Teliti POP Gunakan Media Tikus, Bobby Indra Utama Raih Gelar Doktor

Padang, Padangkita.com – Bobby Indra Utama berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Sel Punca Mesenkimal Cairan Ketuban Terhadap Kolagen Tipe III, Fibulin-5, dan Loxl-1 Pada Tikus dengan Prolaps Organ Panggul” untuk meraih gelar doktor pada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang.

Di hadapan promotor pada ujian terbuka promosi doktor, Rabu (1/7/2020) pagi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Bobby menjelaskan jika penelitian pada penggunaan sel punca yang berasal dari cairan ketuban untuk terapi turun peranakan ini, juga menggunakan hewan tikus sebagai media penelitiannya.

Bobby adalah seorang dokter Ilmu Biomedik pada Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang fokus kepada ilmu uroginekologi dan bedah rekonstruksi.

Sudah sebanyak 21 ekor tikus yang dijadikan percobaan Bobby untuk menilai pengaruh pemberian sel punca mesenkimal cairan ketuban terhadap kolagen tipe III, fibulin-5 dan LOXL-1.

Prolaps organ panggul (POP), kata Bobby, adalah penonjolan dinding vagina ke dalam liang vagina atau keluar introitus vagina yang diikuti oleh organ-organ pelvis. POP ialah turunnya organ panggul yang ditandai dengan perubahan anatomi dari rahim, vagina, kandung kemih, rektum dan anus.

Mengutip diagnosis Haylen BT, kata Bobby, POP dimulai dengan adanya seorang wanita memiliki gejala berupa penurunan organ-organ tersebut. Hal ini disebabkan karena hilangnya sistem penyokong panggul yang merupakan hasil interaksi yang kompleks antara otot levator ani, vagina, jaringan penghubung, dan saraf pudenda

“Di Sumbar saat ini, baru dua orang yang memperdalam keahlian atau ilmu tentang Prolaps organ panggul ini. Satu di antaranya saya sendiri,” kata Bobby Indra Utama, Rabu (1/7/2020).

Baca juga: MLI Komisariat Unand Gelar Simposium Soal Perkembangan Linguistik Mikro

Bobby menjelaskan, selama melakukan penelitiannya, puluhan ekor tikus digunakan. Tujuh ekor tikus di antaranya, dikelompokkan sebagai kelompok kontrol tanpa perlakuan, kontrol dengan Prolaps organ panggul, kelompok prolaps organ panggul dengan sel punca mesenkimal cairan ketuban.

Dan, selanjutnya dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan imunohistokimia kolagen tipe III, dan pemeriksaan ekspresi gen fibulin-5 dan LOXL-1 dengan “quantitative real time PCR”.

Menurut Bobby saat ini standar terapi POP adalah tindakan operasi yang dilakukan secara transvaginal atau abdominal. Namun, tindakan ini memiliki angka kegagalan tinggi. “Penelitian terkait terapi POP, sudah mengalami kemajuan pesat. Saat ini dikembangkan terapi dengan penggunaan sel punca yang memiliki sifat regeneratif. Pemeriksaan karakteristik sel dengan imunofenotip menujukkan sel punca cairan ketuban didominasi oleh sel punca mesenkimal yang dikenal dengan sel punca mesenkimal cairan ketuban,” ujarnya.

Dijelaskan, analisis normalitas data menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilks, didapatkan hasil Kolagen III berdistribusi normal, Fibulin-5 dan LOXL-1 tidak berdistribusi normal. Data yang berdistribusi normal dilakukan analisis komparatif antarkelompok dengan uji One-Way ANOVA diikuti uji lanjut Bonferroni, didapatkan hasil yang bermakna pada kadar kolagen tipe III.

Data yang tidak berdistribusi normal dilakukan analisis dengan uji Kruskal-Wallis diikuti uji post-hoc Mann-Whitney, didapatkan hasil yang tidak bermakna pada kadar Fibulin-5 dan LOXL-1.

“Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang pengaruh pemberian sel punca mesenkimal cairan ketuban pada terapi prolaps organ panggul, maka didapatkan hasil bahwa kadar kolagen tipe III pada pemberian sel punca mesenkimal cairan ketuban meningkat secara signifikan, kadar fibullin-5 pada pemberian sel punca mesenkimal cairan ketuban meningkat,” jelasnya.

Namun, sambung dia, itu tidak bermakna secara signifikan, kadar LOXL-1 pada pemberian sel punca mesenkimal cairan ketuban menurun, tidak bermakna secara signifikan.

Meski saat ini sudah memasuki tahap kesempurnaan penelitian, tetapi, kata Bobby, masih perlu dilakukan penelitian tahapan uji klinis selanjutnya dalam penggunaan sel punca mesenkimal cairan ketuban pada terapi prolaps organ panggul.

Sehingga, diharapkan sel punca mesenkimal cairan ketuban dapat digunakan sebagai salah satu terapi berbasis sel ataupun penggunanya sebagai “native tissue repair” dan potensi yang menjanjikan dari sumber donor sel punca yang besar berbasis cairan ketuban dari tindakan seksio sesaria perlu dikembangkan dan di aplikasikan pada tekhnologi bio-banking, terapi berbasis sel, modelling penyakit dan kedokteran regeneratif. [and/pkt]


Baca berita Padang terbaru hanya di Padangkita.com.

Terpopuler