Cerita Uniknya Kopi Karak yang Difermentasi Dalam Periuk Tanah Liat di Pinggiran Payakumbuh

Payakumbuh, Padangkita.com – Minum kopi sudah jadi gaya hidup masyarakat, tak terkecuali di Sumatra Barat (Sumbar). Berbagai jenis kopi dapat ditemukan di mana-mana. Dari banyak pilihan rasa, kopi karak di pinggiran Payakumbuh layak dinikmati penggemar kopi karena rasanya yang unik. Seperti apa?

Warung makan ini berada di pinggir Jalan Lintas Payakumbuh-Lintau, Tanah Datar. Tepatnya, di Simpang Nagari Andaleh, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota. Pemiliknya, menamai warung ini sebagai “Lopau Wonuru”.

Baca Juga

Lopau berarti warung dalam bahasa setempat. Sedangkan Wonuru merupakan nama dari nenek pemiliknya. Sang pemilik warung bernama Asrul Aziz Datuak Karongkong Kayo, mantan anggota DPRD Limapuluh Kota.

Di Lopau Wonuru, selain makanan khas tradisional yang jarang-jarang tersedia di era serba tergesa-gesa ini, di sana juga ada suatu minuman yang sangat unik, yaitu Kopi Karak.

Kopi karak merupakan kopi robusta yang dimasak dalam periuk tanah liat atau periuk tembikar. Oleh sang ‘barista’, Asrul Asrul Aziz Datuak Karongkong Kayo, kopi robusta itu dimasak atau direbus dua kali dalam periuk tanah. Setelah masak, baru diendapkan atau difermentasikan dalam waktu tertentu.

“Kopi karak ini asalnya adalah kopi robusta yang kita masak dalam periuk tanah liat, lalu kita endapkan atau fermentasikan. Kalau kopi luwak difermentasi dalam perut musang, kopi robusta kita fermentasi dalam periuk tanah,” kata Asrul Aziz Dt Karongkong Kayo ketika berbincang dengan Padangkita.com, Rabu (11/11/2020).

Hasil fermentasi kopi robusta membuat rasa kopi karak menjadi khas sekali. “Rasa kopi karak ini unik. Asam, pahit, manis,” kata Herlina Basri, Youtubers yang mewawancarai Asrul Aziz Datuak Karongkong Kayo untuk akun Youtube-nya yang konsen menyajikan tentang makanan-makanan khas Minangkabau.

Selain menyediakan kopi karak hasil fermentasi, Lopau Wonuru milik Asrul Aziz Datuak Karongkong Kayo juga menyediakan kopi karak yang tidak difermentasi, atau kopi robusta yang hanya dimasak dua kali dalam periuk tanah liat.

Uniknya, penyajian kopi karak hasil fermentasi dan kopi karak yang bukan hasil fermentasi, tetap menggunakan cangkir yang terbuat dari tembikar. Ini selain untuk mempertahankan rasa khas kopi yang dimasak dalam tembikar, juga karena Nagari Andaleh merupakan nagari penghasil tembikar dan tembikar termasuk bahan ramah lingkungan.

Kopi karak yang tersedia di Lopau Wonuru dapat diminum pengunjung dengan “gula semut” atau gula aren yang sudah diracik halus. Jika tak suka gula aren, pengunjung juga dapat menikmatinya dengan gula pasir. Bahkan juga bisa tidak pakai gula sama sekali.

Kopi karak cocok diminum pada musim hujan seperti sekarang. Selain panas, kopi karak yang dituangkan dalam cangkir dari tanah liat, membuat kantuk menjadi hilang. Meminum kopi ini juga seperti menjemput masa lalu.

“Orang tempo doeloe (baca: dulu), kalau ingin minum kopi, bubuknya memang dimasak mendidih dalam periuk tanah. Sehingga aroma kopi muncul keluar. Persislah, seperti di Lopau Wonuru ini,” ujar Hendri, 47 tahun, seorang penggemar kopi di Payakumbuh.

Sebagai makanan pendamping kopi karak, pemilik Lopau Wonuro menyediakan “ompiang dadiah”. Makanan ini berbahan dasar ketan muda atau “sipuluik” yang dibaluri dengan dadiah atau susu kerbau hasil fermentasi.

Baca juga: Kisah Komunitas Bengkel Kreasi Talunan Maju Solsel yang Hasilkan Uang dari Budi Daya Bonsai

Sebelum dibaluri dengan dadiah, ketan muda disiram dulu dengan air panas. Setelah itu, baru ditaburi dengan kelapa parut dan manisan dari gula aren. Rasanya, lumayan menggoda. Apalagi, ompiang dadiah ini bisa disajikan panas maupun dingin.

Penasaran dengan rasa kopi karak? Datang saja ke Lopau Wonuro. Di sana juga tersedia berbagai kuliner khas Minangkabau yang jarang-jarang dapat ditemukan di rumah makan kebanyakan. [pkt]

Terpopuler