Irisan Syiah Dalam Tabuik di Pariaman

Penulis: Yose Hendra
Tabuik menjadi alasan Zohreh menghabiskan waktu di Kota Pariaman selama 10 hari pada iven pergelaran Tabuik, Oktober lalu. (Foto/Jose Rang Langgo)

BAGI kaum Syiah, Husain adalah imam yang dimuliakan, bahkan di kultuskan. Kematiannya, hingga kini diratapi dengan berbagai pertunjukan yang bersifat sakral dan ritual keagamaan pada hari-hari khusus.

PENELITI Tabuik Khanizar Chan mengatakan, seorang sufi dan mubalig terkenal, Khawajeh Mu’inuddin Chishti Ajmiri, mengatakan dalam Syairnya, Adalah Raja, Husain adalah Raja, Husain…. Adalah agama, Husain adalah sandaran agama,Husain….Ia berikan kepala, bukan berikan tangannya ketangan Yazid Sungguh, Husain adalah bangunan La Ilaha Illallah.

Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman adalah wujud kesedihan mendalam pada kematian Husein. Hal ini tidak bisa dinafikan.

“Upaya membawa Tabuik dan perlengkapannya serta membaca syair kesedihan sudah seperti legenda religius bagi masyarakat Syiah di seluruh dunia,” ujar doktor yang disertasinya tentang Tabuik ini.

Secara eksplisit, irisan Syiah masih terkandung dalam babakan ritual Tabuik hingga struktur bangunan Tabuik itu sendiri.

Selain sejarah Tabuik yang dibawa oleh orang Syiah, prosesi hingga bangunan Tabuik tidak bisa dilepaskan dari paham Syiah.

Di Pariaman, saban Muharam digelar tradisi ritual yang disebut Batabuik. Penulis buku Sejarah Tabuik Asril Muchtar menyebut tradisi Muharam tersebut dengan Tabuik Adat, untuk membedakan dengan Hoyak Tabuik yang lumrah digelar di perantauan.

Menurut Asril, Tabuik Adat masih kental nuansa ritual, hal yang membedakan dengan Hoyak Tabuik yang sudah terlepas dari aspek ritual dan sakral.

Tabuik Adat hari ini diwakili dua tabuik yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang; berdasarkan pewarisan Tabuik secara klan dengan dukungan niniak mamak, tokoh masyarakat dan anak batabuik.

Secara eksplisit, irisan Syiah masih terkandung dalam babakan ritual Tabuik hingga struktur bangunan Tabuik itu sendiri.

Prosesi Tabuik dimulai tanggal 1 Muharam yang diawali dengan maambiak tanah (mengambil tanah), lalu waktu berikutnya manabang batang pisang (menebang batang pisang), maatam, maradai, maarak jari-jari (mengarak jari-jari), maarak sorban (mengarak sorban), tabuik naiak pangkek (tabuik naik pangkat), maoyak tabuik (mengarak tabuik), dan tabuik dibuang ke laut.

Maambiak tanah, kata niniak mamak (tetua tabuik) Syamsurizal, sebagai simbol kepala Husain. Maambiak tanah dan juga menebang batang pisang dilakukan di Galombang, sudut kampung di Pariaman.

Setelah itu, jelasnya, dilakukan istirahat selama dua hari, lalu dilanjutkan dengan menebang batang pisang. “Ini adalah simbol kepala Husain ditebas,” ujar pria yang biasa dipanggil Buyuang ini.

Mengarak jari-jari, mengarak sorban hingga berlabuh di rumah tabuik, sebutnya, juga menyimbolkan raga dan properti Husain yang dibawa pulang setelah peristiwa tragis di Karbala.

Gendang Tasa ditabuh dalam proses arak-arakan Tabuik. (Foto/Jose Rang Langgo)

Asril, menjelaskan, jari-jari atau panja merupakan replika jari-jari Husain ketika terpisah dari tubuhnya di palagan Karbala.

Jari-jari tersebut, sambungnya, diibaratkan diarak mengitari makam Husain dalam daraga pada upacara maatam.

Lalu sorban atau turban yang dianggap sebagai penutup kepala Husain. Disamping itu, juga ada pedang jinawi. Pedang khusus yang digunakan untuk menebas batang pisang.

“Pedang jinawi merupakan imitasi atau tiruan dari pedang yang digunakan Husain saat berperang di Karbala,” tandas Asril.

Hal sakral lainnya adalah jarabbuka dan bendera, sebagai panji-panji kebesaran masing-masing tabuik, sekaligus simbol panji-panji kebesaran Husain saat perang Karbala.

Asril mengatakan dalam setiap pelaksanaan pesta Tabuik, benda-benda tersebut disakralkan dan disimpan di rumah keluarga Tabuik. Ia hanya akan dikeluarkan kala pesta Tabuik digelar.

“Hari turun mengambil batang pisang,  lalu dibawa ke rumah Tabuik, sekitar 15 perempuan dari keluarga pewaris Tabuik langsung menunggu. Ada sedikit ratapan,” ujar Buyuang.

Setelah semua ritual dipenuhi, di hari ke-10 Muharam, atau sekarang hari ke 15—tergantung jatuhnya hari Minggu, maka paginya Tabuik naik pangkat, siangnya diarak, dilarung ke laut jelang mentari terbenam di ufuk barat.

Panji-panji Syiah masih berlanjut dalam artefak Tabuik Gadang, struktur besar dengan ketinggian 10-12 meter.

Unsur-unsur utamanya adalah Burak, biliak-biliak, gomaik, bungo salapan, puncak tabuik, dan lainnya. Unsur-unsur ini menyatu menjadi sebuah struktur, lalu diarak.

Burak, binatang mitologi berwujud seekor kuda bersayap, berkepala wanita. Menurut Asril, Burak pada Tabuik merupakan tafsiran kuda yang dipakai Husain saat berperang.

“Tabuik harus diakui berasal dari ritual Syiah (warisan dan budaya Syiah). Tidak mungkin orang Piaman (Pariaman dan sekitarnya) atau lahir di Pariaman, punya tradisi ritual memperingati kematian Husain. Orang Piaman penganut Suni, tidak punya pengalaman memperingati kematian dalam ratapan atau kedukaan. Sementara (tabut, takziyah, tabuik, tabot, nakhal, aza dan sejenisnya, sejarahnya sangat jelas berasal dari Timteng (Irak dan Iran),” ujar dosen Fakultas Seni Pertunjukan, di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang ini.

Bagi negara Iran, Tabuik dipersepsikan sebagai jejak Syiah yang tercecer di pantai barat Sumatera. Untuk itu, Iran pun mengucurkan dana untuk membangun rumah Tabuik Pasa.

Lembaran sejarah Tabuik yang terbentang sekitar 2 abad, tidak bisa melipatkan goresan Syiah yang terkandung didalamnya. Sebab itu, tidak seharusnya jengah jika tabuik dikaitkan dengan Syiah.

Menurut Asril, kalau orang Piaman tidak mengakui, hal demikian merupakan sikap etnosentrisme.

Khanizar Chan yang meneliti tabuik secara genealogis menyebutkan  upacara Tabuik sebagai cerminan estetika budaya masyarakat Pesisir Barat Sumatera dibawa oleh pedagang Arab, seperti dari Irak dan Iran.

“Bentuk penyajian Tabuik yang ada di Pesisir Barat Sumatera—Pariaman dan Bengkulu dipengaruhi oleh kebudayan Iran,” tukasnya.

Dikatakannya, sebagai arena kultural dan arena kebudayaan Arab di Indonesia bentukupacara Tabuik merupakan upacara kaum Syiah dan sekaligus sebagai alat perantara ritual kepada roh Husain bin Ali Abi Thalib yang syahid dalam pertempuran di Padang Karbala dekat Tigris, Irak sekarang.

Merasa Tabuik sebagai sebaran budaya Syiah, menjadi alasan pelancong asal Iran, Zohreh ke Indonesia pertama kalinya. Tujuannya adalah ke Pariaman untuk melihat prosesi Tabuik.

“Saya disini 15 hari. Melihat proses tabuik sejak pertama pada 1 Muharam hingga pembuangan ke laut,” ujarnya.

Menurut Zohreh, ketertarikannya melihat tradisi Tabuik, karena penceritaan dari banyak orang terutama orang Iran yang pernah ke Indonesia, tentang kebudayaan Syiah yang digelar tiap tahun di Pariaman dan juga ada beberapa daerah lainnya.

Bagi negara Iran, Tabuik dipersepsikan sebagai jejak Syiah yang tercecer di pantai barat Sumatera. Untuk itu, Iran pun mengucurkan dana untuk membangun rumah Tabuik Pasa.

“Rumah tabuik pasa ini Iran yang membangun,” ujar Buyuang.

Bukan itu saja, tahun 2012 lalu, Duta Besar Iran Mahmoud Farazandeh menyaksikan puncak Pesta Budaya Tabuik 2012 di Pariaman.

Terakhir, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Republik Islam Iran, Octavino Alimudin yang hadir dalam puncak Tabuik tempo hari mengatakan akan berusaha mendorong masyarakat negeri Ayatollah Ruhollah Musavi Khomeini tersebut berwisata ke Pariaman menyaksikan penutupan Pesta Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman yang diselenggarakan tiap tahun.

“Ada sekitar 7000 wisatawan asal Iran yang melancong ke Indonesia setiap tahun,” tukasnya.

Terpopuler

Add New Playlist