Cerita Si Kadut, Ulama ‘Mabuk’

Ilustrasi (Foto/Ist/Edt)

DI SALAH satu bagian belahan bumi, yang dilintasi garis khatulistiwa, di sebuah negara yang memiliki ciri sejak zaman purba : mataharinya dikenal selalu terbit sepanjang tahun, hiduplah seorang manusia berjenggot – ini hanya identitas lahiriah di negara itu. Ia mengaku seorang cerdik pandai dalam ilmu ketuhanan dan menisbahkan diri sebagai manusia terhormat keturunan salah satu Nabi. Katanya.

Si Kadut namanya. Ia hidup diantara manusia moderen. Ia bukan sembarang manusia, penguasa sekelompok manusia berjenggot. Ia juga dinobatkan sebagai seorang Ulama – sebutan untuk seorang pemuka pada agama yang dianut Kadut.

Epz, sekali lagi, Kadut bukan sembarang manusia. Walau menisbahkan diri sebagai keturunan Nabi, tapi orang mengenalnya sebagai tukang provokasi atau tukang hasut bahasa kerennya. Bahkan karena itu ia pernah menjadi ‘manusia rantai’.

Tidak hanya itu tentang Kadut, ia adalah tipe makhluk yang tidak memiliki sistem kontrol gerak pada lidah dalam bicara. Lontaran kata kotor, caci-maki, dan kata-kata yang menebar kebencian, hal akrab dilidahnya. “Goblok…, Anjing…, Taik…,Tangkap…, Bunuh…,” jangan heran jika anda mendengar itu darinya.

Itu sebetulnya bukanlah ciri seorang ulama. Tapi, menurut Kadut dan para pengikutnya, kegilaan seperti itu adalah ajaran agamanya. Padahal, khalayak banyak yang seagama dengan Kadut mengelus dada. Hanya saja, mereka tidak mau mengikuti amarah, karena itu adalah pekerjaan setan.

“Jika marah dan melawan Kadut, apa bedanya kita dengan Kadut?” begitu ujar khalayak banyak di negara itu.

Suatu ketika, Kadut mengaku telah mengumpulkan belasan juta manusia untuk mendemo seorang ‘raja kecil’ kafir di salah satu distrik di Negara itu.

Katanya, itu karena si raja telah melecehkan agama dan Tuhannya Kadut.

Tak kepalang, walau si Raja sudah minta maaf, si Kadut tidak memberi ampun. Kadut melaporkan raja ke dubalang negara. Hingga sampailah si raja duduk di kursi pesakitan mengahadapi tuntutan penjara di depan lima hakim.

Cerita tetang si Kadut dan si raja selesai.

Kini banyak yang mulai sadar dengan kasarnya mulut Kadut. Yang dulu membiarkan, kini mulai resah, karena si Kadut sudah semakin ‘ngelunjak’.

Baca juga:
Di Forum Unesco, Mahyeldi Bicara Infrastruktur Ramah Disabilitas

Yang merasa dihina, dicaci, dan dilecehkan oleh si Kadut sudah melaporkan pula ke dubalang negara.

Hah…, tak kepalang rupa paniknya si Kadut. Kini sudah mulai terbayang olehnya rasa menjadi pesakitan yang dulu pernah dirasa.

Kadut dan para pendukungnya mulai pakai jurus mabuk.

Para pendukung Kadut bergerilya membangun opini : Kadut adalah korban fitnah.

Salah satu cara adalah baca mantra “bim salabim”. Luar biasa. Mereka membangun persepsi khalayak ramai : Kadut adalah ‘orang yg layak diikuti pada akhir zaman’, seperti dicirikan seorang ulama terdahulu.

Lalu, ada pula menyamakan ‘kegilaan’ si Kadut dengan seorang Khulafaur Rasyidin, yaitu para pemimpin setelah wafatnya nabi di Agama Kadut. Dan, ada pula diumpamakan seperti ulama-ulama yang hidup terdahulu, tak kepalang ada pula yang mendaulat Kadut sebagai “Imam Besar”.

Rupanya jurus Kadut dan pengikutnya ini dasyat. Khalayak ‘bersumbu pendek’, maka percayalah. Lalu mereka mengelukan si Kadut.

“Ah, Entahlah. Kata guru silat, jurus mabuk itu digunakan kalau tenaga sudah habis.” Begitu ujar khalayak nan masih waras di negara itu.

Kata orang tua, cerita si Kadut ini ibarat :
maling teriak maling.
Tukang fitnah teriak difitnah.
Tukang caci teriak korban makian.
Tukang lapor minta berdamai ketika dilaporkan orang.
Tukang rusuh yangg tiba-tiba ngajak “adem-ayem”.

Dulu, si Kadut hanya maskot bagi kelompoknya.
Nah, sekarang banyak pula yang mengikuti, tak jarang diantara mereka kaum intelektual di negara itu.

Karena karut marut ini, seorang hamba lain nan masih waras berucap:

“Ya Tuhan…,
Bolehkah hamba bertanya,
Ini kah ciri akhir zaman?
Banyak ulama tapi menyesatkan.”