Tradisi di Nagari Taluak Tanah Datar Menyambut Ramadan, Maniliak atau Mancoliak Bulan, Bakawu hingga Mamogang

Penulis: Agg
|
Editor: Redaksi

Berita Tanah Datar hari ini dan berita Sumbar hari ini: “Maniliak Bulan” atau “Mancoliak Bulan” (melihat Bulan) dengan mata telanjang

Batusangkar, Padangkita.com – Masyarakat di Nagari Taluak, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, sejak duhulu hingga sekarang punya tradisi dalam menentukan awal puasa atau 1 Ramadan, Hari Raya Idulfitri 1 Syawal dan Hari Raya Iduladha 10 Zulhijah.

Tradisi ini disebut dengan “Maniliak Bulan” atau “Mancoliak Bulan” (melihat Bulan) dengan mata telanjang tanpa perantara, tidak menggunakan alat atau teknologi apapun.

Warga di Taluak melihat bulan di tempat-tempat tertentu dengan mata telanjang. Biasanya lokasi-lokasi tersebut berada di ketinggian atau di tempat yang lapang.

Prosesi “Maniliak Bulan” itu ditentukan terlebih dahulu oleh Lembaga adat yakni, Kerapatan Adat Nagari (KAN), alim ulama, bersama Pemerintahan Nagari Taluak dalam musyawarah bersama.

Setelah disepakati kapan akan dilakukan proses “Maniliak Bulan” itu, maka pada hari yang telah ditetapkan semua unsur yang bermusyawarah sebelumnya, kemudian berkumpul di Surau Sumur Darek yang terletak di Jorong Baringin Sakti.

Di sini, biasanya tidak hanya warga Nagari Taluak yang hadir, tetapi ada pula utusan-utusan dari beberapa daerah lain yang sama-sama meyakini untuk melakukan hal serupa.

Biasanya ada utusan dari daerah Pariaman, Koto Tuo Bukittinggi, Sijunjung, Padang Ganting, Atar, Talawi dan beberapa daerah lain yang sama-sama menganut Tarekat Syattariyah.

“Jadi, ini tradisi yang sudah dari dahulunya hingga saat ini diterapkan di sini. Nanti pada hari Maniliak itu kami semua berkumpul di Surau Sumur Darek itu. Kalau dahulu ada utusan dari daerah lain, kalau sekarang karena komunikasi susah mudah, jadi bisa saja pakai handphone mengabari daerah lain tersebut,” ujar Wali Nagari Taluak Pendi Aswil,

Pemuka-pemuka nagari berkumpul pada hari yang telah disepakati itu bersama warga. Mereka menuju ke tempat yang tinggi atau daerah yang lapang untuk melihat penampakan bulan.

“Nah, nantinya siapa yang memberikan kesaksian, baik bagi yang nampak maupun yang tidak nampak, terlebih dahulu akan disumpah pakai Al-Quran. Jika pada hari itu sama-sama melihat bulan maka akan dimusyawarahkan dahulu oleh pemuka-pemuka tadi, kapan ditetapkannya awal puasa. Hal itu juga berlaku pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha,” jelas Pendi.

Jika dalam kesepakatan itu, sebut Pendi, telah ditentukan dan ditetapkan kapan jatuhnya hari pertama puasa, informasi tersebut langsung akan disebarkan kepada warga lainnya.

Jika kesepakatan telah ditentukan maka akan terlebih dahulu akan dilakukan pemukulan “Tabuah” (semacam bedug) yang berada di halaman depan kantor wali setempat.

Cerita Siyak Taluak Turun-temurun

Nagari Taluak terdiri dari empat jorong yakni, Jorong Tigo Tumpuok, Jorong Taruko, Jorong Baringin Sakti, dan Jorong Aliran Sungai.

Berdasarkan data pada Desember 2020, jumlah warga Nagari Taluak tercatat sebanyak 1.894 Kepala Keluarga (KK), atau 6.519 jiwa, dengan luas daerah 2.500 hektare.

Masyarakat setempat pada umumnya hidup dari pertanian, meski sawah di nagari itu sawah tadah hujan. Selain padi, warga Taluak juga banyak yang berkebun karet.

Di Nagari Taluak, tradisi adat dan keagamaan masih awet sejak dulu hingga sekarang. Tradisi itu diwariskan dari generasi ke generasi melalui surau atau musala dan masjid.

Dalam adat dan agama ini ada yang dinamakan “Siyak Taluak” mengantarkan doa ke rumah-rumah.

Cerita sola Siyak Taluak tersebut, dahulunya adalah Datuak Ongku Duo Puluoh yang selalu mampir dari rumah ke rumah sesuai domisili anak kemenakannya.

Dia berdoa dan mengantarkan kaji ke rumah-rumah anak kemenakan tersebut. Kadang mengantarkan doa itu tidak hanya di Taluak, bahkan sampai ke luar Nagari Taluk.

Mereka itulah kemudian yang disebut atau dikenal dengan Siyak Taluak.

Untuk regenerasi Ongku Datuak Puluoh itu, anak-anak yang sudah tamat Sekolah Dasar (SD) dimasukkan ke pesantren menuntut ilmu keagamaan.

Saat pulang kampung mereka yang kemudian mengantar doa atau kaji ke rumah-rumah.

Nah, dalam Maniliak Bulan, para Datuak Ongku Duo Puluoh tersebut dilibatkan bersama para tokoh agama lainnya yang ada di nagari tersebut.

Ziarah ke Makam Syekh

Ada pula beberapa tradisi lain yang mengiringi penyambutan bulan suci Ramadaan oleh warga Taluak. Dimulai pada Bulan Rajab dengan berziarah ke makam syekh.

Pada bulan itu warga melakukan ziarah ke makam-makam syekh ternama seperti ke Ulakan Pariaman dan tempat lainnya.

“Ada juga warga luar yang datang ke Taluak berziarah ke beberapa makam syekh di sini. Kami menyebutnya “Basafa”.

Di sini kami ada dua kuburan yang selalu dikunjungi setiap tahunnya oleh warga luar yakni, Makam Ongku Kalumbuok di Surau Sumur Darek dan Makam Kalumbuok di Batu Godang,” jelasnya.

Agenda serupa juga dilakukan pada bulan “Muluk” atau Maulud (Maulid Nabi Muhammad SAW setiap 12 Rabiul Awal Tahun Hijriah di mana warga setempat lebih dahulu melakukan ‘kawu’ atau khaul.

Yakni, berziarah ke makam syekh yang ada di beberapa titik di Nagari Taluak.

“Kalau kami menyebutnya “Bakawu’ (ber kawu/berkhaul), karena di sini ada beberapa kuburan keramat, jadi warga akan berziarah ke tempat tersebut. Di antaranya di Boncah, di Batu Godang, dan di Sigunuong-gunuong. Nah, Bakawu ini juga ditentukan harinya oleh alim ulama dan KAN serta pemerintahan nagari,” terangnya.

Selain itu, lanjut dia, juga ada tradisi bernama “Mamogang” atau “Mambantai”, yakni memotong sapi atau kerbau oleh para toke (pedagang) ternak.

Kemudian dagingnya dijual kepada warga dengan harga murah atau di bawah harga pasar. Sebelumnya, diadakan dulu kesepakatan dalam musyawarah soal harga murah ini.

Mamogang itu, kata Pendi, merupakan tradisi dari dahulunya untuk membantu warga yang kurang mampu.

“Dahulu warga kan susah untuk makan daging karena kondisi serta zaman perang. Nah, untuk membantu warga itulah disepakati oleh pemerintahan nagari dan tokoh masyarakat serta semua unsur dilakukan Mamogang ini dan sampai saat ini masih bertahan,” jelasnya.

Setelah Mamogang dilakukan pada pagi hari, siangnya para Datuak Ongku Duo Puluoh akan mengantarkan doa atau mengaji ke rumah-rumah.

Beriringan dengan itu, juga ada tradisi lainnya “Maanta Dagiang”. Tradisi ini khusus bagi menantu wanita yang akan mengantarkan daging ke rumah mertuanya.

Baca juga: 7 Tahun Dana Bergulir Bekas PNPM di Tanah Datar Capai Rp47 Miliar, Wabup Ingatkan Agar Tetap Dikelola

“Sejak tiga tahun terakhir juga ada tradisi membersihkan pandam pekuburan oleh pemuda di suku-suku yang ada di sini,” tukasnya. [pkt]

Baca berita Tanah Datar hari ini dan berita Sumbar hari ini hanya di Padangkita.com.

Terpopuler