Pasar Van Der Capellen, Destinasi Wisata Baru Tanah Datar

Belanja Pakai Koin, Jual Suasana dan Makanan Tempo Dulu

Diluncurkan 30 September 2018, Pasar Van Der Capellen berhasil menjadi destinasi wisata baru di Tanah Datar. Suasana pasar tempo dulu dengan alat tukar koin dan makanan khas Tanah Datar mencuri perhatian wisatawan lokal, nusantara hingga internasional.

Minggu (1/3/2020) pagi itu, Kota Batusangkar, ibu kota Kabupaten Tanah Datar belum terlalu ramai. Namun, di alun-alun kota banyak orang berolahraga. Di lokasi yang dinamakan Lapangan Cindua Mato ada yang senam, ada yang jogging, main basket dan sekadar berkumpul-kumpul.

Tak jauh dari Lapangan Cindua Mato, tepatnya dekat Lapangan Gumarang ada Benteng Van Der Capellen. Ramai orang berpakaian tradisional yang berjalan ke sana. Laki-laki memakai baju koko, celana batik dan memakai kopiah. Sedangkan yang perempuan memakai baju kuruang dan tikuluak (penutup kepala khas perempuan Minangkabau).

Mereka akan berkunjung ke Pasar Van Der Capellen, sebuah destinasi wisata baru yang terletak di halaman Benteng Van Der Capellen. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup alunan musik tradisional Minangkabau, seperti talempong dan bansi.

Setiba di halaman benteng, anggota rombongan bercengkerama sambil menyantap kuliner di bawah payung-payung pasar dan pondok beratap rumbia. Sebagian pengunjung lainnya bermain permainan tradisional seperti enggrang, tangkelek panjang, hingga main congklak. Ada juga yang asyik berfoto di spot selfie yang ada di sana.

Rombogan itu adalah alumni SMAN 2 Bukittinggi yang sedang melaksanakan kegiatan temu alumni bertajuk “Basobok Baliak Konco” (Babako) Angkatan ’90 SMAN 2 Bukittinggi.

Erison J Kambari, salah seorang anggota rombongan mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Pasar Van Der Capellen. Akhir tahun 2019 dia juga membawa rombongan fotografer dalam acara Silaturahmi Fotografer Ranah Minang ke Pasar Van Der Capellen.

Pria yang akrab dipanggil Da Son ini memaparkan, rombongan alumni SMAN 2 Bukittinggi ini tertarik berkunjung ke Pasar Van Der Capellen melihat postingan-postingan orang di sosial media.

“Kawan-kawan tertarik ke Pasar Van Der Capellen karena tertarik dari foto-foto yang mereka nikmati di media sosial,” ujar Da Son.

Memang, hampir setiap Minggu Pasar Van Der Capellen ramai dikunjungi wisatawan. Baik rombongan tour, acara gathering, mau pun keluarga yang sedang liburan.

Reni Refnidar, salah seorang pengunjung asal Bogor sengaja datang ke Pasar Van Der Capellen karena ingin menikmati makanan tradisional yang menjadi ciri khas destinasi digital yang didirikan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Tanah Datar ini.

“Saya lihat di Instagram, banyak makanan-makanan tradisional khas Minang yang dijual di pasar ini. Makanya ketika pulang kampung, saya sengaja mampir ke sini,” ujar perantau Bogor asal Lintau, Tanah Datar ini.

Pasar Van Der Capellen memang termasuk salah satu destinasi baru di Tanah Datar. Sejatinya, kawasan ini adalah halaman kantor Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Tanah Datar.

Namun, ternyata kantor ini memiliki sejarah panjang untuk Kota Batusangkar dan Tanah Datar. Betapa tidak, lokasi bernama Benteng Van Der Capellen ini sudah ada sejak tahun 1824.

Berbeda dengan Fort de Kock yang menjadi salah satu wisata andalan di Kota Bukittinggi, benteng Fort Van der Capellen dulunya tidak ramai dikunjungi wisatawan.

Diduga, karena sejak dulu dijadikan kantor, makanya benteng itu tidak begitu mengundang perhatian wisatawan. Apalagi di Tanah Datar sudah ada Istano Basa Pagaruyung yang menjadi magnet wisatawan.

Sebelum menjadi Kantor Disparpora Tanah Datar, Benteng Van Der Capellen pernah menjadi markas Badan Keamanan Rakyat (TKR) dari tahun 1943-1945. Pernah juga menjadi Mapolres Tanah Datar hingga tahun 2000.

Praktis, Benteng Van Der Capellen lebih dikenal sebagai Mapolres dan Kantor Disparpora Tanah Datar dibanding menjadi objek wisata.

