Google Doodle Hari Ini: Roehana Koeddoes, Wartawati Pertama di Indonesia, Pendiri Soenting Melajoe

Padang, Padangkita.com – Roehana Koeddoes, wartawati pertama di Indonesia menjadi Google Doodle hari ini, Senin (8/11/2021). Wajah puan kelahiran Koto Gadang, 20 Desember 1884 itu ditampilkan dalam bentuk vektor.

Roehana Koeddoe dibesarkan selama era ketika perempuan Indonesia umunya tidak mendapatkan pendidikan formal. Ia wafat pada 17 Ahustus 1992.

Namanya telah disetujui sebagai Pahlawan Nasional dalam pertemuan gelar dewan, tanda jasa, dan tanda kehormatan oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2019.

Roehana Koeddoes menyuarakan ketidakadilan pada perempuan di Minangkabau terutama yang dirasakannya di Koto Gadang, tempat kelahirannya.

Rohana menjadikan surat kabar (koran) untuk menyampaikan gagasan dan pesan yang dia sampaikan untuk perjuangan persamaan.

Rohana merasa, menyampaikan buah pikirannya tentang perempuan tidak cukup hanya dengan mengajarkan kepada murid-muridnya di Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS), sekolah yang didirikannya, tapi lebih tepat melalui medium koran.

Terlebih, koran-koran yang beredar di masa itu, lebih banyak memuat perempuan yang teraniaya. Hal yang membuat Rohana semakin pilu bercampur geram.

“Menulis… ya… menulis, dengan menulis di surat kabar dia bisa berbuat banyak. Bisa mengamalkan ilmunya dan mengabarkan bahwa perempuan juga bisa berbuat sesuatu untuk membela nasibnya agar lebih baik, bangkit dari keterpurakan yang menyedihkan,” tulis Fitriyanti, dalam buku Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat.

Bagi Roehana Koeddoes, melalui surat kabar dia bisa berbuat banyak. Ilmunya bisa diamalkan, dan pada saat bersamaan ia pun bisa menambah ilmunya.

Singkat kata, suaminya Abdul Koeddoes mendukung penuh keinginan Rohana. Akhirnya, Rohana menyurati Pemimpin Redaksi Oetoesan Melajoe (Utusan Melayu) Soetan Maharadja di Padang.

Kepada Soetan, seperti yang ditulis Fitriyanti, Roehana menyampaikan tujuannya menulis untuk turut berpartisipasi dalam memajukan nasib perempuan.

“Ia berharap agar perempuan bisa mendapat pendidikan yang layak seperti laki-laki, mendapat perhatian dari orang tua, niniak mamak, dan juga ulama. Begitu panjang lebarnya isi surat Rohana, sehingga Soetan Maharadja sendiri berkenan datang menemui Rohana di Kotogadang,” cerita Fitriyanti.

Ketika bertemu, percakapan terjalin. Mufakatnya, Soetan Maharadja memfasilitasi penerbitan sebuah surat kabar perempuan dengan nama Soenting Melajoe (Sunting Melayu). Koto Gadang tetap menjadi basis surat kabar ini. Roehana Koeddoes menjadi pemimpin redaksi dibantu oleh Ratna Djuwita dari Padang.

10 Juli 1912, tercatat sebagai hari pertama koran khusus perempuan tersebut terbit. Koran pertama perempuan di Minangkabau, pertama juga di Hindia Belanda. Sehingga, hari ini Rohana dikenal sebagai wartawati pertama di Indonesia.

Awalnya surat kabar ini terbit satu kali seminggu dengan bahasa melayu. Laman Sunting Melayu berisi artikel, syair berupa himbauan kepada perempuan, sejarah, dan biografi. Selain itu, juga ada berita saduran terutama berkaitan luar negeri dari majalah, buku atau pun surat kabar berbahasa Belanda.

Edar Sunting Melayu bukan hanya di Minangkabau, tapi juga hampir seluruh Sumatra. Bahkan tembus hingga ke Jawa.

Fitriyanti menyebutkan, selama mengelola Sunting Melayu, Roehana Koeddoes tetap tinggal di Koto Gadang. Dia cukup mengirimkan artikel atau tulisan yang kemudian dibantu Ratna menyunting di Padang.

