Kapolres Pastikan Isu Penculikan Anak di Padang Hoax

Ilustrasi (foto: tsismosaonline)

PadangKita – Pihak Polresta Padang memastikan informasi terkait penculikan anak yang beredar di masyarakat sebagai kabar bohong (hoax). Hal tersebut disampaikan Kapolresta Padang Komisaris Besar Chairul Aziz, pada sejumlah awak media, Senin (27/3/2017).

“Memastikan, informasi beredar tentang maraknya penculikan anak, serta pengambilan organ tubuh anak yang semakin meresahkan warga Kota Padang adalah hoax atau kabar tidak benar,” kata Chairul Aziz.

Kapolres mengatakan, kabar tersebut disebarkan oleh sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ketidaknyamanan di lingkungan masyarakat di Padang. Isu-isu tentang penculikan anak yang mengambil organ tubuh para korbannya, menurutnya, merupakan kabar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

“Isu-isu tentang penculikan kemudian ada korban yang diambil organ tubuhnya, adalah hoax. Karena setelah kita identifikasi foto-foto yang beredar ternyata editan semua,” ujarnya di kediaman Walikota Padang.

Isu Kasus penculikan anak berumur 1-12 tahun untuk diambil organ dalam tubuhnya belakangan ini marak beredar di media sosial, Facebook, Twiter, BBM, dan WhatsApp.

Dalam isu broadcast tersebut, penyebar pesan meminta kepada para orang tua agar menjaga anak-anaknya, karena saat ini para penculik sedang berkeliaran di kampung-kampung dan menyamar sebagai orang gila, pengemis, dan om telolet om.

Ia menghimbau masyarakat Kota Padang agar tidak langsung percaya, bahkan ikut serta menyebar informasi yang belum terbukti kebenarannya, karena hanya akan menambah keresahan di tengah masyarakat. Namun, ia tetap meminta orang tua untuk waspada dengan adanya isu tersebut.

Menurutnya jika ada orang yang mencurigakan di sekitar lingkungan tempat tinggal diharapkan masyarakat melaporkan kepihak kepolisian.

Terkait adanya informasi penangkapan seorang yang diduga pelaku penculikan anak di wilayah Kecamatan Pauh pada Minggu (26/3) malam, Kapolres memastikan, hal itu tidak benar. Menurutnya seorang yang diamankan adalah warga yang mengalami gangguan jiwa. (Aidil Sikumbang/Arif)

Baca juga:
Dinilai Inkonstitusional, PUSaKO Unand Siapkan Gugatan UU Pemilu