Mengantisipasi Laju Kerusakan Terumbu Karang Perlu Upaya Pemulihan

Penyelam sedang melakukan penanaman terumbu karang (Foto/Bitungkota.go.id)

LAJU kerusakan terumbu karang di perairan laut Kabupaten Pesisir Selatan tidak hanya akibat ulah tangan manusia, tapi juga akibat pengaruh perubahan iklim yang dikenal dengan elnino.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bung Hatta pada tahun 2004, kerusakan terumbu karang perairan laut Pesisir Selatan mencapai 70 persen dari luas 1274,18 Ha.

Agar kerusakan itu bisa pulih, berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Pesisir Selatan. Diantaranya melalui rekayasa atau pembuatan terumbu karang dengan penanaman pada lokasi yang rusak atau dengan penyusunan kubus berbentuk piramida.

Kepala Dinas Perikanan Pesisir Selatan, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Nelayan dan Budidaya, Afriman Julta, mengatakan Pesisir Selatan terus berupaya melakukan pemulihan terhadap kerusakan terumbu karang. Hal ini dimaksudkan agar laju kerusakan terumbu karang bisa diminimalisir.

Ada dua upaya yang dilakukan untuk memulihkan kembali terumbu karang yang rusak di Pesisir Selatan, yaitu melalui transplantasi terumbu karang dengan cara mengambil terumbu karang yang hidup untuk dipindahkan ke tempat lain yang terumbu karangnya telah mati. Kedua melalui pembuatan terumbu karang dengan cara menyusun kubus menjadi bangunan piramida di dasar laut.

“Dua cara ini selain bertujuan agar kondisi terumbu karang kembali pulih, juga bertujuan untuk mengumpulkan ikan-ikan pada satu lokasi atau titik untuk lebih nyaman berkembang biak.” Ujar Afriman Julta.

Kegiatan tranplantasi terumbu karang di Pesisir Selatan telah dilakukan sejak tahun 2008, yang berlokasi di pangairan kawasan Wisata Mandeh Kecamatan Koto XI Tarusan, Pulau Aur, dan Pulau Cingkuak. Pada lokasi itu, Pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKOP) telah menempatkan program sebanyak tiga kali, Diantaranya tahun 2008, tahun 2015, dan tahun 2016.

“Untuk kegiatan pembuatan terumbu karang melalui penyusunan kubus menjadi bangunan seperti piramida, dilakukan pada tahun 2016. Kegiatan ini ditempatkan di Kawasan Mandeh, tepatnya di depan Pulau Cubadak, dan di depan Pulau Sironjong dengan ketinggian kubus mencapai 10 meter. Kegiatan ini juga dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui KKP.” Lebih lanjut Afriman Julta menuturkan.

Namun kata Afriman Julta, memasuki tahun 2017 kewenangan kegiatan konservasi terumbu karang tidak lagi ada di daerah, tapi telah menjadi kewenangan provinsi.

Baca juga:
Jumlah Kawasan Hutan Riau, Sumatera Barat, dan Jambi Semakin Mengkhawatirkan

“Walau demikian, daerah akan tetap berupaya melakukan pengawasan terhadap kelestarian terumbu karang, terutama yang diakibatkan oleh tangan manusia. Melalui beberapa program yang sudah dilakukan itu, sehingga di beberapa titik kerusakan terumbu karang telah mulai membaik hingga 5 persen. Berdasarkan hal itu, sehingga kerusakan sebesar 70 persen itu, telah berkurang menjadi 65 persen,” ujarnya.

Saat ini kondisi terumbu karang yang masih dinyatakan baik adalah di perairan Pulau Kerabak Ketek, Pulau Sironjong, Pulau Cubadak, Marak, dan Pulau Penyu. [Lihat Sumber]