Artikel buah pikiran Roehana yang terbit di koran bukanlah hasil mesin tik, melainkan tulis tangan. Dia kirim, Ratna yang kemudian membantu untuk mengetikkan. Dalam seminggu, dia membuat dua tulisan.

Sebelum di kirim ke Padang, suaminya membantu mengoreksi, membetulkan kalimat-kalimat yang dianggap kurang tepat.

Sebagai perempuan yang terlahir dari kungkungan adat yang masih kaku, Roehana nyatanya berpikir terbuka.

Tulisan Roehana yang beredar melalui Suenting Melajoe cukup kritis untuk tidak mengatakan keras. Dia menyinggung soal sistem Matriakat di Minangkabau, Rohana berpandangan, sistem matriakat secara warisan mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaknya tidak boleh ada diskriminasi.

Sebagai perempuan yang terlahir dari kungkungan adat yang masih kaku, Roehana nyatanya berpikir terbuka. Tidak primordial. Bukan hanya Minangkabau, untuk isu perempuan, Rohana juga berbicara nasib perempuan di Jawa, bagaimana perempuan diperlakukan buruk di perkebunan Deli.

Bahkan, melalui bacaannya yang luas, Roehana Koeddoes juga menyoroti kondisi perempuan di Hindustan dan belahan dunia ketiga lainnya.

Jika diinterpretasi tulisan Roehana dengan judul Setia Gerakan Perempuan di Zaman Ini, terbit di Sunting Melayu, 23 Mei 1913, maka sangat jelas Roehana menyuarakan kaum perempuan.

Kaum perempuan, kata Rohana, jauh terbelakang dari laki-laki bila dilihat dari gerakan-gerakan seperti pendirian organisasi atau perkumpulan.

Dia mendorong kaum perempuan untuk berani minta pembelaan atau pun mendirikan perkumpulan agar terlepas dari kegelapan. Sisi lain, dia cukup merasa bangga, karena di Minangkabau masa itu, sudah muncul beberapa perserikatan.

Di akhir tulisan, Roehana mengingatkan bangsa Melayu untuk terus belajar untuk kemajuan dan keselamatan negeri, bangsa dan tanah air.

Siapa Roehana? Lahir pada 20 Desember 1884 di Kotogadang, anak seorang jaksa Mohamad Rasjad, sebapak dengan Sutan Sjarir.

Aktivitas Roehana baik pendidikan, bisnis, jurnalistik, dan politik, semua berbasis perempuan. Untuk semua ini ia lebih banyak belajar otodidak.

Sebelum mendirikan Sunting Melayu bersama Soetan Maharadja, Roehana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911.

Melihat sepak terjang Roehana itu, emansipasi yang ditawarkannya tak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki seutuhnya, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya.

Wadah pendidikan dan manajemen bisnis ini, Roehana mengajarkan perempuan berbagai keterampilan seperti merenda dan menjahit. Di samping itu juga diajarkan cara mengelola keuangan, budi pekerti, baca tulis, pendidikan agama, bahasa Belanda.

Fitriyanti menggambarkan, aktivitas yang dilakukan Roehana, mengundang cibiran dari kaum adat setempat. Berbagai fitnah didapatinya. Sebab, semasa itu Roehana melawan hukum adat yang masih menakar perempuan sebagai makhluk yang cukup belajar untuk urusan domestik, seperti memasak dan belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Ketika hijrah ke Bukittingi tahun 1916, Roehana mendirikan Roehana School. Sekolah ini dikelola secara mandiri, dengan murid lumayan banyak di masa itu.

Melihat sepak terjang Roehana itu, emansipasi yang ditawarkannya tak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki seutuhnya, namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya.

Koran Soenting Melajoe berakhir di tahun 1921. Meski hanya 9 tahun, tapi ini menjadi keabadian perjuangan perempuan yang dilakukan oleh Rohana. Generasi hari ini tentu masih bisa mengakses buah pikirannya lewat arsip yang ada.

Baca juga: Jadi Google Doodle, Marie Thomas Dokter Wanita Pertama Indonesia yang Menikahi Orang Awak

17 Agustus 1972, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan ke-27. Di mana-mana pesta makna kemerdekaan digelar, tapi langit Jakarta mendung karena hari itu Rohana pergi untuk selamanya. [fru/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist