Cerita Soto Simpang Karya, Langganan Orang Besar dan Artis, Rasa yang Jadi Kenangan

Penulis: Sonia

Berita Padang hari ini dan berita Sumbari hari ini: Dinamakan Soto Simpang Karya, karena lokasi warung soto ini persis di persimpangan Jalan Karya juga dekat bioskop Karya.

Padang, Padangkita.com – Musim hujan melanda Kota Padang beberapa waktu terakhir. Nah, saat hujan jadi waktu terbaik untuk menikmati hidangan berkuah pedas dan panas, seperti sop dan soto.

Jika Anda penggemar soto padang, tentu tidak asing lagi dengan Soto Simpang Karya. Dinamakan Soto Simpang Karya, karena lokasi warung soto ini persis di persimpangan Jalan Karya juga dekat bioskop Karya.

Warung soto ini berdiri saat masa keemasan bioskop di Padang. Bioskop Karya salah satu bioskop yang ramai dikunjungi.

“Mulai jualan pada tahun 1979. Nama soto ini diambil dari nama bioskop. Kalau dulu lokasi ini ramai karena orang suka menonton bioskop,” kata pemilik Soto Karya, Eti kepada Padangkitacom pada Sabtu (28/03/21).

Ia mengelola warung soto berdua dengan suaminya Arizal. Hampir setengah abad berdiri, tetapi rupa warung soto ini tak banyak berubah.

Dinding warung tetap pakai kayu papan, bangku dan meja disusun memanjang. Di bagian depan warung terdapat etalase, tempat Arizal meracik soto. Di bagian kanannya terdapat meja kasir, singgasana Eti. Meja kasir khas rumah makan padang pada umumnya, yang mana lebih tinggi dari meja-meja lainnya. Pasangan suami istri ini dibantu oleh tujuh karyawan lainnya setiap hari.

Mempertahankan bentuk warung, lantaran memang tidak diizinkan untuk menambah atau pun merenovasi bangunan.

“Tidak boleh dibangun, direnovasi,” katanya tanpa menyebut siapa yang melarang.

Bentuk warung yang tidak berubah, menjadi salah satu keunikan, karena sarat dengan nostalgia. Dinding dan meja warung ini, mengekalkan ingatan dan kenangan setiap pelanggan.

“Pelanggan saya ada yang mengatakan, kembali saya dari merantau kedai ini masih tidak berubah baik rasa maupun tempatnya. Dia mulai pacaran makan di situ, sampai akhirnya sudah punya cucu kedai ini masih sama,” cerita Eti.

Soto ini disajikan dengan mangkok kecil dengan tatakan, serta nasi putih dalam piring terpisah. Kuah kaldu sapi yang gelap menandakan kaya dengan rempah-rempah.

Irisan daging yang krispi di luar, namun lembut saat dikunyah memang dapat melenakan selera. Potongan daun bawang dan kerupuk merah yang basah oleh kuah kaldu adalah perpaduan kenikmatan yang tidak bisa didustakan.

Soto Simpang Karya diracik dengan resep turun-temurun. Dulunya orang tua Eti juga berjualan soto yang lokasinya tidak jauh dari lokasi warung soto saat ini.

“Kepandaian dari orang tua. Dulu orang tua juga jualan masuk ke dalam simpang,” ujarnya.

Eti membagikan rahasia sotonya yang terjaga dan konsisten. Meracik bumbu sendiri dari awal adalah kuncinya.

“Yang membedakan dengan soto lainnya adalah bumbu racikan sendiri. Meski kini telah banyak yang menjual bumbu siap kami tetap memasak dari awal,” katanya.

Sederet foto orang terkenal yang pernah berkunjung ke warung ini terpajang di dinding. Mulai dari atlet Bambang Pamungkas, pejabat Mahfud MD, dan sederet nama penting lainnya di Sumbar.

Arizal lebuh senang memajang fotonya bersama nama besar di dinding warung. Sementara itu, Eti lebih mengagumi artis.

“Elly Kasim itu sejak muda sudah makan ke sini. Dorce, bintang-bintang artis setiap ke Padang selalu diajak sopirnya ke mari,” kenangnya.

“Pejabat-pejabat itu kalau dia pergi ke Padang, baru sampai bahkan langsung ke sini. Atau kalau mau ke bandara, mereka selalu sempatkan ke sini sebelum berangkat,” ujarnya.

Menjadi tempat makan pejabat, harga semangkok soto terbilang bersahabat. Setiap makan di tempat dikenai harga Rp22 ribu dan Rp27 ribu jika dibungkus. Perbedaan harga ini dikarenakan porsi dibungkus lebih banyak dibandingkan dengan makan di tempat.

“Pelanggan senang karena harga tidak dinaikan. Kalau pun kena pajak, tidak dikenakan pada konsumen. Kami saja yang bayarkan,” ujarnya.

Salah seorang pelanggan Soto Simpang Karya bernama Wulan mengatakan soto padang kerap memanggilnya pulang. Ia membagikan kenangannya yang sejak kecil diajak ke Warung Soto Simpang Karya oleh orang tuanya.

Katanya, warung itu tidak berubah saat pertama kali mereka menyantap semangkok soto itu.

“Saya makan soto sudah sejak kecil. Masih SD kalau gak salah. Papa sama mama selalu makan di sana. Porsinya, menunya, rasanya, bentuk warungnya, nggak ada yg berubah sampai sekarang,” kata Wulan, warga Kota Padang yang sekarang tinggal di Korea Selatan.

Dulu, kenanh Wulan, makan di warung soto itu menjadi hadiah dari orang tuanya, setiap ada pencapaiannya.

“Kalau habis Idulfitri pasti ke sana. Dari dulu udah terkenal. Etek-etek sama om-om yang udah merantau ke Jawa, kalau pulang ke Padang pasti disempetin ke sana. Atau ada tamu dan kenalan saya ajak ke sana untuk menikmati soto yang benar-benar padang. Bagi saya dan keluarga besar, itu masih soto yang terlezat di Kota Padang,” pujinya.

Terpaut jarak yang jauh dari Padang, Wulan hanya bisa membayangkan kenikmatan hidangan itu.

Baca juga: Cerita Keyla, Bocah 12 Tahun di Padang yang Sisihkan Uang Jajan Agar Kucing Liar Tak Kelaparan

“Duh jadi pengen makan Soto Karya,” tutupnya menabuh rindu. [pkt]


Baca berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler

Add New Playlist