Imbas Wabah PMK, Semua Pasar Ternak di Tanah Datar Ditutup 14 Hari

Penulis: Isran Bastian

Batusangkar, Padangkita.com – Persoalan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) direspon cepat pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar. Diketahui penyakit tersebut menular menyerang semua hewan berkuku belah/genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, unta dan lainnya.

Guna menentukan langkah dan upaya memutus penyebaran PMK, Bupati Tanah Datar Eka Putra bersama Wabup Richi Aprian melakukan Rapat Koordinasi bersama Forkopimda dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Senin (16/5/2020) malam di Indojolito Batusangkar.

Dikatakan Eka, berdasarkan kesepakatan rapat koordinasi ini bersama DPRD, Forkopimda dan asosiasi pedagang sapi dan peternak didapatkan keputusan bahwa dalam waktu dekat pemerintah daerah akan segera melakukan penutupan terhadap pasar ternak yang ada di Tanah Datar selama 14 hari guna mengantisipasi penyebaran PMK.

“Saat ini di Sumatera Utara dan di kabupaten tetangga sudah mulai ada hewan ternak terjangkit PMK, mengantisipasi hal ini sementara waktu akan menutup pasar ternak selama 14 hari. Kita juga akan bekerjasama dengan pihak kepolisian terkait rencana pengendalian keluar masuk ternak di 6 titik pintu masuk ke Tanah Datar,” katanya.

Bupati juga menyarankan agar para pedagang ternak agar melakukan isolasi pada ternak-ternak yang baru dibelinya sebelum dibawa di pasar untuk diperjualbelikan kembali.

Ditambah Eka, pemerintah daerah juga akan segera melakukan penganggaran untuk penanganan pengobatan pada ternak yang tertular virus PMK di Tanah Datar.

“Virus ini hanya menular pada ternak yang berkuku belah dan tidak beresiko untuk manusia, untuk itu kepada masyarakat Eka Putra menghimbau agar tetap tenang dan pemerintah akan melakukan upaya antisipasi lebih awal,” tukasnya.

Dilain pihak, Kapolres Tanah Datar AKBP Ruly Indra Wijayanto menyatakan dukungan kepada Pemda Tanah Datar terkait dengan rencana penyekatan di 6 titik pintu masuk wilayah Tanah Datar.

AKBP Ruly juga meminta agar masyarakat untuk terbuka dan memberikan informasi kepada instansi terkait apabila menemukan gejala PMK pada ternak. Hal ini dimaksudkan agar mudah dideteksi dan antisipasi serta diminimalisir penularannya kepada ternak yang lain.

“Masyarakat perlu legowo bila ada ternaknya yang terjangkit, jadi tidak mengakibatkan terjadinya penularan yang lebih parah lagi,” sampainya.

Sekaitan dengan wabah ini, Wabup Richi juga mengingatkan kepada dinas terkait agar lebih lagi dalam melakukan pengawasan dan pemeriksaan di Rumah Potong Hewan (RPH) yang ada di Tanah Datar.

“Dinas harus benar-benar memastikan hewan ternak yang akan dipotong sehat dan dagingnya aman dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” tegasnya.

Sementara Plt. Kepala Dinas Pertanian Sri Mulyani, menjelaskan bahwa  jenis penyakit ini masa inkubasinya mulai 1-14 hari sejak hewan tertular penyakit hingga timbul gejala penyakit. Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan dan bertahan hidup pada tulang, kelenjar, susu, serta produk susu.

Menurut Sri Mulyani, tingkat penularan penyakit ini cukup tinggi tetapi tingkat kematiannya hanya 1-5% saja. “Jadi apabila ditemukan gejala pada ternak seperti ternak terlihat lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh segera hubungi OPD terkait agar segera dilakukan pemeriksaan dan pengobatan,” ujar Sri Mulyani.

Dijelaskan Sri Mulyani penularan virus PMK ini bisa melalui beberapa cara, diantaranya dengan cara kontak langsung, kontak tidak langsung dan bisa juga melalui udara.

Baca Juga:  Wabah PMK Jelang Idul Adha, Pusat Penjualan Hewan Kurban dan RPH Diawasi Ketat

“Gejala klinis apabila hewan tertular PMK diantaranya mengalami demam, tidak nafsu makan, penurunan produksi susu yang drastic, keluar air liur yang berlebihan, luka pada kuku, bagian mulut melepuh serta gejala klinis lainnya,” pungkasnya. [djp/isr]

Terpopuler

Add New Playlist