Penanggulangan Sampah Harus Dimulai Dari Sumbernya

Ilustrasi sampah. (Foto: Pixabay.com)

Padangkita.com – Pengamat Lingkungan Universitas Negeri Padang Indang Dewata mengatakan penanggulangan sampah di Kota Padang harus dimulai dari sumbernya. Selain melakukan penanganan pada sampah yang sudah dihasilkan, mengurangi produksi sampah di tingkat masyarakat juga mesti dilakukan.

“Bila tidak di-reduce dari sumbernya, berapapun jumlah tenaga kerja, berapapun anggaran, berapapun fasilitas, keberadaan sampah tidak akan bisa terkofer,” ujar Indang, Kamis (30/11/2017).

Menurut Indang, saat ini pola hidup masyarakat cenderung konsumtif. Produksi sampah tiap orang di Kota Padang sudah mencapai 1 kg per hari. Jika diperkirakan penduduk berjumlah 1 juta jiwa, setiap hari Kota Padang akan menghasilkan 1 juta kg per hari. Maka hal ini mesti menjadi perhatian karena tempat pembuangan akhir (TPA) sampah punya kapasitas yang terbatas.

Untuk menekan jumlah sampah, kata Indang, perlu diterapkan prinsip 3R, reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), dan recycle (melakukan daur ulang). Menekan produksi sampah di tingkat masyarakat bisa dilakukan dengan menghidupkan kembali keberadaan bank sampah. Keberadaan bank sampah, selain untuk menampung sampah yang telah dipilah, juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah yang baik.

Tidak hanya di kalangan masyarakat, pemerintah juga mesti melakukan pemilahan kembali terhadap sampah. Indang menilai, selama ini pemerintah baru pada tahap memindahkan sampah ke TPA tanpa adanya upaya pengurangan sampah. Keberadaan pemulung yang melakukan pemilahan sampah tidak cukup karena hanya mampu mengurangi 2-3 persen sampah.

“Kalau bisa, di sumber sampah itu dikurangai, di produk akhir juga dikurangi,” ujarnya.

Selain melakukan hal tersebut, pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat tentang pengelolaan sampah juga mesti dibenahi. Hal itu bisa dilakukan melalui pendidikan di sekolah, pemahaman, pendidikan agama, dan sebagainya.

“Upaya-upaya penanggulangan sampah tersebut mesti dilakukan terus menerus dan konsisten, tidak hanya sekali-dua kali dan bersifat seremonial. Pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan pemerintah saja, tetapi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang Al Amin mengatakan pihaknya akan menghidupkan kembali bank sampah yang ada di 104 kelurahan di Kota Padang. Sampah hasil pilahan masyarakat, seperti botol air mineral dan plastik-plastik, yang masih bisa didaur ulang bisa ditabung di bank sampah. Tabungan itu bisa menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Pada 2018 nanti, kata Al Amin, pihak Pemko akan memberikan bantuan modal sebesar Rp10 juta kepada masing-masing bank sampah. Modal itu diberikan karena selama ini masyarakat kesulitan mencari modal awal. Modal tersebut diharapkan bisa dikembangkan oleh pengelola bank sampah.

Ia juga mengatakan pihaknya DLH Padang telah melakukan pemilahan sampah sebelum diantarkan ke TPA. Sampah organik yang terkumpul tidak dibuang ke TPA melainkan diolah menjadi kompos. Rata-rata setiap hari DLH Padang bisa menghasilkan 500 kg kompos.

“Bagi masyarakat yang butuh kompos, boleh mengambilnya di DLH atau di TPA Air Dingin. Gratis,” ujarnya, Kamis (30/11/2017).