Surga Tersembunyi Pecinta Kopi Luwak di Sumbar yang Jadi Incaran Turis Mancanegara

Penulis: Irfan Denas

Bukittinggi, Padangkita.com – Bagi yang suka kopi luwak, harus berkunjung ke tempat ini. Letaknya di Desa Batang Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat (Sumbar).

Namanya adalah ‘Rafflesia Luwak Coffee’. Meski hanya usaha rumahan, tetapi di sini ditawarkan kenikmatan kopi luwak yang tak akan terlupakan. Boleh disebut, ini surganya bagi pencinta kopi luwak.

Persisnya, lokasi usaha ini berada di gerbang masuk kawasan Cagar Alam Batang Palupuh Aroma, sekitar 11 km dari pusat Kota Bukittinggi. Walaupun cukup jauh dari pusat kota, kopi luwak di sini diburu oleh wisatwawan mancanegara.

Pemilik Rafflesia Luwak Coffee, Umul Khairi mengatakan, kopi luwak yang ditawarkan yaitu biji kopi yang diolah berasal dari kotoran luwak liar. Hal ini membuat kopi luwaknya menjadi istimewa.

Biji kopi luwak yang digunakan. [Foto: Denas/Padangkita]

“Jadi luwaknya ini bukan luwak tangkar tetapi luwak yang masih berkeliaran di dalam hutan. Rasa dan aroma kopinya lebih enak dari kopi luwak tangkar,” ujar Umur ketika berbincang dengan Padangkita.com, Kamis petang (10/3/2022).

Seperti diketahui, kopi luwak adalah olahan kopi yang yang mengalami proses fermentasi secara alami di dalam perut luwak. Kopi yang dimakan oleh luwak ini dicari lagi ke tempat-tempat luwak tersebut membuang kotoran.

Ada dua jenis kopi luwak, yakni kopi luak liar dan kopi luak tangkar. Kopi luwak liar hanya makan buah kopi yang matang sempurna, yang tidak berlaku pada kopi luak tangkar.

“Luwak liar hidup di hutan. Mereka bebas makan makanan apapun yang mereka suka sehingga kopi luwak yang dihasilkan lebih nikmat,” terang Umul.

Umul memastikan, kopi dari kotoran luwak ini tetap higienis dan aman dikonsumsi. Hal itu karena biji kopi dari kotoran luwak tetap terlindungi oleh cangkang kopi sehingga bijinya tidak bercampur dengan kotoran.

“Kalau di alam liar, cari kotoran luwak ini tidak sulit, karena kebiasaan luwak yang higenis, ia selalu ‘pup’ ditempat yang bersih dan mudah kita temukan,” paparnya.

Dalam proses membersihkan biji kopi dari kotoran luwak, ada dua metode yang digunakan, yaitu dengan bantuan air hujan dan dibersihkan langsung secara manual.

Setelah itu, Umul mengatakan, biji kopi disangrai dengan menggunakan belanga walaupun memakan waktu yang panjang.

“Kalau pakai mesin roasting kan 15 menit bisa siap, kalau ini bisa sampai satu hingga dua jam,” terangnya.

Proses pengolahan kopi luwak. [Foto: Denas/Padangkita]

Dalam proses menyangrai, ia menjelaskan, pihaknya menggunakan kayu dari pohon kulit manis untuk api pembakarannya. Hal itu karena aroma kopi akan lebih terasa. Kopi yang telah selesai disangrai lalu diracik dengan metode seduh

“Kalau racikan kopinya kita pakai ‘Turki Style’,” kata Umul.

Umul menyebut, masyarakat Palupuh sejak dulu sudah punya tradisi mencari kopi kotoran luwak, tetapi lambat laun berkurang karena populasi luwak di alam terbuka yang berkurang.

“Sejak dulu orang Minangkabau sudah meminum kopi luwak yang dinamakan kopi cirik musang. Hanya saja dulu tidak dikomersialkan. Untuk konsumsi pribadi saja,” katanya.

Sejarah Berdirinya Rafflesia Luwak Coffee

Umul berkisah, ia merintis usahanya sejak 2010. Saat itu, kopi luwak populer di kawasan Ubud, Bali.

“Idenya dari sana. Lalu kami bekerja sama dengan petani kopi dari kabupaten lain seperti di Solok dan Solok Selatan yang masih banyak mengumpulkan kopi dari kotoran luwak,” terangnya.

Bersama sang kakak, ia menjalankan bisnis kopi luwak dengan memanfaatkan beberapa ruang yang ada di rumahnya.

Ruang di teras rumahnya dijadikan tempat pengunjung yang ingin menikmati secangkir kopi luwak. Sementara, dapur kecil di belakang rumah dijadikan tempat mengolah biji kopi, mulai dari membersihkan kopi, menyangrai, hingga menumbuknya.

Alasan lain Umul memulai bisnis kopi luwak liar yaitu untuk mengenalkan kopi luwak di Sumbar. Apalagi kampungnya sering dikunjungi turis mancanegara yang ingin melihat pertumbuhan bunga rafflesia di daerah itu.

“Daerah ini kan banyak bunga rafflesia yang tumbuh, jadi banyak turis datang ke sini, kenapa tidak saya kenalkan sekalian kopi luwak di sini,” tutur Umul.

Meski Umul hanya membuka usaha rumahan, tapi pengunjung yang menikmati kopi luwak di sini bisa mencapai ribuan orang setiap tahunnya.

“Kopi luwak banyak digemari turis mancanegara, mereka datang dari berbagai negara. Sebut saja Belanda, Jerman, Inggris, Korea Selatan, Australia, dan Afrika Selatan,” imbuh dia.

Dalam menjalankan bisnis, ia mempekerjakan ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya. Tujuannya, untuk membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan.

Kopi luwak yang siap dinikmati. [Foto: Denas/Padangkita]

Saat kopinya ramai dikunjungi, Umul bisa mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga hingga belasan orang lebih. Selain untuk mengolah kopi, ibu-ibu yang ia pekerjaan juga melayani tamu-tamu yang datang. Mereka cukup mahir berbahasa Inggris sehingga tak canggung saat melayani tamu-tamu mancanegara yang datang.

Tidak hanya sekedar didatangi turis mancanegara, kopi yang ia produksi juga dipesan kembali oleh orang-orang di berbagai negara.

“Turis ini kan orangnya realistis, kalau enak dibilang enak, kalau tidak ya tidak, jadi ketika mereka sudah pulang ke negaranya, ada yang mesan lagi. Kadang ada turis yang menceritakan ke temannya, dan temannya ini akhirnya memesannya juga,” terang Umul.

Suasana alami Rafflesia Luwak Coffee. [Foto: Denas/Padangkita]

Selain menyeruput kopi, para pengunjung Rafflesia Luwak Coffee bisa mendapatkan layanan gratis facial wajah. Umul menyebut khasiat kopi luwak selain baik untuk diminum, juga bagus untuk perawatan kulit. Bubuknya dapat dipakai untuk scrub wajah agar bisa bersih.

“Khasiatnya juga bagus untuk kulit. Wajah berminyak, berkomedo akan segar setelah di-scrub dengan bubuk kopi luwak ini,” ujar Umul. [den/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist