Bukan Makanan Berbahan Daging, Nagari Situjuah Batua Sudah Punya Makanan Khas Iduladha Sejak Beratus Tahun Lalu

Penulis: Arief Paderi

Sarilamak, Padangkita.com – Setiap Hari Raya Iduladha, kaum ibu di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, selalu membuat makanan khas yang disebut dengan “Sighagi”. Menariknya, makanan khas Iduladha dari kampung ini bukan rendang, kalio atau sejenisnya yang berbahan daging yang stoknya sedang melimpah saat Idul Kurban. Lalu, apa?

Gema takbir, tahmid dan tahlil terdengar di Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (31/7/2020) pagi. Saat itu, warga sedang bersiap-siap melaksanakan Shalat Iduladha 1441 Hijriah.

Baca Juga

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Salat Iduladha di Situjuah Batua pada tahun ini, tidak lagi digelar di lapangan bola Chatib Soelaiman yang berada di pusat nagari. Melainkan dilaksanakan di sejumlah masjid dan musala yang terdapat di enam jorong (dusun) di nagari tersebut.

“Biasanya, Salat Iduladha di Nagari Situjuah Batua, memang dipusatkan pada satu titik saja, yakni di lapangan Chatib Soelaiman. Masyarakat dari enam jorong berkumpul di lapangan ini. Namun, sekarang karena dalam pandemi Covid-19, Salat Iduladha digelar di tiap-tiap musala dan masjid di enam jorong,” kata Wali Nagari Situjuah Batua, DV Dt Tan Marajo.

Meski Salat Iduladha di Nagari Situjuah Batua tidak dipusatkan pada satu titik akibat pandemi Covid-19, tetapi tradisi masyarakat Situjuah Batua dalam merayakan Iduladha, tidak hilang ditelan zaman, tidak lenyap oleh virus Corona.

Berita Limapuluh Kota - Kuliner Sumber, Budaya Sumbar, Kulinier Situjuah - Sighagi
Sighagi. [Foto: Ist]
Tradisi tersebut adalah menyediakan makanan khas yang disebut sebagai “Sighagi” (baca: Siragi). Makanan ini, selalu ada di semua rumah penduduk di Nagari Situjuah Batuh pada Hari Raya IdulAdha,

“Kalau datang Hari Raya Iduladha seperti sekarang, makanan yang selalu dibuat kaum ibu di nagari kami, memang Sighagi. Ini sudah menjadi ciri khas,” kata Kepala Jorong Tangah MA Dt Paduko Rajo Nan Kuniang.

Sejauh ini memang belum ada literatur yang menjelaskan, sejak kapan warga Situjuah Batua mengenal dan membuat Sighaghi. Namun warga meyakini, makanan ini sudah menemani lebaran haji mereka, sejak berpuluh-puluh, bahkan sejak beratus-ratus tahun lalu.

“Sejak kami kecil-kecil dulu, orang tua kami, sudah membuat Sighaghi untuk dihidangkan pada lebaran haji. Selalu begitu setiap tahun, hingga kini,” kata sejumlah ibu-ibu yang tinggal di Kampuang Tanjuang, kawasan Ateh Balai, Jorong Tangah, Situjuah Batua.

Menurut ibu-ibu ini, membuat Sighagi tidak terlalu sulit, tetapi memang butuh ketekunan, kesabaran dan ketepatan meramu bahan-bahannya. Sighagi sendiri terbuat dari pulut merah atau pulut hitam yang difermentasi dengan menggunakan ragi atau disebut warga Situjuah Batua sebagai “induak ragi”.

“Pulut merah atau pulut hitam itu dikukus dulu. Setelah dikukus, baru ditaburi dengan ‘induak ragi’ dan ditutup dengan daun pisang, untuk didiamkan (difermentasi) selama beberapa hari. Setelah itu, baru disajikan,” kata Ena, seorang ibu rumah tangga di Situjuah.

Walau tidak terlalu sulit membuat Sighaghi, tetapi dewasa ini, animo ibu-ibu muda, apalagi anak-anak gadis Situjuah Batua, untuk membuat makanan ini sedikit menurun dibandingkan dengan dekade 1980-an. Kesibukan kerja dan keterbatasan waktu menjadi alasan utama mereka.

“Banyak amaik kojo awak. Ndak talakik mambuek Sighagi doh. Tu baboli ajo sipuluik ka balai. Baupahan mambuek eh ka ughang. Kinyamlah, lai lomak jo piso eh (Kerja saya banyak, tidak sempat membuat Sighagi. Saya beli saja pulut di pasar. Saya upahkan membuatnya ke orang. Cobalah, rasanya tetap enak),” kata salah seorang ibu muda mewakili rekan-rekan segenerasinya.

Seperti disampaikan ibu-ibu itu, Sighaghi ala Situjuah Batua, memang terbilang enak. Rasanya manis-manis masam. Saat sampai di tenggorakan dan perut sedikit menyisakan hawa panas. Mirip dengan kuah dalam makanan lamang-tapai.

“Sighaghi ini memang mirip lamang tapai. Bedanya, kalau dalam lamang tapai, lemangnya lebih banyak dari ragi atau kuahnya. Kalau dalam Sigahgi, raginya atau kuahnya lebih banyak dari lemangnya. Namun untuk memakannya, tetap saja tergantung selera masing-masing,” kata Yoswan Azwandi, tokoh muda Situjuah Batua.

Penasaran dengan rasa Sighagi yang dibuat warga Situjuah Batua? Datanglah ke nagari perjuangan itu saat lebaran haji. Niscaya, di setiap rumah, akan tersaji makanan berwarna merah dan hitam tersebut. [gse/pkt]


Baca berita Limapuluh Kota terbaru hanya di Padangkita.com

Terpopuler