Melihat peluang itu, anak-anak muda Tanah Datar yang tergabung dalam Genpi Tanah Datar pun menyulap halaman benteng ini menjadi destinasi digital yang diberi nama Pasar Van Der Capellen.

Pasar ini mengusung konsep pasar tempo dulu. Seluruh pengurus wajib memakai pakaian Minang saisuak, begitu juga dengan pedagang. Di sisi lain, dagangan yang dijual juga harus makanan tradisional.

“Pengurus juga menyediakan permainan tradisional di lokasi pasar,” ujar Juragan Pasar Van Der Capellen, Ade Firman.

Pria yang sehari-hari bertugas di Gedung Promosi Tanah Datar ini menceritakan, di pasar ini pengunjung bisa mendapatkan makanan-makanan dan minuman yang sudah jarang ditemui di pasaran.

Misalnya, ada nasi padeh, makanan khas Pariangan, tumbuang ubi, pisang kapik, kawa daun, aia aka, katupek Pitalah, dan makanan khas lainnya. “Juga ada kopi dan teh khas Tanah Datar,” ulas bapak dua anak ini.

Di sisi lain, kata Ade, Pasar Van Der Capellen memiliki daya tarik lainnya. Dimana dalam bertransaksi tidak memakai alat tukar uang, melainkan koin khusus Capellen. Koin ini bisa didapatkan pengunjung dengan menukarkannya di stan panitia. Satu koin dibeli dengan harga Rp2.500.

“Jadi harga makanan di PVC (Pasar Van Der Capellen, red) adalah satu koin hingga delapan koin,” ujarnya.

Menurut Ade, selain menjadi destinasi wisata baru di Tanah Datar, misi dari pasar ini adalah pelestarian kebudayaan dan mengokohkan tagline Batusangkar sebagai Kota Budaya.

Untuk mewujudkan itu, setiap minggu pengurus menghadirkan atraksi kesenian dan kebudayaan khas Minangkabau. Seperti silek, randai, tari, musik tradisional, dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.

“Kita selalu posting suasana tempo dulu yang ada di pasar di Instagram. Sekarang, pengunjung yang datang sengaja berpakaian tradisional datang ke sini,” ulas seniman mural Tanah Datar ini.

Pasar Van Der Capellen. Batusangkar: Baca Padangkita.com
Anak-anak muda datang ke Pasar Van Der Capellen memakai pakaian tradisional Minangkabau.
Foto : Dokumen Pasar Van Der Capellen

Kepala Dinas Pariwisata Tanah Datar, Abdul Hakim memaparkan, sejak ada Pasar Van Der Capellen, kawasan benteng senantiasa ramai dikunjungi wisatawan. Tidak hanya dari dalam negeri, namun juga wisatawan mancanegara.

“Wisatawan mancanegara datang dari Malaysia, Belanda, hingga Jerman,” ulas Abdul Hakim.

Kata Abdul Hakim, keberadaan Pasar Van Der Capellen berhasil mengangkat taraf hidup masyarakat setempat dan berhasil memperkenalkan kuliner khas Tanah Datar ke wisatawan.

“Sekarang, wisatawan yang sampai di Batusangkar pada Minggu pagi pasti menyempatkan diri berkunjung ke sini. Bahkan sudah banyak yang sengaja menginap di hotel-hotel yang ada di Batusangkar agar bisa berkunjung ke pasar ini pagi harinya,” ulas mantan Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Tanah Datar ini.

Kepala Bidang Pariwisata Disparpora Tanah Datar Efrison mengatakan, meski terbilang destinasi baru, Pasar Van Der Capellen menjadi salah satu destinasi favorit Tanah Datar saat ini. Bahkan, tahun 2019 berhasil menyabet penghargaan sebagai salah satu Destinasi Kreatif Terpopuler dalam ajang Anugerah Pariwisata Indonesia (API Award).

Efrison mengatakan, saat ini Pasar Van Der Capellen buka setiap Minggu pukul 7.00-12.00 WIB. Namun jika ingin datang, dia rekomendasikan datang pukul 9.00 WIB. Sebab pukul 10.00 WIB makanan tradisional sudah banyak yang ludes terjual.

Karena banyaknya permintaan agar buka pada malam hari, maka mulai Februari 2020 pasar buka setiap Sabtu malam (malam minggu). Tahap awal, pengurus akan buka malam minggu pertama setiap bulan.

“Konsepnya sedikit berbeda dengan pasar pagi. Pakaian dan kesenian tradisional tetap, namun makanan yang akan dijual adalah makanan nusantara. Untuk bulan Maret, pasar malam minggu akan buka tanggal 7 Maret dan tanggal 8 Maret, pasar pagi tetap buka,” ujar Efrison. (hijrah adi sukrial)

Terpopuler