Pariwisata dan Budaya dari Perspektif Islam, Ini Pendapat Ketua PP Muhammadiyah   

Penulis: Redaksi

Padang, Padangkita.com – Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat  (UMSB) menggelar Seminar Pra-Muktamar ke-48 Muhammadiyah – Aisyiyah, Kamis (23/6) secara hybrid.

Tampil sebagai pembicara Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir. Adapun yang menjadi tema bahasan Haedar adalah soal pariwisata dan budaya dalam perspektif keagamaan, khususnya Islam.

Bahasan Haedar ini menjadi sangat relevan dengan Sumbar yang memang tengah gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata dan budaya. Bahkan wisata yang di dalamnya termasuk budaya dipercaya menjadi sektor yang paling diandalkan meningkatkan perekonomian.

Namun, wisata yang dipromosikan Sumbar adalah wisata halal yang tetap berlandaskan pada filosofi Minangkabau, yakni ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK)’.

Nah, Haedar berpendapat, pariwisata dan budaya dalam perspektif keagamaan sering terdapat kontroversi, sehingga perlu dituntaskan, khususnya terkait aspek yang legal dan ilegal dari pariwisata dan budaya dari perspektif Agama Islam.

Melansir Muhammadiyah.or.id, menurut Haedar, pariwisata dan budaya mesti diletakkan sebagai bagian dari muamalah duniawiyah, bukan diletakkan di wilayah akidah. Sebab, kata dia, jika salah meletakkan, akan berakibat munculnya masalah teologis.

Lebih lanjut, Haedar berpendapat jika meletakkan pariwisata dan budaya di wilayah muamalah duniawiyah akan mendapatkan banyak kelonggaran. Sebab, terdapat aspek yang banyak bolehnya.

Oleh karena itu Haedar menyayangkan, karena kuatnya islamisme menjadikan urusan-urusan muamalah duniawiyah dibuat rigid dengan syariat.

Padahal, Islam dari kacamata Haedar dipercaya memiliki landasan kuat dalam urusan muamalah, termasuk urusan pariwisata dan budaya. Sebab, lanjut dia, dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menerangkan supaya manusia menjelajah bumi, di mana artinya menjelajah tersebut ada dimensi melihat keindahan dan itu adalah pariwisata.

Namun begitu, Haedar mengingatkan, menjelajah untuk melihat keindahan bagi muslim tidak boleh melahirkan euforia berlebihan. Tetapi justru harus melahirkan syukur atas nikmat yang dihamparkan tersebut. Berwisata memiliki dimensi illahi yang membangkitkan dan memicu rasa syukur atas nikmat.

“Ada tasyakur bi ni’mah, kemudian di dalamnya ada membuat hati, pikiran kita juga bahagia, tenang. Lebih jauh lagi melahirkan pikiran kita untuk bagaimana memakmurkan alam, mengelola alam itu,” ungkap Haedar.

Kreasi dan inovasi untuk pariwisata di sisi lain, kata Haedar, bagi manusia adalah memerankan fungsi sebagai khalifah fil ardh. Sebagai pemimpin bumi, manusia boleh mengelolanya dengan motif ekonomi, tapi juga harus dibarengi dengan menjaga, merawat, dan melestarikan alam sebagai amanah yang harus dijaga.

“Orang Islam itu harus inovatif, kreatif, bahkan juga harus produktif. Karena kita hidup di dunia, dan akhirat itu hanya bisa kita lewati (setelah) melewati dunia. Maka disebut ad dunya mazro’atul maghfirah,” ucapnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, berkreasi melalui karya wisata, juga harus dilakukan oleh umat Islam. Namun, dengan selalu mengindahkan dunia, tidak merusaknya dan terus merawatnya.

Baca juga: Wisata Halal di Pesisir Selatan Tinggal Jalan, Sudah Ada Perda Provinsi yang Mengatur

Peran pemimpin bumi harus dijalankan oleh manusia secara positif melalui amal-amal kebaikan dalam bentuk apapun, termasuk berkreasi wisata yang menyenangkan orang dan membuka lowongan kerja. [*/pkt]

Terpopuler

Add New Playlist