Antara Pencinta dan Penikmat Alam

Penulis: Antoni Putra
(Foto/Antoni Putra)

Pecinta cenderung menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga dan tidak pernah mencemari alam dengan hal apapun. Sementara penikmat alam sering kali tidak peduli dengan kelestarian alam, dan yang ada dalam pikirannya hanyalah menikmati saja.

DALAM ARTIAN, pecinta dan penikmat itu memiliki makna yang tak jauh berbeda. Hanya saja, pencinta lebih memiliki makna yang mendalam jika dibandingkan dengan penikmat.

Pecinta biasanya disertai dengan niat tulus untuk menjaga, bukan hanya sekedar menikmati saja. Sementara penikmat lebih cenderung hanya menikmati saja, tanpa ada rasa memiliki yang dapat menumbuhkan niat untuk menjaga.

Begitu juga dengan penikmat dan pencinta alam. Keduanya hampir memiliki makna yang serupa, hanya saja pecinta alam jauh lebih beretika jika dibandingkan dengan penikmat alam.

Bukan hanya gunung, namun berlaku menyeluruh terhadap pesona alam lainnya. Seperti air terjun, sungai, bahkan hutan sekali pun telah ternodai oleh kebiasaan yang tidak bersahabat dengan alam.

Pecinta cenderung menjaga kelestarian alam agar tetap terjaga dan tidak pernah mencemari alam dengan hal apapun. Sementara penikmat alam sering kali tidak peduli dengan kelestarian alam, dan yang ada dalam pikirannya hanyalah menikmati saja.

Dan yang berkembang saat ini adalah eranya penikmat alam. Mereka menguasai setiap tempat-tempat indah walaupun terkadang sulit untuk dicapai, mereka hanya menikmati tanpa peduli terhadap kelestarian alam.

Sementara itu pecinta alam hanya tinggal sedikit, itu pun cenderung terbawa arus oleh kaum penikmat alam. Mereka pun ikut-ikutan merusak alam dengan cara-cara sederhana, dan mengancam kelestarian alam itu.

Ironinya, yang merusak keindahan alam itu cenderung dilakukan oleh kaum terdidik pula, seperti mahasiswa misalnya. Mereka berbondong-bondong menikmati indahnya pesona alam, namun lupa untuk menjaga kelestarian alam tersebut agar tetap indah dikemudian hari.

Pemandangan dari puncak Gunung Kerinci (Foto/Antoni Putra)

Kita ambil contoh beberapa gunung yang terdapat di Sumatera Barat. Bukti nyata bahwa yang suka merusak alam itu adalah mahasiswa, kaum intelektual penerus bangsa. Kita lihat gunung-gunung itu bertebaran sampah dimana-mana. Sumber air dicemari, setiap sudut jalan dipenuhi sampah plastik akibat pendaki tidak lagi peduli akan kelestarian alam.

Mengapa saya bilang yang suka merusak alam itu adalah kaum terdidik? Jawabannya pun sederhana, karena bukti nyata pun berbicara demikian. Lihat saja gunung-gunung yang menjadi tempat favorit mahasiswa, seperti Gunung Merapi dan Gunung talang. Sampah bertebaran dimana-mana, bahkan bisa dikatakan dua gunung tersebut keindahannya sudah mulai tertutupi oleh sampah.

Sementara itu, gunung yang jauh dari jangkauan mahasiswa, dalam artian jarang didaki mahasiswa. Gunung-gunung tersebut kebersihannya tetap terjaga. Seperti halnya Gunung Talamau dan Gunung Kerinci, kebersihannya tetap terjaga. Hal ini terjadi karena dua gunung tersebut jarang didaki oleh mahasiswa, sementara gunung Talang dan Merapi selalu saja ramai didaki oleh mahasiswa.

Untuk itu, sebelum terlambat, marilah kita bersama-sama menjaga kelestarian alam. Agar dikemudian hari alam tetap indah dan dapat pula dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

Hal ini tentu menimbulkan sebuah tanya, mengapa mahasiswa yang seharusnya menjadi contoh karena ilmu pengetahuannya malah bersikap tidak peduli terhadap alam. Bahkan mahasiswa yang mengaku menjadi pecinta alam sekali pun jarang ada yang peduli terhadap permasalahan mendasar dalam persoalan menjaga alam.

Bukan hanya gunung, namun berlaku menyeluruh terhadap pesona alam lainnya. Seperti air terjun, sungai, bahkan hutan sekali pun telah ternodai oleh kebiasaan yang tidak bersahabat dengan alam.

Gunung dipenuhi sampah, sungai jadi tempat pembuangan sampah, air terjun keindahannya tercemari oleh sampah, bahkan hutan juga tidak luput dari perusakan. Lalu masihkah ada yang mengaku menjadi seorang pecinta alam bila tidak ada upaya yang dilakukan untuk mencegah kerusakan alam yang semakin parah?

Saya rasa jawabannya tidak. Sebab seorang pecinta alam tidak akan pernah rela melihat alam dicemari. Seorang pencinta alam akan berusaha mencegah setiap perusakan, bahkan seorang pecinta alam tidak akan pernah berhenti memberi contoh dan mengingatkan sesama untuk menjaga kelestarian alam agar tetap indah dikemudian hari.

Jika tidak mampu berbuat demikian, maka sebaiknya ganti saja label pecinta alam dengan penikmat alam. Sebab hanya penikmat alamlah yang senantiasa menikmati keindahan alam tanpa memperhatikan kelestarian alam.

Patut kita sadari pula, menjaga alam itu bukan pula hanya menjadi tanggung jawab orang-orang pecinta alam, namun merupakan tanggung jawab bersama. Kita harus sadar tentang pentingnya alam. Dapat kita bayangkan jika alam selalu saja dirusak, maka dikemudian hari anak cucu kita tidak akan bisa menikmati indahnya gunung, air terjun, nikmatnya menjelajah hutan, dan merasakan bagaimana menantangnya arung jeram.

Sebab bila gunung telah tercemar, gunung mana lagi yang hendak didaki untuk menikmati keindahannya. lalu jika sungai telah tercemari, maka dimana lagi kita akan melakukan arung jeram. Atau mungkin suatu saat nanti semua akan beralih kepada panorama buatan. Seperti halnya jika ingin arung jeram, maka buat kolom berenang yang dilengkapi tempat berseluncur, atau ingin mendaki gunung, maka dibuatlah bukit-bukit yang menyerupai gunung.

Untuk itu, sebelum terlambat, marilah kita bersama-sama menjaga kelestarian alam. Agar dikemudian hari alam tetap indah dan dapat pula dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

Terpopuler

Add New Playlist