Kisah Komunitas Bengkel Kreasi Talunan Maju Solsel yang Hasilkan Uang dari Budi Daya Bonsai

Penulis: Redaksi

Padang Aro, Padangkita.com – Membonsai tanaman sudah lama dikenal sebagai hobi. Di rumah-rumah warga tanaman bonsai hampir selalu ditemukan. Namun, membudidayakan bonsai belum menjadi kegiatan serius bagi masyarakat, apalagi sampai menghasilkan uang.

Bengkel Kreasi Talunan Maju di Nagari Talunan Maju, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan (Solsel), salah satu kelompok yang telah berhasil mendatangkan uang dari budi daya bonsai.

Baca Juga

Pembina Bengkel Kreasi Talunan Maju, Hendrik Patriona, mengatakan mereka telah menjadikan bonsai sebagai usaha lain di samping berkebun karet sebagai komoditas mayoritas warga setempat dan sebagai mata pencarian utama. Usaha yang bermula dari hobi itu sudah menghasilkan uang.

“Nagari Talunan Maju sudah mulai dikenal sebagai nagari pusat penjualan bonsai. Pembeli dari dalam Solok Selatan langsung ke sini untuk mencari bonsai. Untuk pembeli dari daerah lain, kami sudah menjual secara online,” tuturnya, Sabtu (31/10/2020).

Hendrik mengatakan, harga bonsai komunitasnya antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Menurutnya, harga itu masih tergolong murah. Sebab, kata dia, harga bonsai yang berusia tiga sampai empat tahun bisa mencapai Rp30 juta. Sementara itu, harga bonsai ekspor malah bisa Rp50 juta ke atas.

“Harga bonsai bergantung detail bonsai. Bonsai yang baru berusia tiga sampai empat tahun sudah mahal. Bonsai kami sudah tua, tapi harganya masih rendah. Itu karena budi daya bonsai kami apa adanya. Kami terkendala alat. Bonsai yang bagus tak bisa dibentuk manual. Butuh alat yang memadai. Perawatannya tak gampang,” ujarnya.

Bengkel Kreasi Talunan Maju, kata Hendrik, berupaya secara bertahap menambah peralatan budi daya untuk menghasilkan bonsai berkualitas bagus. Sehingga, saat dijual harganya bisa mahal.

Ia mengatakan, pihaknya tidak ingin menjual bonsai ekspor karena perawatannya sangat susah. Pihaknya hanya ingin menjadi pembudidaya yang memasok bonsai sebagai bahan mentah ke perusahaan-perusahaan pengekspor bonsai.

“Bonsai di Indonesia sudah ekspor sejak 2010. Indonesia baru mengekspor sekitar 6.000 bonsai per bulan, sedangkan kebutuhan luar negeri sekitar 18.000 bonsai per bulan,” katanya.

Perusahaan pengekspor bonsai, lanjut dia, cukup banyak di Indonesia. di Sumbar juga ada.

“Target kami jadi pemasok bahan mentah ke perusahaan itu, tentu saja dengan standar tertentu. Kami melihat prospek bisnis bonsai sangat bagus karena kebutuhannya tinggi, sedangkan pasokannya sedikit. Membuat bonsai yang bagus itu bisa sampai 10 tahun, sementara menjualnya hanya sepuluh menit,” ucapnya.

Pameran Bonsai

Bengkel Kreasi Talunan Maju telah berusia setahun. Dalam waktu yang relatif singkat itu, mereka sudah punya sekitar 4.000 bonsai dari 40 anggota komunitas itu. Tiap anggota membudidayakan 100 hingga 300 bonsai.
Hendrik mengklaim Bengkel Kreasi Talunan Maju sebagai satu-satunya komunitas pebonsai di Solok Selatan (Solsel). Mereka pernah mewakili kabupaten itu dalam acara pameran bonsai di Padang beberapa waktu lalu. Di Sumbar mereka termasuk satu dari sekitar 12 komunitas pebonsai yang aktif.

“Komunitas kami cukup aktif. Minimal kami dua kali dalam sebulan berkumpul dan berdiskusi seputar bonsai. Kami juga punya uang kas, yang bisa digunakan untuk mengadakan kegiatan, seperti pameran bonsai kali ini,” ucap Hendrik.

Bengkel Kreasi Talunan Maju menyelenggarakan pameran bonsai di lapangan sepakbola setempat pada 31 Oktober dan 1 November 2020. Hendrik menjelaskan, pada hari pertama pameran mereka mengenalkan bonsai kepada masyarakat dan mengadakan pelatihan membuat bonsai. Sementara itu, pada hari kedua mereka menggelar kegiatan perawatan bonsai.

“Kami menyelenggarakan pameran ini untuk membagi pengetahuan tentang dunia bonsai kepada masyarakat di sini. Kami ingin masyarakat tahu bahwa memelihara bonsai bukan hanya hobi, tetapi juga untuk menghasilkan uang,” ungkap Hendrik.

“Kami menjadikan budi daya bonsai sebagai usaha sampingan. Kami juga ingin masyarakat di sini membudidayakan bonsai. Harga karet sering murah. Tak mungkin terus bertahan hanya mengandalkan karet sebagai mata pencarian utama,” ulasnya.

Dalam pameran itu, kata Hendrik, Bengkel Kreasi Talunan Maju memamerkan 320 bonsai. Jenis-jenis tanaman bonsai itu ialah, antara lain, wareng bintang, kimeng, lohansung, anting putri, sancang, asam jawa, bougenvil, boxus, sisir, dan waru lokal.

Baca juga: Cerita “Pacu Itiak” Payakumbuh yang Kini Jadi Warisan Budaya Indonesia

Hendrik bercita-cita menjadikan nagarinya sebagai sentra bonsai di Solsel, seperti kawasan Lubuk Minturun di Padang, yang dikenal sebagai pusat tanaman hias. Karena itu, ia dan komunitasnya mengajak warga setempat untuk membudidayakan bonsai. Pihaknya bersedia memberikan pelatihan kepada warga yang ingin membudidayakan bonsai. [*/pkt]

Terpopuler