Kabupaten Sitaro Raih Predikat “Zero Covid-19”

Penulis: Mentari Tryana

Jakarta, Padangkita.com – Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, meraih predikat “Zero Covid-19” dari BNPB karena bebas dari kasus virus Corona atau Covid-19 sejak awal pandemi pada Maret lalu.

Bupati Kepulauan Sitaro Evangelian Sasingen mengatakan penegakkan protokol kesehatan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, pemuka adat, dan tokoh agama jadi kunci kabupaten yang namanya mengambil dari tiga kepulauan yaitu Siau, Tagulandang, dan Biaro dalam menekan Covid-19.

Baca Juga

Dalam talkshow “Zero Covid-19: Penerima Penghargaan BNPB” di Media Center Satgas Covid-19 Graha BNPB Jakarta pada Kamis (15/10) pagi, Evangelian, mengatakan torehan itu yang membuat Sitaro menjadi salah satu kabupaten yang mendapatkan penghargaan tinggi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Selasa (13/10) lalu.

Bupati Eva, panggilan akrab Evangelian Sasingen, mengatakan sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi Covid-19, dirinya sudah menginformasikan kepada seluruh warga di sana untuk memperketat pengawasan di sepuluh pintu masuk pulau.

“Di setiap pintu ada pemeriksaan ketat. Awal-awal kami tidak menggunakan pelindung karena belum ada APD. Kami gunakan jas hujan sebagai pengganti,” ujar Bupati Eva, 52 tahun, yang punya hubungan dekat dengan warganya.

Baca juga: Daftar 12 Kabupaten/Kota dengan Kasus Aktif Covid-19 Tertinggi, Kota Padang Nomor 7

Bupati Eva menjelaskan kasus Covid-19 sempat muncul di akhir Mei dan Juni dari satu klaster pasar. Saat itu, dirinya memutuskan menutup pasar untuk dilakukan sterilisasi.

Untuk pasien positif langsung di-tracing sampai satu kelurahan. Begitu hasilnya reaktif mereka langsung ditampung di rumah singgah.

Selain membangun rumah singgah, Bupati Eva menambahkan pihaknya membentuk tim Gugus Tugas dari tingkat kecamatan, kelurahan, desa, sampai kampung. Tim gugus tugas ini memantu seluruh tamu yang masuk secara ketat dan dipantau sebelum beraktivitas di wilayahnya.

“Kami bangun rumah singgah di kabupaten, kecamatan, hingga desa semua ada. Setiap orang masuk harus diisolasi 2 minggu sebelum ke tempat tujuan,” ujarnya.

Tokoh adat Kabupaten Kepulauan Sitaro Erland Jaya Salindeho mengatakan kerjasama masyarakat, budaya, dan pemerintah daerah sangat maksimal.

Hanya saja tantangan yang dihadapi adalah sumber daya manusia di kampung-kampung terpencil. Namun semua itu teratasi dengan membentuk lembaga adat.

“Pembentukan lembaga adat itu memberi hasil positif untuk mengedukasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan bencana alam,” ungkap Bupati Eva yang mendedikasikan penghargaan tinggi dari BNPB ini untuk seluruh warga Kepulauan Sitaro yang sudah bekerja sama dengan baik selama ini. [*/try]


Baca berita terbaru hanya di Padangkita.com

Terpopuler

Add New Playlist