Adinegoro Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Pemko Sawahlunto Siap Berikan Dukungan

Penulis: Muhammad Aidil
|
Editor: Redaksi

Berita Padang hari ini dan berita Sumbar hari ini: Sosok Adinegoro memang layak untuk diusulkan jadi Pahlawan Nasional.

Sawahlunto, Padangkita.com– Pemerintah Kota (Pemko) Sawahlunto mendukung Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatra Barat (Sumbar) dalam pengusulan Adinegoro sebagai pahlawan nasional.

Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Kota Sawahlunto Efriyanto, mengatakan pihaknya telah siap menindaklanjuti hal tersebut, meski tak merinci secara detail kesiapan yang dimaksud.

“Kami tentu butuh masukan agar kegiatan nantinya betul-betul menjadi legal formal, yang dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku,” kata Efriyanto dalam keterangan tertulis yang diterima Padangkita.com, Rabu (24/3/2021).

Ia mengeklaim, sampai sejauh ini keinginan masyarakat untuk mewujudkan adik kandung dari Muhammad Yamin itu untuk menjadi Pahlawan Nasional sangat tinggi. Seperti mulai giatnya publikasi tentang hal itu di sejumlah media massa.

“Secara naskah akademis kami percayakan kepada MSI Sumbar,” katanya.

Senada dengan itu, Wali Kota Sawahlunto Deri Asta mengatakan, sosok Adinegoro memang dianggap layak untuk diusulkan jadi Pahlawan Nasional.

Menurut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu, semuanya akan berjalan sesuai rencana dan terwujud berkat satu tekad dan dukungan semua pihak terkait.

“Pergerakannya sudah dikenal luas oleh berbagai kalangan. Bagi kalangan jurnalis, namanya sudah disematkan dalam penghargaan tertinggi Anugerah Adinegoro untuk karya jurnalistik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MSI Cabang Sumbar Wannofri Samry mengemukakan usulan Adinegoro untuk menjadi pahlawan nasional nantinya akan melalui sejumlah tahapan.

“Kami perlu mempersiapkan naskah akademik, yang nantinya akan diseminarkan di tingkat daerah Kota Sawahlunto. Langkah ini membutuhkan upaya bersama, termasuk instansi terkait serta elemen masyarakat lainnya, hingga publikasi secara luas,” katanya.

Sekolah di STOVIA hingga Jerman dan Belanda

Jamaludin Adinegoro lahir pada 14 Agustus 1904 di Kota Sawahlunto dan wafat pada 8 Januari 1967 di Jakarta. Hari lahir Adinegoro ini kemudian ditetapkan menjadi Hari Pers Nasional (HPN).

Adinegoro menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda.

Dia memiliki seorang anak bernama Adiwarsita Adinegoro, yang pernah menjabat Direktur Utama (Dirut) PLN dari pernikahannya dengan Alidas yang berasal dari Sulik Aia, X Koto Diateh, Kabupaten Solok.

Ia diketahui merupakan adik sastrawan dan pejuang Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah.

Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu keinginannya menulis sangat tinggi. Maka digunakan nama samaran Adinegoro tersebut sebagai identitasnya yang baru.

Ia pun bisa menyalurkan keinginannya untuk mempublikasikan tulisannya tanpa diketahui orang bahwa Adinegoro itu adalah Djamaluddin gelar Maradjo Sutan. Oleh karena itulah, nama Adinegoro sebagai sastrawan lebih terkenal daripada nama aslinya, Djamaluddin.

Adinegoro sempat mengenyam pendidikan selama empat tahun di Berlin, Jerman. Di sana, ia mendalami seluk-beluk mengenai dunia jurnalistik.

Tentu saja pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro memang lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.

Wartawan dan Pengarang yang Berani

Ia memulai kariernya sebagai wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut.

Ketika belajar di luar negeri pada rentang tahun 1926 hingga 1930, ia juga bekerja menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur. Bintang Timur adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Indonesia.

Surat kabar tersebut adalah bagian dari Partai Indonesia (Partindo). S Tahsin yang menjabat sebagai kepala penyunting Bintang Timur, kemudian digantikan oleh Tom Anwar. Pada akhir 1950an, surat kabar tersebut memiliki peredaran 25 ribu dan Panji Pustaka (Batavia).

Sekembalinya ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Akan tetapi, ia hanya bertahan enam bulan di sana. Setelah itu, dia kembali lagi ke Pewarta Deli sebagai pemimpin selama 10 tahun dari tahun 1932 hingga 1942.

Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof Dr Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia pada tahun 1948 hingga 1950.

Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia pada tahun 1951. Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara hingga akhir hayatnya.

Tak hanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai jurnalis, Adinegoro muda ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran (UNPAD). Ia juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang pada tahun 1942 hingga 1945, anggota Dewan Perancang Nasional, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.

Dua karya novel Adinegoro yang terkenal dibuat pada tahun 1928 yaitu Asmara Jaya dan Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982), mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan.

Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu yang dijalankan oleh pihak kaum tua.

Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930.

Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar Tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang disunting oleh Achdiat K Mihardja (1977).

Dalam esainya itu, Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain.

Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya.

Pada tahun 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro membuat atlas pertama berbahasa Indonesia. Atlas tersebut dibuat dari Amsterdam, Belanda bersama Adam Bachtiar dan Sutopo. Dari mereka bertiga, terbitlah buku Atlas Semesta Dunia dua tahun kemudian.

Baca juga: 3 Pelaku Curanmor Puluhan TKP di Sawahlunto Ditangkap, 20 Sepeda Motor Diamankan

Atlas tersebut menjadi pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia sejak Indonesia merdeka. Pada tahun yang sama setelah atlas itu muncul, mereka juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan. Pada tahun 1954, ia menerbitkan ensiklopedia pertama dalam bahasa Indonesia yang berjudul Ensiklopedi Umum Dalam Bahasa Indonesia. [pkt]

Baca berita Sawahlunto hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler