Umat Muslim Perlu Tahu! Ini Jenis-jenis Puasa yang Tidak Disyariatkan atau Diharamkan

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Umat Islam pada umumnya mengetahui bahwa puasa adalah ibadah. Namun, ternyata ada puasa yang tidak dianjurkan.

Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Syamsul Hidayat mengatakan ada beberapa puasa yang tidak disyariatkan (ghair masyru’).

Dikutip dari situs Muhammadiya, puasa yang tidak disyariatkan tersebut adalah puasa sepanjang asa (Shaum ad-Dahr), puasa dengan cara menyambung puasa dua hari atau lebih tanpa berbuka (wishal) dan puasa pada hari raya.

Kemudian, puasa pada hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah), puasa mendahului puasa Ramadhan sehari atau dua hari sebelumya, dan puasa khusus pada hari Jum’at (kecuali ada puasa sebelum atau sesudahnya).

Syamsul Hidayat menyarankan agar menjalankan puasa yang memang telah disyariatkan melalui redaksi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, tata cara pelaksanaan puasa sunah secara umum sama dengan pelaksanaan puasa wajib.

Namun, perbedaannya ialah diawali dengan niat ikhlas karena Allah SWT yang dimulai sebelum fajar atau sesudahnya sampai tengah hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

“Perbedaannya dengan puasa wajib ialah kalau puasa wajib harus sudah berniat puasa sebelum fajar, kalau puasa sunah niatnya bisa sebelum fajar sampai tengah hari atau dzuhur dengan catatan belum melakukan perbuatan yang membatalkan puasa,” Syamsul Hidayat dalam kajian Tarjih yang diselenggarakan Masjid Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada Sabtu (16/2/2022).

Puasa sunah yang masyru’ (disyariatkan) ialah puasa Daud, puasa hari Senin dan Kamis, puasa di bulan Sya’ban, puasa Tasu’a dan Asyura (Muharram), puasa enam hari di bulan Syawal, dan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah).

Syamsul Hidayat menyampaikan keutamaan melaksanakan puasa sunah ialah dapat menjadi perisai dari api neraka, Malaikat akan selalu bershalawat atas orang yang berpuasa, dan terhapusnya dosa-dosa.

Baca juga: Istilah Seputar Puasa dalam Bahasa Minang, Ada Makan Parak Siang dan Malengah Puaso

Perlu diiingat bahwa puasa yang sungguh-sungguh bukan sekadar perbuatan fisik menahan lapar dan haus, melainkan didasarkan pada komitmen otentik yang kuat untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat, sekaligus menjadi pendorong untuk berbuat baik,” ujar dosen studi Islam UMS ini. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist