Pakar Pariwisata Reni Yuliviona Rancang Aplikasi Desa Wisata Bahari Sumbar

Penulis: Isran Bastian

Padang, Padangkita.com – Pakar pariwisata Sumatra Barat (Sumbar) dari Universitas Bung Hatta, Reni Yuliviona PH.d, sosialisasikan Aplikasi Desa Wisata Bahari kepada Dinas Pariwisata Sumbar, Selasa (29/11/2022).

Aplikasi ini dibuat Reni bersama tim dari UBH untuk memajukan dunia pariwisata bahari di Sumbar. Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Kadis Pariwisata Luhur Budianda, Prof Amran Rasli dari INTI University Malaysia, serta Dr Akmal akademisi Universitas Bung Hatta.

Reni Yuliviona menjelaskan, aplikasi pariwisata yang ia buat berkat memperoleh dana hibah untuk melakukan riset dari Kemendikbud Ristek sejak tahun 2019 hingga tahun 2022.

“Pada tahun ini, aplikasi yang dibuat fokus pada destinasi wisata bahari,” terang Reni kepada Padangkita.com, Kamis (1/12/2022).

Sosialisasi aplikasi tersebut kata Reni, guna mensinergikan aplikasi yang dibuat dengan kebutuhan konten pariwisata Sumbar. Saran dan masukan yang disampaikan Dinas Pariwisata Sumbar, ditampung untuk diwujudkan dalam aplikasi yang sedang dirancang.

Dirinya menyebutkan, setelah melakukan diskusi dengan Kadis Pariwisata Sumbar, destinasi wisata bahari yang masuk dalam aplikasi tersebut berada di pesisir pantai Ranah Minang yang berada di tujuh daerah, terdiri dari Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Mentawai.

“Aplikasi yang kita sosialisasikan baru aplikasi dasar. Semula kita hanya merencanakan memasukkan lima daerah saja di aplikasi ini. Namun dari usulan Pak Luhur Budianda, kita tambah jadi tujuh. Terus juga konten konten wisata saran dari Pak Luhur beserta jajaran, akan kita masukkan,” tuturnya.

Saat ini terang Reni, aplikasi yang ia buat bersama tim sedang dalam proses paten di Kemenkumham. Aplikasi tersebut juga sudah diseminasikan di seminar internasional di Malaysia melalui daring. Ada tahapan lainnya juga yang mesti dilalui, agar aplikasi ini tidak terkendala nantinya jika sudah dioperasionalkan.

“Aplikasi ini juga sudah bisa di unduh di play store handphone android. Nantinya juga bisa di unduh di aplikasi app store pada handphone iphone. Apabila aplikasi ini sudah ready, akan kita berikan kepada Dinas Pariwisata Sumbar,” tukasnya.

Sementara itu Kadis Pariwisata Sumbar Luhur Budianda menyambut baik dan mendukung sekali pembuatan aplikasi Desa Wisata Bahari Sumbar. Diharapkan nantinya, dengan adanya aplikasi ini berguna untuk peningkatan jumlah kunjungan wisata dan peningkatan ekonomi daerah pesisir.

Apalagi sebut Luhur, indikator kinerja Dinas Pariwisata Sumbar adalah bagaimana meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumbar. Dengan aplikasi ini, mempermudah wisatawan mencari tujuan wisata yang diinginkan. Sehingga wisatawan bisa spend of stay lebih lama dan spend of money dengan banyak.

Ia menyadari, wisata bahari Sumbar masih jauh tertinggal dari daerah lain. Untuk itu, tahun depan pihaknya mulai melakukan pemetaan potensi bahari atas laut dan bawah laut. Selain itu juga menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) maupun Badan Usaha Milik Nagari (Bumnag), sehingga potensi pariwisata terkelola dengan baik.

“Kekurangan dan kelemahan pariwisata Sumbar berada di SDM nya. Agar SDM pariwisata bisa meningkat, tahun ini saja sudah kita lakukan bimbingan teknis (bimtek) kepada 3800 anggota Pokdarwis. Mudah mudahan setelah pembekalan kita berikan, merubah paradigma mereka, bahwa mereka memang butuh lokasi wisata dikelola dengan baik. Supaya pendapatan mereka juga meningkat,” tuturnya.

Luhur Budianda menargetkan pada tahun 2024 nanti, dari 254 desa wisata di Sumbar dibagi dalam empat kategori, 4 desa wisata bisa dikelola secara mandiri pada tahun 2024 mendatang. Saat ini baru 22 desa wisata kategori berkembang, sisanya baru kategori rintisan.

Baca Juga: Gelar Seminar 4 Negara, Unhatta Publish Belasan Jurnal Ilmiah

“Ada empat kategori kita kelompokkan kepada seluruh desa wisata. Kategori pertama rintisan, kemudian berkembang, ketiga kategori maju, serta terakhir kategori mandiri. Desa wisata ini sulit berkembang, karena banyak kendala dan keterbatasan. Untuk menuju kategori mandiri memang butuh waktu yang cukup lama,” tutupnya. [isr]

 

*) BACA informasi pilihan lainnya dari Padangkita di Google News

Terpopuler

No Content Available

Add New Playlist