Saran Pengamat Transportasi Publik Agar Terminal Anak Air Tidak Mati Seperti Terminal Bingkuang 

Padang, Padangkita.com – Pengamat Transportasi Publik dari Universitas Andalas (Unand), Yossyafra mengingatkan pemerintah perlu mencari cara agar terminal bus tipe A Anak Air, Koto Tangah, Kota Padang bisa dengan mudah, murah, dan lancar diakses oleh masyarakat.

“Yang harus dipikirkan adalah bagaimana menjadikan dia (terminal) bermanfaat. Jangan hanya sudah dibangun, lalu sia-sia,” ujarnya saat berbincang dengan Padangkita.com via telepon, Sabtu (25/9/2021).

Yossyafra menyebutkan pemerintah perlu memikirkan bagaimana terminal yang telah menghabiskan dana Rp70 miliar itu bisa dengan mudah diakses masyarakat.

Pasalnya, sebagaimana diketahui, dari pusat kota—jika memakai patokan Pasar Raya Padang—jarak terminal itu memang cukup jauh, sekitar 16 km lebih. Terminal ini lebih dekat ke ujung utara Kota Padang.

Masyarakat tentu memiliki pola pikir sederhana yakni bagaimana aksesibilitas menuju terminal itu mudah, murah, dan lancar. Salah satunya yaitu bagaimana agar angkutan kota (angkot) yang ada di Kota Padang sebanyak mungkin menuju ke sana.

“Kalau tidak, angkot tidak masuk ke sana, maka itu tentu menyulitkan penumpang. Kalau lama-lama menyulitkan penumpang, maka terminal itu akan tidak terpakai juga,” ungkapnya.

Dia menambahkan pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana akses pintu masuk ke terminal tersebut tidak menyulitkan bus-bus dari AKAP (Angkutan Kota Antar-Provinsi) dan AKDP (Angkutan Kota Dalam Provinsi) serta angkot untuk masuk ke dalam.

“Karena kalau misalnya jalannya sempit, kemudian masuknya susah, tentu mereka mikir juga, ‘Masuknya saja susah, gimana kami akan aman, selamat, dan mudah masuk ke situ’. Pintu masuknya, di persimpangannya, tentu harus didesain atau diatur sedemikian rupa agar tidak menyulitkan untuk masuk ke kawasan terminal tersebut,” sebutnya.

Yossyafra menuturkan pemerintah juga perlu merencanakan dan mengimplementasikan keterpaduan moda angkutan, baik dari AKAP, AKDP, dan angkot.

“Sebab, jika itu tidak terpadu, pasti akan gagal juga terminal itu,” sampainya.

Selain itu, pemerintah perlu menciptakan kawasan yang bisa menarik orang untuk bisa datang ke sana selain sebagai tempat untuk mencari bus. Misalnya, ada peruntukan lahan untuk tempat perdagangan, pasar, atau departement store.

“Kalau tidak ada daya tarik yang membuat orang ke sana, pasti orang tidak akan banyak ke sana. Tentu terminal itu juga akan gagal,” terangnya.

Sebagai informasi, terminal bus tersebut akan diuji coba pertama kali pada 1 Oktober mendatang.

Kasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Sumatra Barat (Sumbar) Yugo Kristanto mengatakan terminal Anak Air merupakan terminal termegah yang ada di Sumatra.

Terminal ini terdiri atas tiga lantai dan mirip bandar udara serta memiliki 20 lajur. Terminal dibangun di lahan sekitar empat hektare dan direncanakan beroperasi 24 jam dan diperkirakan bisa menampung ratusan bus dalam sehari.

Terminal ini dibangun sejak 2018 dan selesai pada 2019. Sedangkan pada 2020 dan 2021 memasuki tahap pemeliharaan. Pembangunan terminal ini telah menghabiskan dana sebesar Rp70 miliar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, di lantai satu dan dua terminal juga terdapat lebih dari 20 toko untuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang bisa dimanfaatkan penumpang atau sopir bus untuk berbelanja dan membeli keperluan.

Sedangkan di lantai tiga terdapat shelter yang bisa digunakan masyarakat sebagai tempat evakuasi dan mitigasi bencana tsunami, serta sebagai tempat untuk menggelar rapat dan pertemuan.

Selain nyaman dan bersih, terminal bus tipe A Anak Air juga ditunjang oleh layanan transportasi dari Trans Padang sebagai akses bagi penumpang menuju dan keluar terminal.

Baca juga: Terminal Anak Air Termegah di Sumatra, Telan Dana Rp70 M Diuji Coba 1 Oktober

Namun, kata Yossyafra, transportasi Trans Padang saja tidak cukup untuk mendukung akses ke terminal Anak Air. Sebagaimana pengalaman masa lalu, waktu terminal Regional Bingkuang Air Pacah, akhirnya mati dan ditinggalkan karena lokasi yang cukup jauh juga karena akses kurang memadai ke lokasi. [fru/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist