Penjelasan Pakar Soal Peristiwa Isra Mikraj Menggunakan Teori Relativitas Einstein

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Bisakah peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dijelaskan dengan pendekatan sains? Nah, pakar Fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Agus Purwanto membahas topik ini dalam kajian yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta pada Sabtu (26/2/2022)

Isra Mikraj adalah rangkaian dua peristiwa yang terjadi hanya dalam waktu sehari semalam. Peristiwa Isra dan Mikraj bukanlah fenomena yang mengada-ada. Namun peristiwa perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidilharam menuju Masjidilaqsa, kemudian dilanjutkan dari bumi menuju langit (Sidratulmuntaha) menjadi sulit dipahami dan di-nalar oleh otak manusia.

Pada saat peristiwa ini disampaikan kepada orang-orang Makkah, sebagian di antara mereka mengolok-oloknya bahkan ada yang kembali murtad, kecuali Abu Bakar yang menyatakan bahwa hal itu benar. Hal ini menunjukan betapa hebat keimanan seorang Abu Bakar sehingga dijuluki Al-Shiddiq (yang senantiasa membenarkan).

Menurut Agus Purwanto, peristiwa paling penting dalam sejarah ini pun diabadikan dalam QS. Al Isra ayat 1 dan QS. An Najm ayat 13-18.

Agus menyebut tidak sedikit para ilmuwan menggunakan pendekatan teori relativitas khusus Einstein. Ini berarti mengaitkan peristiwa tersebut dengan konsep dilatasi atau pemuluran waktu.

Karena perjalanan Nabi bersama dengan Malaikat Jibril, maka kecepatan kendaraan yang dipakai Nabi SAW setara kecepatan cahaya yaitu 300.000 km/detik. Seandainya Mikraj terjadi dari pukul 20.00 hingga 04.00, berarti perjalanan dari bumi ke langit kemudian pulang dari langit ke bumi berdurasi 8 jam.

Ini mustahil! Bagi Agus, jika kecepatan Rasulullah SAW setara dengan kecepatan cahaya, maka beliau belum keluar dari sistem tata surya. Sebab jika dikalikan dengan kecepatan cahaya 300.000 km/detik, akan dihasilkan jarak tempuh sejauh 4.320.000.000 km dari bumi.

Berarti perjalanan ini baru mencapai planet Neptunus, planet terluar dari sistem tata surya. Artinya membutuhkan sekitar 4.4 tahun kecepatan cahaya hanya untuk sampai menuju alfacentauri.

Karenanya, bagi Agus penjelasan Mikraj menggunakan teori relativitas khusus Einstein belum memadai untuk menjelaskan peristiwa ini. Belum lagi dengan fakta bahwa tidak ada materi yang bermassa yang bisa secepat cahaya. Cahaya dapat bergerak cepat karena pada dasarnya ia adalah gelombang elektromagnetik. Artinya, hanya malaikat dan ruh saja yang bisa memiliki kecepatan 300.000 km/detik.

“Karena ini bicara sains, akan terjadi pembengkakan massa yang besar sekali, dengan kata lain kalau Nabi SAW secepat kecepatan cahaya tubuhnya akan meledak. Karenanya hentikan penjelasan peristiwa Isra Mikraj ini dengan pendekatan relativitas khusus Einstein,” ujar Agus Purwanto sebagaimana dimuat di laman situs Muhammadiyah.

Jika merujuk pada QS. Al Isra ayat 1 dan QS. An Najm ayat 13-18, kata Agus, terdapat tiga kunci yang ada pada peristiwa Isra Mikraj yaitu: asra’, ‘abdi, dan layl. Asra’ adalah memperjalankan, memindahkan materi dari satu tempat ke tempat lain. Tempat menyatakan satu titik dalam ruang sehingga asra’ terkait dengan ruang beserta atributnya.

 ‘Abdi’ menunjuk pada hamba pilihan-Nya yakni Rasulullah yang meliputi jiwa, raga, jasmani dan ruhani. ‘Layl’ mewakili waktu.

Dengan adanya petunjuk tersebut, hal ini mengantarkan pada struktur jagad raya yaitu sifat ruang-waktu-cahaya yang tidak lain adalah teori relativitas umum Einstein. Melalui teori ini, ruang dan waktu tidaklah ajeg, melainkan merupakan fenomena yang fleksibel, relatif, dan dinamis seperti proses alam semesta lainnya.

“Jadi menurut Einstein jagat raya kita itu melengkung,” ujar Agus.

Selain jagat raya itu melengkung, alam semesta juga terus mengembang. Pendapat ini pertama kali diungkapkan oleh Edwin Hubble. Di masa lalu, alam semesta begitu kecil, padat, dan panas. Sebagaimana balon yang diisi udara, alam semesta kemudian mengembang, membesar, dingin, dan jarak antar-galaksi dan materi di dalamnya pun semakin menjauh satu sama lainnya.

Jika alam semesta diibaratkan balon, maka permukaan bola itulah ungkapan ruang lengkung dua dimensi. Artinya masih ada dimensi lain, yaitu alam immaterial yang keberadaannya di luar ruang dan waktu alam semesta.

Maka dari itu, tak heran jika perjalanan Mi’raj yang menembus beberapa lapis langit tersebut, bisa berlangsung dalam waktu yang relatif sangat singkat karena keberadaannya bukan lagi di alam semesta melainkan berada di ‘ruang ekstra’ alias alam immaterial.

Baca juga: Makna Makan Bajamba Tradisi Dalam Peringatan Isra Mikraj di Bungus Teluk Kabung  

“Jadi perjalanan Rasulullah itu menembus dimensi yang lebih tinggi yaitu langit yang gaib. Ini sudah berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan,” tegas Agus. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist