Ini Makna Filosofi di Balik Lezatnya Randang Sumatra Barat

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Ketua Bundo Kanduang Sumatra Barat (Sumbar) Puti Reno Rhaudatul Jannah Thaib mengatakan, randang atau rendang bukan hanya sekadar makanan lezat, tapi merupakan budaya masyarakat Minangkabau yang sarat dengan nilai-nilai.

Kaum milenial, kata Bundo—demikian ia biasa disapa— wajib mengetahui filosofi yang terkandung dalam proses pembuatan randang.

“Marandang (memasak randang), merupakan budaya yang harus kita lestarikan karena banyak filosofi hidup yang terkandung dalam proses pembuatan rendang tersebut,” ujar Bundo ketika menjadi narasumber pada “Festival Marandang Milenial” di Kelurahan Pasa Gadang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sabtu (4/9/2021).

Bundo yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Unand menjelaskan, selama proses marandang, kita diajarkan untuk teliti dan sabar. Karena butuh waktu yang cukup lama agar randang menjadi lezat dan empuk, mulai dari proses pemilihan bahan dan bumbu, hingga memasak daging sampai randang tersebut benar-benar kering.

Selain itu juga dibutuhkan kerja sama, karena memasak rendang tidak bisa dilakukan sendiri. Ada pembagian tugas, seperti menyiapkan bumbu, menyiapkan daging, mengaduk daging serta santan di dalam kuali.

Dia melanjutkan, yang paling penting adalah takaran bumbu harus pas.

“Di sini kita dapat memaknainya dalam kehidupan bermasyarakat bahkan berbangsa dan bernegara,” tambah dia.

Menurut Bundo, untuk menjadikan randang tersebut lezat, harus mampu mencampur bumbu dengan baik dan sesuai takaran, jangan ada bumbu yang terlalu menonjol sehingga merusak cita rasa.

“Contoh, jika cabai terlalu banyak rendang akan pedas, begitupun kalau kelebihan garam maka rendangnya asin. Semua harus sesuai dengan porsinya, jadi kita harus mampu menyatukan aneka bumbu tersebut sehingga menghasilkan cita rasa rendang yang lezat, di sini terdapat makna persatuan dan kesatuan,” jelas Bundo.

Festival Milenial Marandang berlangsung selama dua hari diikuti oleh 20 orang peserta dari berbagai wilayah di Kota Padang. Lurah Pasa Gadang Khairul mengatakan, melalui kegiatan itu diharapkan kaum Milenial dapat lebih mengetahui cara membuat randang.

Untuk kegiatan tersebut, menurut Khairul, dilakukan dengan dua metode, yang pertama teori yakni bagaimana peserta dapat menyiapkan dan memilih bahan-bahan untuk memasak randang, mulai dari memilih daging yang berkualitas baik hingga aneka rempah-rempah.

Kemudian dilanjutkan dengan metode kedua yakni para peserta diajarkan bagaimana proses memasak randang, sehingga dapat menghasilkan randang yang lezat dan lembut.

“Melalui kegiatan ini kita ingin kaum milenial dapat mewarisi dan melestarikan salah satu kekayaan budaya kita di bidang kuliner,” ujar Khairul.

Ia menambahkan, pihaknya sengaja membatasi jumlah peserta agar tidak terjadi kerumunan, mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Adapun bertindak sebagai narasumber dan tenaga pengajar adalah Bundo Rhauda Thaib dan salah seorang juru masak dari usaha randang Zara.

Vani, seorang siswi SMA di Kota Padang mengatakan tertarik mengikuti “Festival Milenial Marandang” ini karena ingin lebih mengetahui tentang cara memasak randang yang benar agar dapat menghasilkan randang yang lezat.

Baca juga: Jangan Keliru! Bukan Rendang tapi Randang yang Diusulkan Masuk Intangible Cultural Heritage UNESCO

“Saya suka makan randang dan saya juga hobi masak, dengan adanya kegiatan ini saya dapat lebih banyak belajar serta mengetahui, bahwa ternyata daerah kita kaya akan variasi kuliner, saya baru tahu ternyata cara masak randang itu berbeda-beda tiap daerah,” ujarnya. (*/pkt)

Terpopuler

Add New Playlist